Meliterasikan Kembali Syair Peuratéb Aneuk  

Pergeseran nilai kearifan lokal berdampak pada perkembangan teknologi sehingga mengubah cara hidup manusia dalam

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NAZAR
Dinas PMG Pidie menggelar lomba peurateb aneuk di depan Pendopo Pidie, Selasa (3/9/2019). 

Oleh : Muhammad Iqbal,  Dosen Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Lhokseumawe

Pergeseran nilai kearifan lokal berdampak pada perkembangan teknologi sehingga mengubah cara hidup manusia dalam tatanan sosial, ekonomi, psikologis hingga kehidupan secara totalitas. Sebagian masyarakat berpandangan bahwa perkembangan tersebut memberikan manfaat yang sangat besar.

Di sisi lain, kita digundahkan dengan kondisi masyarakat yang semakin memprihatinkan, misalnya perilaku sosial yang lambat laung menghilang; perilaku ekonomi sulit terkontrol, emosional bertambah pasif, dan respons agama mengarah radikal. Menghadapi tantangan ini masyarakat Aceh sebenarnya dapat membentengi diri dengan meliterasikan kembali syair peurateb aneuk.

Kata ratéb (Arab: rãtib) dalam bahasa arab berarti “berdiri teguh”, yaitu mempunyai pekerjaan tetap dan hal-hal yang diatur secara tegas. Ratéb yang dinamakan meunasib (pembacaan nasib) pada ratéb biasa dalam ratéb wanita diberi irama meucakri atau meuhadi. Di samping itu, menurut Rahmadi (1985:785), peuratéb bermakna perintah untuk dilakukan ratéb dengan menyanyikan lagu suci anak supaya tidak menangis.

Arti kata Aneuk dalam bahasa Indonesia adalah anak (laki-laki atau wanita). Peuratéb aneuk adalah kegiatan menidurkan anak yang diiringi syair peuratéb aneuk/doda idi sehingga anak terbuai dalam ayunan karena menikmati syair yang dilantunkan oleh seorang ibu dengan irama yang mendayu dan merdu. Sebagai daerah yang religius, masyarakat Aceh menggunakan teks peuratép aneuk sebagai media literasi dalam mengejawantahkan teologi Islam kepada anak.

Media ini digunakan oleh kaum ibu untuk mendoakan supaya anaknya mempunyai keahlian tinggi (Hurgronje, 1985:239). Syair ini diliterasikan secara turun temurun oleh masyarakat Aceh. Hal ini karena mengandung nilai-nilai pendidikan dan teologi Islam yang perlu diwariskan pada anak sejak dini.

Harapan orang-tua, kelak anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan ajaran agama, kuat tauhid, dan kukuh iman, sehingga karakter yang melandasi kehidupan anak akan selalu berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.

Namun, sekarang ini, kondisi masyarakat telah berubah. Pelaksanaan dan penggunaan tradisi lisan peuratéb aneuk semakin tergeser dalam praktik kehidupan masyarakat Aceh. Nilai-nilai  tradisional sudah tersingkirkan, bahkan hampir terlupakan, eksistensi tradisi lisan peuratéb aneuk mulai terkikis dan esensinya mulai luntur dengan masuknya budaya asing. Padahal, nilai-nilai dalam peuratéb aneuk jauh lebih bermakna dan menjadi sebuah “lampu” dalam menata kehidupan. Di samping itu, menjadi media pendidikan yang sangat ampuh dalam membangun karakter anak bangsa.

Tradisi lisan peuratéb aneuk yang ada pada masyarakat Aceh sudah jarang terdengar dari ibu-ibu. Mereka lebih cenderung menidurkan anaknya dengan nyanyian-nyanyian yang gersang dari nilai-nilai keislaman dan keacehan.

Bahkan, nyanyian-nyanyian tersebut dapat merusak moral anak dan akhirnya terbentuklah  karakter anak yang tidak diharapkan, menyimpang dari norma- norma, rapuh, dan lemah dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan (Djohan, 2005:64). Berbagai persoalan moral pun terjadi dan sulit untuk mencari solusi serta sulit mengatasinya.

Realita itu berimbas pada krisis jati diri, nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, keramahtamahan sosial, dan rasa cinta tanah air yang pernah dianggap sebagai kekuatan  emersatu dan ciri khas bangsa. Dekadensi moral pun terjadi. Pudarnya rasa kebersamaan seiring menguatnya nilai-nilai materialisme. Menurut Buxbaum (1970:12), proses akselarasi budaya negatif dari serpihan pengaruh globalisasi dewasa ini berdampak pada lunturnya jati diri bangsa dan tidak mempunyai bangsa ini dalam menghambat arus budaya tersebut yang tidak sesuai  dengan upaya pembangunan karakter bangsa.

Syair ini memiliki fungsi untuk penanaman teologi sehingga menjadi penguat kembali generasi milenial di era digital ini. Bahwa syair peuratéb aneuk mengandung pendalaman teologi sudah sangat jelas. Secara tersurat, syair ini memperkenalkan kalimat tauhid meliputi Allahu allah allahu rabbôn, Allah qadirôn maha kuasa. Cuplikan syair ini dilantunkan orang tua ketika  menidurkan anak di Aceh.

Tradisi peuratéb aneuk ini menjadi media pembelajaran untuk mewariskan pesan-pesan tauhid kepada anaknya. Sebagaimana diketahui bahwa tauhid merupakan fondasi dasar yang harus ditanamkan pada anak sejak usia dini

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved