Reny Fharina

Dirikan Sanggar Saat Kuliah

Gadis kelahiran Takengon, 2 Maret 1996, ini memiliki nama lengkap Reny Fharina. Ia merupakan sosok di balik berdirinya Sanggar Linge

Dirikan Sanggar Saat Kuliah
IST
Reny Fharina

Gadis kelahiran Takengon, 2 Maret 1996, ini memiliki nama lengkap Reny Fharina. Ia merupakan sosok di balik berdirinya Sanggar Linge yang ikut meramaikan Car Free Day (CFD) di Jalan Tgk Daud Beureueh, Banda Aceh, Minggu (13/10/2019) pagi. Tari guel--salah satu khasanah budaya Gayo--yang ditampilkan sanggar pimpinan Reny ini membuat acara tersebut bertambah meriah.

Ketika mendirikan Sanggar Linge, Reny saat itu masih tercatat sebagai mahasiswi semester pertama pada Jurusan Seni Pertunjukan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Sanggar yang didirikan pada tahun 2014 itu menjadi wadah baginya untuk menyalurkan bakat seni yang sudah dimiliki sejak kecil. Dalam sanggar itu, teman-teman Reny yang menyukai seni juga ikut bergabung. "Reny kuliah di seni, jadi ini (sanggar-red) jadi tempat untuk menyalurkan bakat seni,” ujarnya.

Awalnya, gadis yang juga tertarik pada fotografi ini tidak punya niat untuk mendirikan sanggar. Namun, karena sering ditanyakan dari sanggar mana setiap tampil pada berbagai kegiatan, Reny kemudian berpikir untuk membuat sanggar milik sendiri. “Saat ditanya dari sanggar mana, misalnya Reny jawab dari sanggar A, kan beda aliran dengan Reny yang membawa tradisi Gayo. Karena itulah, berpikir untuk mendirikan sanggar sendiri,” ungkap Reni.

Ditanya mengapa ia namakan sanggarnya dengan ‘Sanggar Linge,’ Reny mengatakan dirinya memilih nama tersebut karena sesuai dengan nama kerajaan di tanah kelahirannya, Takengon, Aceh Tengah. Sanggar ini sekarang beranggotakan 38 orang yang terdiri atas penari, pemain musik, dan vokal. Rata-rata anggota sanggar tersebut merupakan mahasiswa dan alumni Jurusan Seni Pertunjukan Unsyiah. “Untuk penampilan di Car Free Day hari ini (kemarin-red), ada tujuh orang yang terdiri atas penari, pemusik, dan vokal,” ujarnya.

Meski usianya masih sangat muda, namun sanggar tersebut sudah berjalan hampir lima tahun dengan fokus menampilkan seni-seni dari Gayo. Kegiatan yang sudah dilaksanakan bersama Sanggar Linge, sebutnya, antara lain Gayo Art Women di AAC Dayan Dawood, pagelaran Seni Tutur Gayo di Taman Budaya Banda Aceh, workshop seni bersama aktris Ine Febrianti, menjadi volunteer seminar nasional budaya saman, serta menyusun laporan periodik saman bersama UNESCO dan Kemendikbud RI pada 26 September 2019.

“Tahun 2014, seni Gayo belum berkembang di sini (Banda Aceh) dan kalau ada masih tarian Aceh. Berawal dari situ, Reny pingin aja mengembangkan seni Gayo. Tidak hanya pada penampilan seni, tapi di acara nikahan juga biasanya banyak yang minta tari guel,” jelas Reny yang kini sudah menjadi alumnus Jurusan Seni Pertunjukan Unsyiah ini.

Tarian guel yang ditampilkan pada CFD tadi (kemarin-red), katakan Reny, berisi tentang kisah Sangeda, putra Raja Linge yang memiliki dua anak. Ceritanya, ia mengantarkan gajah putih ke putri Sultan Aceh yang ada di Banda Aceh, sebagai persembahan. Gajah putih itu merupakan jelmaan dari abang Sengeda yang sudah meninggal dunia. “Ini cerita rakyat yang berkembang di tanah Gayo tentang perjalanan gajah putih ke Banda Aceh kami tampilkan melalui tarian guel,” ujarnya.

Pada gelaran CFD itu, tari guel juga dikolaborasikan dengan tari seudati dari Sanggar Citkageunta. Penampilan kedua sanggar itu turut diabadikan oleh komunitas fotografer Aceh yang sedang menggelar Fotografer Net Street Hunting (FNSH) 2019 di lokasi acara tersebut.(mawaddatul husna)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved