Selasa, 5 Mei 2026

Liputan Eksklusif

Heboh Racun Rumput dalam Kopi Gayo

GLYPHOSATE atau glifosat sejak beberapa hari terakhir ini menjadi buah bibir. Sebelumnya, glifosat terdengar asing di telinga

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBI/BUDI FATRIA
Petani memetik kopi arabika Gayo di Kampung Jamur Ujung, Kecematan Wih Pesam, Bener Meriah, Rabu (23/10/2019). 

* Eksportir Minta Pemkab Segera Bersikap

Kabar penolakan kopi gayo oleh sejumlah buyer (pembeli) di Eropa menghebohkan jagat perkopian Aceh dan nasional. Pasalnya, alasan yang digunakan sebagai dasar penolakan sangat serius, dimana dari hasil penelitian laboratorium internasional, dalam sampel kopi arabika gayo ditemukan kandungan zat kimia jenis glifosat atau herbisida yang berasal dari racun rumput.

Kabar ini tentu sangat mencemaskan, karena menyangkut hajat hidup ratusan ribu warga di tiga kabupaten, yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Bermacam spekulasi pun mencuat. Ada yang menilai ini adalah strategi atau permainan pihak tertentu untuk menjatuhkan harga kopi arabika gayo dan ada yang menganggapnya sebagai angin lalu. Tapi tak sedikit pula yang menyikapinya secara positif, lalu mencari solusi demi kebaikan nasib kopi arabika gayo di masa mendatang.

Guna mengetahui secara detil persoalan yang sedang terjadi, wartawan Serambi Indonesia di Aceh Tengah dan Bener Meriah, Mahyadi Arias dan Budi Fatria mewawancarai sejumlah pihak yang berkaitan langsung dengan aktivitas ekpor impor salah satu kopi terbaik dunia ini. Hasil penelusuran ini dirangkum dalam liputan eksklusif yang diturunkan mulai hari ini.

GLYPHOSATE atau glifosat sejak beberapa hari terakhir ini menjadi buah bibir. Sebelumnya, glifosat terdengar asing di telinga warga petani kopi arabika gayo, meski sebagian di antaranya sudah sejak lama menggunakan zat kimia ini. Namun seiring dengan adanya kabar tentang kopi gayo mengandung zat kimia dari pengunaan racun rumput herbisida, glifosat menjadi semakin dikenal.

Glifosat adalah zat kimia yang terkandung di dalam herbisida untuk mematikan rumput. Biasanya, zat kimia ini digunakan untuk membersihkan ladang atau kebun kopi. Dengan menggunakan herbisida, proses pembersihan tidak membutuhkan tenaga dan waktu yang lama, cukup dengan penyemprotan dan dalam dua pekan rumput akan menguning dan mati.

Kemudahan itulah yang membuat sebagian petani tak lagi menggunakan cara lama untuk membersihkan kebun. Tetapi di balik kemudahan itu ternyata ada dampak besar yang ditimbulkan. Glisofat ternyata ikut diserap oleh tanaman kopi dan tersimpan di bijinya, dan ini telah terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan. Memang tidak semua kopi terpapar dengan zat kimia tersebut. Kopi yang terpapar hanya pada kopi-kopi yang ditanam secara konvensional, bukan kopi yang telah bersertifikat organik.

Kabar mengagetkan ini awalnya diungkapkan oleh Ketua Koperasi Kopi (Kopepi) Ketiara, Rahmah. Ia mengatakan, sampel (contoh) kopi konvensional yang dikirim ke Eropa ditolak oleh sejumlah pembeli karena dianggap mengandung zat kimia glifosat. Bukan hanya sekali, tetapi sudah tiga kali sampel dikirim dan semuanya ditolak.

Karena itulah ia kemudian ‘bernyanyi’ di media bahwa kopi arabika gayo konvensional telah terkontaminasi gliposat. Sontak pernyataannya itu menghebohkan jagat kopi nasional dan memunculkan beragam spekulasi. ‘Nyanyian’ Rahmah dianggap bisa mempengaruhi citra kopi arabika gayo di mata dunia.

“Yang perlu dicatat bahwa yang ditolak itu adalah sampel atau contoh kopi konvensional yang dikirim ke buyer di Eropa, bukan kopi besertifikat. Ada tiga kali kami kirim sampel kopi konvesional, dan semuanya ditolak karena mengandung gliposat,” ungkap Rahmah.

Sejauh ini, sambung dia, hanya buyer Eropa yang menolak sampel kopi arabika gayo. Sementara pembeli di Amerika dan negara-negara Asia lainnya, termasuk juga Australia, masih tetap membeli. “Untuk Amerika dan Asia, zat glifosat dalam kopi kita masih diterima karena kandungannya masih berada di bawah ambang batas toleransi, yaitu nol koma nol sekian. Sementara di Eropa ambang batasnya itu zero (nol),” kata Rahmah.

Karena itu, selaku eksportir kopi dirinya merasa khawatir. Apabila kondisi ini tidak segera disikapi, maka dikhawatirkan akan menurunkan kualitas kopi arabika gayo dan terancam tidak laku di beberapa negara. Dampak lainnya harga juga akan anjlok. “Nasib kopi arabika gayo ini harus menjadi perhatian kita semua, termasuk adanya perhatian dari pemerintah,” ujar Rahmah.

Informasi yang ia peroleh, faktor utama yang menyebabkan kontaminasi zat kimia dalam kopi adalah perubahan cara pembersihan lahan di kalangan petani. Saat ini, para petani cenderung menggunakan zat kimia berupa racun rumput untuk membersihkan lahan di pinggiran areal kebun, bahkan hingga ke dalam kebun.

“Persoalan ini sudah pernah kami bahas dalam pertemuan pengurus 25 koperasi kopi arabika gayo. Jadi kita harus segera mencari solusinya, terutama mengedukasi kembali para petani kopi tentang cara yang baik dalam membersihkan lahan,” imbuh Rahmah.

Untuk diketahui, Koperasi Ketiara yang dipimpin Rahmah setiap tahunnya mengekspor sebanyak sekitar 120 kontainer atau setara dengan 2.000 ton lebih. Negara tujuan eskpor meliputi Amerika, Eropa, Hongkong, Taiwan, Australia, Arab Saudi, dan lainnya. “Terbanyak ke Amerika, mencapai 70 persen, selebihnya ke berbagai negara lain. Sementara untuk ke Eropa, saat ini kita stop,” tambahnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved