Berita Aceh Tamiang

Begini Kata Petani Sawit di Aceh Tamiang Soal Program Replanting

Hendra, warga lainnya mengatakan dampak replanting yang tidak berjalan sesuai rencana ini telah menyebabkan ayah mertuanya kehilangan penghasilan.

Begini Kata Petani Sawit di Aceh Tamiang Soal Program Replanting
Foto LembAH
Kondisi areal perkebunan sawit milik petani di Alurselalas, Karangbaru, Aceh Tamiang sudah kembali ditumbuhi tanaman liar dampak dari belum didistribusikannya bibit sawit dalam program replanting. 

Hendra, warga lainnya mengatakan dampak replanting yang tidak berjalan sesuai rencana ini telah menyebabkan ayah mertuanya kehilangan penghasilan.  

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Sebagian petani sawit di Aceh Tamiang mengaku sudah tidak tertarik dengan peremajaan sawit rakyat (PSR) dan menilainya sebagai program abal-abal. 

Bahrani, petani yang mengikutsertakan dua hektare lahannya untuk peremajaan sawit mengaku kecewa karena sudah satu tahun mengikuti tahapan ini, lahan miliknya di Kampung Sunting, Bandarpusaka, Aceh Tamiang sama sekali belum tersentuh. 

"Jangankan bibit, tanaman lama pun belum ditebang," kata dia, Kamis (10/10/2019). 

 Dia pun menyebut program PSR abal-abal karena tidak didukung persiapan yang matang. 

Baca: SDN 2 Banda Sakti Lhokseumawe Juara Satu Tingkat Aceh Lomba Sekolah Sehat

Baca: RSUD Nagan Raya akan Tambah 10 Dokter Spesialis

Baca: Nelayan Aceh Timur yang Meninggal di Myanmar Ternyata Mantan Kombatan GAM

"Katanya bibit tidak ada, makanya banyak kebun belum dikerjai. Inikan namanya abal-abal. Kok bisa bibit tidak ada," ucapnya. 

Pria yang sempat menjabat Camat Bandarpusaka ini juga keberatan dengan sistem keuangan yang dikontrol koperasi selaku pengelola replanting.

Tak satu pun petani yang ikut program replanting memegang buku rekening tabungan. 

"Sejak awal saya tidak tertarik. Tapi penyuluh datang terus merayu. Orang bank pun datang ke rumah pas magrib minta saya teken rekening. Lucunya setelah itu senyap, tidak ada informasi," bebernya. 

Hendra, warga lainnya mengatakan dampak replanting yang tidak berjalan sesuai rencana ini telah menyebabkan ayah mertuanya kehilangan penghasilan. 

Sebelum ikut program PSR, ayah mertuanya hidup dari hasil empat hektare perkebunan sawit. Namun ketika tanaman itu sudah ditebang, progres PSR sama sekali tidak ada.  

"Mutlak hari ini tidak ada penghasilan karena semua sawit sudah ditebang. Rencana menanam pajali dari Dinas Pertanian juga tidak berjalan," kata Hendra. (*)

Penulis: Rahmad Wiguna
Editor: Nur Nihayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved