Sosok Inspiratif

Nikmah Sarkawi Konsen Lestarikan Tikar Khas Gayo 

Menurut Nikmah Sarkawi, keberadaan tikar khas Gayo, menjadi daya tarik tersendiri dari bagi tamu-tamu yang datang ke Kabupaten Bener Meriah.

Nikmah Sarkawi Konsen Lestarikan Tikar Khas Gayo 
SERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIA
Nikmah Sarkawi 
Laporan Budi Fatria | Bener Meriah
SERAMBINEWS.COM, REDELONG – Nikmah Sarkawi merupakan first lady yang memiliki visi brilian untuk Kabupaten Bener Meriah.
Sosok perempuan pendamping setia orang nomor satu di kabupaten penghasil kopi ini, memiliki gagasan sederhana.
Namun siapa sangka, bila ide yang dicetuskan untuk menjaga kelestarian budaya Gayo.
Konsen lestarikan tikar khas Gayo.
Kalimat itu yang pertama kali disampaikan Nikmah Sarkawi ketika disambangi oleh Serambinews.com, di Gedung Empu Beru, Kabupaten Bener Meriah, Kamis (24/10/2019).
Ibu lima anak ini, tampak begitu ramah.
Ia terlihat anggun dalam balutan baju kerawang Gayo berwarna biru dongker kombinasi putih.
Sebagai Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) dan Dekranasda Bener Meriah, Nikmah Sarkawi begitu berperan dalam membantu tugas-tugas sang suami yang menjabat sebagai nakhoda di Pemerintahan Kabupaten Bener Meriah.  
Salah satu dukungan terhadap sang suami Nikmah Sarkawi aktif di kegiatan Dekranasda.
Ia bersama timnya begitu getol dalam membina para pengrajin anyaman tikar khas Gayo.
“Baru satu bulan ini, kita melakukan pembinaan kerajinan menganyam tikar khas Gayo di Kecamatan Permata, Bener Meriah,” sebutnya.
Ia menambahakan, tikar khas Gayo ini, berbeda dengan tikar anyaman di daerah lain, di Nusantara.
Biasanya, anyaman tikar terbuat dari baku seperti mengkuang, daun pandan dan lainnya.
Namun untuk bahan baku tikar khas Gayo, hanya ada dan tumbuh di rawa-rawa wilayah Tengah Aceh.
“Untuk bahan anyaman tikar khas Gayo itu, terbuat dari kertan atau cike dalam bahasa Gayo. Cike adalah tanaman yang ukurannya lebih besar sedikit dari pipet atau sedotan. Tanaman ini, biasa hidup liar dan ada juga yang dibudidaya di kolam-kolam ikan,” ujar Ummi sapaan akrab Nikmah Sarkawi.
Munculnya inspirasi melestarikan tikar khas Gayo karena masyarakat serta generasi saat ini, perlahan sudah mulai meninggalkan penggunaan tikar yang dihasilkan dari anyaman kerajinan masyarakat Gayo. 
“Sekarang ini kita bangkitkan lagi budaya Gayo. Dengan cara kita lestarikan penggunaan tikar alas belintem (tikar khas Gayo) di acara-acara penting,” sebutnya.
Pelestarian tikar bahan baku kertan sudah mulai dilakukan di Kabupaten Bener Meriah.
Hal itu, dibuktikan dengan adanya setiap acara dekorasi yang ditampilkan harus bernuansa Gayo, apalagi bila menyambut hadirnya tamu-tamu penting.
Salah satu bahan dekorasi, adalah tika khas Gayo.  
“Tikar alas belintem (tikar khas Gayo) mempunyai makna. Setiap ada acara seperti aqikah, pernikahan, dan acara-acara tertentu lainnya, kita gelarkan tikar tersebut, supaya tamu melihat budaya kita masih lestari,” ajaknya.
Menurut Nikmah Sarkawi, keberadaan tikar khas Gayo, menjadi daya tarik tersendiri dari bagi tamu-tamu yang datang ke Kabupaten Bener Meriah.
Sebagai contoh, pada saat kehadiran Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil ke Kabupaten Bener Meriah pada tahun lalu, justru alas belintem menjadi perhatian sang menteri.  
“Saya menyaksikan sendiri, beliau (menteri-red) tidak langsung duduk di atas tikar tersebut, melainkan melihat terlebih dulu tikar  yang terbentang di depanya. Padahal para tamu undangan lainnya sudah pada duduk di atas tikar,” ceritanya.
Pada saat ditemui Serambi, Nikmah Sarkawi didampingi Bupati Bener Meriah, Tgk H Sarkawi. Orang nomor satu di kabupaten yang berada di kaki Burni Telong ini, menimpali cerita sang isti. Menurut Sarkawi, tikar Gayo digunakan ketika ada tamu-tamu penting.
“Pak Sofyan Djalil, pernah memuji tikar khas Gayo. Bahkan dia meminta agar budaya tikar Gayo bisa dipertahankan sebagai indetitas budaya setempat,” jelasnya.
Tikar khas Gayo tersebut kini lagi kita kembangkan di Kecamatan Permata, karena untuk bahannya sangat mudah ditemukan di dataran tinggi Gayo.  
“Semasa kecil saya, orang tua kita masih melestarikan tikar ini, karena orang jaman dulu pinter dalam mengayam tikar khas Gayo,” sebutnya.
Sementara itu, untuk kerajinan tangan, Dekranas Bener Meriah bukan hanya memproduksi tikar khas Gayo saja.
Namun juga ada kerajinan berbagai model kerawang Gayo yang di produksi di Kecamatan Timang Gajah.
“Sekarang ini kita lagi konsen membuat bros dari kerawang Gayo untuk persiapan Rakerda yang diselenggarakan di Pidie Jaya dan Inacraft di Jakarta,” urainya.
Ini menjadi PR bagi TP-PKK dan Dekranasda Bener Meriah, kedepan setiap kegiatan di desa-desa, jagan lagi menggunakan tikar yang terbuat dari plastik, lebih indahnya mari kita kembalikan ke budaya tanah Gayo.
“Saya meapresiasi salah satu desa di Kecamatan Bener Kelipah, ketika menggelar salah satu acara, mereka mendekor tempat acara dengan khas Gayo, ternyata luar biasa indahanya, nampak budaya kita,” pujinya. (*)
Penulis: Budi Fatria
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved