Kakek Ini Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot, Sering Menahan Lapar, Hasil Kerjanya Tak Seberapa
Namun, sejak tahun 2018 hingga kini, ia tidak pernah lagi menerima bantuan apapun dari pemerintah.
Ia menceritakan, pada tahun 2017, ia sempat menerima bantuan uang sebesar Rp 500.000 dari pemerintah daerah.
Namun, sejak tahun 2018 hingga kini, ia tidak pernah lagi menerima bantuan apapun dari pemerintah.
Saat ditanya sejumlah awak media terkait harapannya kepada pemerintah, kakek Germanus hanya diam merunduk.
Ia tetap fokus memecahkan kenari untuk dijual
• Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah, Sudah Tiga Hari Berturut-turut Loyo
SERAMBINEWS.COM - Kakek Germanus (67), warga Dusun Gehak Reta, Desa Koting D, Kecamatan Koting, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, puluhan tahun hidup sebatang kara di gubuk tua.
Ia tinggal di gubuk yang berukuran 5x3 meter persegi.
Gubuk itu berlantai tanah, dinding pelupuh bambu, dan beratapkan seng.
Dinding gubuk itu sudah banyak berlubang.
Begitu pula dengan seng yang sudah lusuh dan berkarat.
Atap rumah itu sudah banyak lubang.
“Kalau hujan, saya cari tempat yang tidak bocor. Karena sebagian besar atap sudah rusak dan bocor,” ungkap Germanus kepada sejumlah wartawan di gubuknya, Selasa (15/10/2019).
• Densus 88 Geledah Sebuah Rumah, Ternyata Milik Seorang Nenek, Tim Penjinak Bom Temukan Bubuk Peledak
Di gubuk tua itu, Germanus hidup apa adanya.
Mulai dari perabotan rumah tangga yang sederhana hingga makan ala kadarnya.
Rumah dan isinya tampak semrawut.
Mirisnya, gubuk tua milik Germanus tidak dialiri listrik.
• Saat Istri Dibakar Oleh Suaminya, Putri Teriak Minta Tolong dengan Tubuh Penuh Asap
Di kala malam, ia hanya mengandalkan cahaya lampu pelita untuk menerangi rumah.
Sementara untuk kebutuhan air minum bersih dan makan, Germanus berharap dari belas kasih tetangga.
Untuk bertahan hidup, dia menjual hasil panen jambu mente dari kebunnya yang berjarak 1 kilometer dari tempat tinggalnya.
Hasilnya pun tak seberapa.
Jambu mente miliknya hanya berjumlah 4 pohon di kebun dan 3 pohon di halaman rumah.
Selain itu, ia juga mengumpulkan kenari dari warga sekitar yang jatuh untuk dijual.
• Guru Les Vokal Cabuli Pelajar SMP hingga Hamil 8 Bulan, Pelaku Sedang Sakit Saat Ditangkap
“Kalau musim mente, saya jual mente. Kalau tidak, saya pilih kenari milik warga sekitar yang jatuh dan saya kumpul untuk jual ke kota dengan harga Rp. 25.000 per kilogram.
Uang itu saya beli beras, minyak goreng, dan beli minyak tanah untuk kasih nyala lampu pelita,” cerita kakek Germanus.
Ia menuturkan, jika tak ada mente atau kenari, Germanus terpaksa menahan lapar dan berharap belas kasih dari tetangga.
“Saya tadi pagi sudah makan nasi dan minum kopi. Beras yang kemarin sudah habis, jadi siang ini saya belum makan. Tadi saya minta orang pergi jual mente, tetapi sampai sekarang belum pulang. Mungkin belum laku,” ungkap Germanus.
• Lupa Kosongkan Tempat Sampah, Guru Hukum Siswa Makan Sampah Sampai Habis, Korban Takut Melapor
“Jualan jambu mente hanya satu- dua kilo saja dalam satu minggu. Harganya Rp 18.000 per kilogram,” sambungnya sambil memecahkan kenari yang dikumpulkan untuk dijual.
Germanus menceritakan, pada tahun 2017, ia sempat menerima bantuan uang sebesar Rp 500.000 dari pemerintah daerah.
Namun, sejak tahun 2018 hingga kini, ia tidak pernah lagi menerima bantuan apapun dari pemerintah.
• Anies Baswedan Dijuluki Gubernur Rasa Presiden, Begini Tanggapannya
Saat ditanya sejumlah awak media terkait harapannya kepada pemerintah, kakek Germanus hanya diam merunduk.
Ia tetap fokus memecahkan kenari untuk dijual.
Untuk diketahui, kakek Germanus memiliki empat saudara.
Sejak dulu hingga kini, dia memilih hidup membujang.(Kontributor Maumere, Nansianus Taris)
• Nelayan Idi Selamatkan Pria Myanmar, Ikut Menangkap Ikan Selama 11 Hari
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: Kisah Kakek Germanus, Puluhan Tahun Hidup di Gubuk Reyot Tanpa Listrik, Makan dari Belas Kasih Tetangga