Aceh International Percussion
Kulit Kambing Betina Dewasa Lebih Tahan untuk Kulit Rapai, Begini Cara Membuatnya
Di Aceh International Percussion, ada stand pembuatan rapai yang dipamerkan Junaidi Abdullah (37) warga Desa Blang Weu, Lhokseumawe.
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Taufik Hidayat
Laporan Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM - Rapai (percusi) adalah alat musik tradisional Aceh sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan berkembang sampai sekarang dan digelar Aceh Internasional Percussion di stadion Cot Gapu Bireuen sejak dua hari lalu.
Di antaranya sejumlah stand ada stand atau tempat pembuatan rapai yang lengkap diusung Junaidi Abdullah (37) warga Desa Blang Weu, Lhokseumawe.
Junaidi yang didampingi sejumlah anggotanya kepada Serambinews.com, Senin (14/10/2019) mengatakan, kulit kambing betina lebih baik yang kambingnya sudah tua sangat bagus untuk digunakan sebagai rapai dan tahan lama.
Menyangkut proses pembuatan, awalnya mencari bani kayu (pangkal- atau utom kayu) yang besar dan bulat.
Dari berbagai jenis kayu, jenis kayu mereubo dan tualang sangat bagus dibandingkan dengan kayu jenis lain.
Kayu dipotong bulat seperti ban mobil kemudian dibuang bagian tengah sehingga menjadi seperti ban mobil, selanjutnya dirapikan seindah mungkin dan berkilat.
“Sekarang lebih mudah pekerjaannya karena sudah ada mesin ketam yang lengkap,” ujarnya.
Setelah kayu dibulatkan atau sudah seperti ban mobil, maka dikeringkan, kemudian mencari kulit kambing yang cocok.
Kulit kambing harus dikeringkan minimal empat bulan. Kayu lingkaran rapai diletakkan pada patron yang telah dirancang sedemikian rupa serta peralatan pendukung lainnya, kayu dan kulit kambing dimasukkan dalam patron sesuai keinginan.
“Rapai besar patronnya juga besar, begitu juga untuk rapai ukuran kecil patronnya juga kecil,” ujarnya.
Kemudian di lingkaran sekeliling rapai dipasang bambu yang telah disiapkan sebagai pengikat kulit di kayu yang telah dibulatkan.
Disebutkan, pekerjaan membuat rapai sepintas memang sederhana, namun membutuhkan keahlian, kesabaran dan ketekukan sehingga menjadi rapai yang bagus, bersuara nyaring dan tahan lama.
“Ada rapai yang sudah berusia 100 tahun masih bagus dan ada juga usis 10 tahun sudah rusak
tergantung cara menjaganya,” ujarnya.
Kebiasaan tidak bagus kata Junaidi, setelah menabuh rapai langsung dimasukkan dalam karung untuk disimpan tanpa dibersihkan, maka rapai tidak bertahan lama. Junaidi memberikan kiat, setiap tangan menabuh pasti ada keringat ditelapak tangan dan itu mendatangkan rasa asin menjadikan kulit rapai cepat koyak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rpaii.jpg)