Breaking News
Senin, 13 April 2026

Menag Larang Penggunaan Cadar, Di Era Orde Baru Jilbab Juga Pernah Dilarang

Meski belum dalam bentuk aturan, larangan pemakaian simbol-simbol atau atribut pernah dilakukan pemerintah di zaman Orde Baru.

Editor: Amirullah
Foto: Majalah Panji Mas/Historia.id
Empat siswi SMA 68 Jakarta ini dikeluarkan dari lingkungan sekolah gara-gara memakai jilbab, 30 tahun lalu. Larangan Bercadar dari Menag Fachrul Razi Ingatkan Larangan Jilbab di Era Orde Baru. 

Menag Larang Penggunaan Cadar, Di Era Orde Baru Jilbab Juga Pernah Dilarang

SERAMBINEWS.COM - Pernyataan Menteri Agama Fachrul Rozi yang ingin melarang pemakaian cadar dan celana cingkrang di lingkungan pemerintah menuai kontroversi.

Meski belum dalam bentuk aturan, larangan pemakaian simbol-simbol atau atribut pernah dilakukan pemerintah di zaman Orde Baru.

Pelarangan memakai atribut keagamaan di Orde Baru bahkan lebih parah.

()

Sejumlah perempuan ikut dalam aksi pemasangan 500 jilbab dalam 5 menit di Makassar, beberapa waktu lalu. Dulu, jilbab dilarang pemerintah di era Orde Baru. (TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR)

Misalnya, sejumlah siswi dikeluarkan dari sekolah hanya karena tetap memakai jilbab di lingkungan sekolah padahal sudah dilarang oleh kepala sekolahnya.

“Pemerintah Orde Baru menganggap kemunculan pemakaian jilbab sebagai wujud sikap oposan terhadap mereka…” tulis Alwi Al Atas dan Fifrida Desliyanti dalam Revolusi Jilbab.

Dikutip dari laman historia.id, dalam artikel berjudul Jilbab Terlarang di Era Orde Baru yang ditulis Hendri Jo, simbol-simbol agama kerap memang menakutkan bagi penguasa.

Demam Jilbab

Reideologisasi (baca: repolitisasi) Islam usai kekuasaan Presiden Sukarno tumbang (1967), mengalami tantangan dari pemerintah Orde Baru.

Sedapat mungkin, pemerintah Orde Baru memberangus simbol-simbol ideologis yang terkait dengan Islam.

Salah satunya dengan membonsai peran partai-partai politik Islam sehingga terkontrol secara efektif.

“Pemerintah Orde Baru meragukan itikad baik tokoh-tokoh Islam jika diberi keleluasaan politik,” ungkap Abdul Qadir Djaelani, eks aktivis Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).

Terjegal di panggung politik formil, geliat reideologisasi Islam justru semakin marak di kampus-kampus (terutama di perguruan-perguruan tinggi negeri terkemuka seperti ITB dan UI).

Atas prakarsa Imaduddin Abdurrachim - tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bandung-, pada 1974 diselenggarakan kegiatan LMD (Latihan Mujahid Dakwah).

Sumber: TribunnewsWiki
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved