Eropa Tolak Kopi Arabika Gayo, Mengandung Racun Rumput

Nasib kopi arabika Gayo mulai mencemaskan seiring dengan adanya penolakan dari sejumlah pembeli di beberapa

Eropa Tolak Kopi Arabika Gayo, Mengandung Racun Rumput
IST
RAHMAH, Ketua Koperasi Ketiara 

TAKENGON - Nasib kopi arabika Gayo mulai mencemaskan seiring dengan adanya penolakan dari sejumlah pembeli di beberapa negara. Para pembeli dari Eropa seperti Jerman, Inggris, dan Perancis telah membatalkan kontrak pembelian dengan beberapa koperasi yang menjadi eksportir komoditas unggulan asal Dataran Tinggi Gayo (DTG) itu.

Pasalnya, hasil penelitian laboratorium internasional, ada temuan kopi arabika Gayo telah terkontaminasi dan mengandung zat kimia jenis glyphosate yang berasal dari obat semprot racun rumput. “Sudah tiga kali kami kirim sample (contoh) kopi konvensional tanpa sertifikat ke beberapa buyer di Eropa. Semuanya ditolak, karena mengandung zat glyphosate,” kata Ketua Koperasi Ketiara, Rahmah, kepada Serambi, Kamis (10/10).

Menurut Rahmah, penolakan sampel kopi dari sejumlah pembeli menimbulkan kekhawatiran dari produsen serta eksportir kopi. Dengan kata lain, kopi arabika Gayo terancam tidak laku di beberapa negara, karena mengandung zat kimia. “Nasib kopi arabika Gayo ini harus menjadi perhatian kita semua, termasuk adanya perhatian dari pemerintah menyelamatkan,” sebut Rahmah.

Dia sebutkan, ditemukannya kandungan zat kimia di kopi arabika Gayo, faktor utamanya karena adanya perubahan pola pembersihan lahan di kalangan petani. Saat ini para petani cenderung menggunakan zat kimia berupa racun rumput untuk membersihkan lahan di pinggiran areal kebun bahkan hingga ke dalam kebun. “Justru pola perawatan seperti ini mempengaruhi kualitas kopi, karena ikut terkontaminasi zat tersebut,” jelasnya.

Dampak lain, sebut Rahmah, harga kopi arabika Gayo yang sebelumnya dikenal memiliki nilai tinggi di pasar internasional bisa terancam anjlok karena kualitasnya mulai menurun. “Persoalan ini sudah kami bahas dalam pertemuan pengurus 25 koperasi kopi arabika Gayo. Jadi, kita  harus segera mencari solusinya, terutama mengedukasi kembali para petani kopi tentang cara yang baik dalam membersihkan lahannya,” imbuh Rahmah.

Lebih jauh dijelaskan Rahmah, para petani kopi juga diharapkan dapat mengubah pola perawatan areal kebun kopi seperti masa lalu, tanpa menggunakan bahan-bahan yang mengandung zat kimia. “Termasuk juga untuk pupuk, bisa menggunakan kulit chery kopi yang disebar di tanaman kopi. Jangan menggunakan bahan-bahan yang mengganggu kualitas kopi,” katanya. Dikatakan Rahmah, pihaknya sudah secara intens memberikan pemahaman kepada para petani kopi, khususnya bagi anggota Koperasi Ketiara agar bisa menghindari penggunaan racun rumput. Racun ini mempengaruhi kualitas kopi. “Setiap ada pertemuan dengan petani, kami sudah sosialisasikan agar tidak menggunakan racun rumput. Ada sekitar 20 desa yang menjadi sasaran dalam sosialisasi ini,” pungkasnya. (my)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved