Kamis, 14 Mei 2026

Kisah Profesor yang Bekerja di NASA, Pernah Kerja Bersihkan Toilet hingga Penjual Ganja

Ada cerita unik dan inspiratif kala Hakeem M. Oliseyi, seorang profesor Fisika dan Luar Angkasa dari Florida Institute of Technology

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
TRIBUN MEDAN/GITA TARIGAN
Hakeem M. Oliseyi saat menyambangi kota Medan sebelum acara Space Talk dimulai, di Clapham Collective Komp. Ruko Centre Point Medan Jalan Timor Blok G No. III/IV. 

SERAMBINEWS.COM - Ada cerita unik dan inspiratif kala Hakeem M. Oliseyi, seorang profesor Fisika dan Luar Angkasa dari Florida Institute of Technology sambangi Kota Medan, guna berbagi ilmu dan pengalaman selama bekerja di NASA dalam acara Space Talk.

Acara Space Talk yang diselenggarakan di Clapham Collective Komp. Ruko Centre Point Medan Jalan Timor Blok G No. III/IV tersebut, diprakarsai oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat guna melaksanakan speaker program untuk merayakan 70 tahun hubungan diplomatik Amerika dan Indonesia.

Hakeem dihadapan ratusan warga Medan bercerita bahwa apa yang Ia dapat saat ini, melalui banyak proses yang cukup panjang.

Pria kelahiran New Orleans ini, sejak kecil kerap berpindah ke negara bagian yang berbeda di sepanjang perbatasan selatan Amerika Serikat setiap tahun.

Hal tersebut dikarenakan sejak berumur empat tahun Ibu dan Ayahnya bercerai, hingga Ia dan ibunya kerap berpindah-pindah.

"Saat ayah saya muda, alkohol itu ilegal sehingga kami sekeluarga membuat alkohol untuk dijual.

Selain itu kami punya peternakan dan diantara duri-duri tanaman, ayah saya menanam ganja. Dan di New Orleans Ia akan mengimpor ganja, dan sejak usia 9 tahun saya sudah bekerja untuk bisnis ayah saya," katanya.

Setelah itu Ia masuk angkatan laut tahun 1984 hingga 1986 di beberapa tahun pertama Ia merasa sangat beruntung karena saat itu ada program yang setiap pria atau wanita yang terpilih, mereka bisa dipromosikan menjadi staf tetap.

"Program tersebut sangat berat, karena selain melakukan pekerjaan yang berat sebagai angkatan laut, kami juga punya harus punya pendidikan akademik, dan disanalah pertama kali saya mengenal kata aljabar.

Saya kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi.

Tapi karena banyak kebutuhan saat itu saya tidak punya uang. Kemudian saya menjalankan bisnis ayah saya (menjual ganja)," katanya.

Saat itu Ia mengaku merasa sangat buruk, sebab di tahun 1986 di Amerika, pengedar ganja masih ilegal dan apabila kedapatan bisa ditembak, Ia mengungkapkan tingkat pembunuhan juga tinggi sekali kala itu.

Hingga suatu hari Ia memutuskan berhenti kuliah saat Ia hampir ditembak.

"Karena tidak ada uang, saya memutuskan berhenti kuliah dan bekerja sebagai pembersih toilet. Dan karena gaji saya rendah, saya terpaksa memakan sisa makanan orang lain.

Suatu hari saya lihat pengangkat koper dipecat, dan setiap kali mereka membantu mengangkat koper, diberi tip.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved