Hari Pahlawan

Mengenang Sultan Daulat Sambo yang Berjuluk Singa Tanoh Singkil, Begini Kisahnya

Sultan Daulat diambil dari nama seorang raja bermarga Sambo dan dikenal sebagai pahlawan dalam perjuangan melawan Belanda.

Penulis: Khalidin | Editor: Taufik Hidayat
Hand-over dokumen pribadi
PENGURUS Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Subulussalam saat berziarah ke Makam Raja Sultan Daulat Sambo di Dusun Rikit, Desa Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, 17 Agustus 2019 lalu. 

Laporan Khalidin | Subulussalam

SERAMBINEWS.COM, SUBULUSSALAM – Sultan Daulat Sambo, demikian salah satu nama raja yang tersohor di Bumi Kota Subulussalam. Bahkan, Sultan Daulat resmi dinobatkan sebagai pahlawan daerah juga ditabalkan menjadi nama salah satu kecamatan di Kota yang mekar 2 Januari 2007 tersebut.

Sultan  Daulat diambil dari nama seorang raja bermarga Sambo dan dikenal sebagai pahlawan dalam perjuangan melawan Belanda.

Dialah Sultan Daulat Sambo yang saat ini sudah dijadikan sebagai Pahlawan Daerah Kota Subulussalam dan saat ini sedang diusulkan menjadi pahlawan Nasional dikarenakan kontribusinya terhadap kemerdekaan bangsa dan Negara Indonesia.

Sebagaimana dituturkan Ustaz Sabaruddin Siahaan SPdI, Ketua Baitul Mal Kota Subulussalam, Minggu (10/11/2019). Sabaruddin termasuk pemerhati kerjaan Sultan Daulat serta sejumlah sejarah di daerah ini.

Khusus Sultan Daulat, dia menceritakan, pada tahun 1940 seluruh Tanoh (tanah) Singkil (Kabupaten Aceh Singkil dan Pemko Subulussalam sekarang) sudah jatuh ke tangan Belanda.

Seluruh kerajaan kecil baik yang berada di sepanjang Lae Cinendang seperti kerajaan Tanjong Mas, Silatong, Seping dan lainnya mau pun yang berada di sepanjang Lae Sungraya seperti kerajaan Tualang, Binanga, Pasir Bello dan lainnya sudah tunduk kepada Belanda.

Hanya satu kerajaan saja yang tidak tunduk kepada penjajah Belanda yaitu kerajaan Batu-batu yang dipimpin oleh Sultan Daulat Sambo.

Sultan Daulat Sambo adalah kawan akrab raja Tanah Batak Sisingamangaraja XII. Sang Raja Batak pernah berkunjung ke kerajaan Batu-batu begitu pula sebaliknya. 

Raja Sisingamangaraja XII terkenal sangat keras menentang penjajah Belanda. Baginda gugur di daerah Dairi setelah berperang 30 tahun lamanya.

Rupanya semangat juang sahabatnya inilah membuat Sultan Daulat Sambo tetap bersikukuh melawan penjajahan Belanda dan tidak mau tunduk seperti raja-raja lain sekitarnya.

Sejak kecil Raja Batu-batu ini telah belajar ilmu siasat perang kepada ayahnya Sutan Bagindo sambo.

Nama asli Sutan Bagindo adalah Raja Sarah Sambo, namun karena orang-orang Minangkabau yang lebih dahulu mendiami Lae Raso kalah bersiasat, maka mereka takluk kepada Raja Sarah dan memberinya gelar Sutan Bagindo.

Selain ahli ilmu siasat perang, Sultan Daulat juga ahli silat, kebal  dan megegoh (memiliki tenaga yang luar biasa).

Ia mampu mengangkat rumah panggung seorang diri dan menyembelih kerbau seorang diri tanpa perlu diikat.

Membangun Benteng

Sebelum bertolak pulang dari kunjungan persahabatan ke Bakkara, Raja Sisingamangaraja XII sempat mengingatkan bahwa Belanda pasti menyerang kerajaan Batu-batu kalau Sultan Daulat Sambo tidak tunduk kepada mereka.

Justru itu sahabat dekatnya itu menyarankan agar sepulang dari kunjungannya ini segera membangun benteng pertahanan.

Sultan Daulat Sambo pun membangun benteng dengan bantuan tenaga ahli dari kerajaan Aceh Darussalam.

Benteng tersebut dibuat dengan bahan baku kayu berbentuk persegi empat dan pintu darurat dibuat disetiap sudut benteng.

Di tengah-tengahnya berdiri istana raja berbentuk rumah adat. Untuk melindungi dari serangan musuh, maka benteng tersebut dilengkapi dengan meriam yang pelurunya terbuat dari besi yang buatan pandai besi kerajaan.  Luas benteng tersebut melingkupi kampong Namo Buaya, Jambi, Pulo Bellen dan Pulo Keddep.

Perang melawan Belanda

Berbagai bujuk rayu dilancarkan untuk meluluhkan hati Sultan Daulat Sambo agar mau takluk dan bekerja sama dengan Belanda. Namun Sang Sultan tetap teguh pendirian.

Akhirnya Belanda mengutus Raja Binanga untuk membarikan ancaman kepada penguasa Batu-Batu itu, bahwa bila Sultan Daulat Sambo tidak juga menyerah maka Belanda akan menyerang.

Sebagai tanda ancaman Raja Binanga mengirim 1 muk biji harum (biji bayam) yang maksudnya bahwa bila tidak segera menyerah kepada Belanda, Kerajaan Batu-Batu akan diserang dengan membawa tentara yang banyak. 

Mereka yakin ancaman itu pasti membuat kerjaan Batu-batu gentar. Namun ternyata ancaman Belanda melalui Raja Binanga itu sedikit pun tidak membuat ciut nyali raja dan rakyat  Batu-batu.

Sang Sultan malah mengirim kembali kepada Raja Binanga 6 muk biji yang sama. Maksudnya enam kali lipat pun banyaknya tentara Belanda itu, Kerajaan Batu-batu siap menghadapinya.

Akhirnya pada tahun 1901 Belanda pun mulai berancana melancarkan serangan ke kerajaan Batu-batu.

Setelah mendapat  persetujuan dari Kutaraja (Banda Aceh sekarang), maka pemerintah Belanda di Kota Singkil mulai mempersiapkan keperluan perang berupa logistik, senjata dan mesiu serta serdadu khusus yang terkenal dengan nama marsose serta alat transportasi berupa bungki bellen (sampan besar).

Berangkatlah serdadu Belanda dengan dipandu oleh orang-orang pribumi yang telah memihak kepada Belanda. Mereka terus mendayung di Lae Sung raya menuju hulu sungai kemudian belok ke Lae Batu-batu.

Kedatangan musuh itu sebenarnya telah tercium oleh pasukan Batu-batu. Mereka membuat jebakan dengan cara melukai (menebang tidak sampai putus pohonnya) beberapa pohon besar di sekitar Lae Batu-batu.

Ketika laskar Belanda melintas di Lae batu-batu, pohon-pohon besar itu pun ditumbangkan menimpa pohon-pohon kecil dan mengenai laskar Belanda tersebut. Seluruh pasukan Belanda mati tenggelam.

Penyerangan Belanda untuk menaklukkan kerajaan Batu-batu kali pertama ini gagal total dan menelan kerugian yang amat banyak.

Belanda Membumihanguskan Kerajaan Batu-Batu

Gagalnya penyerangan Belanda untuk menaklukkan Kerajaan Batu-batu dengan kekalahan yang telak merupakan tamparan yang sangat memalukan.

Pemerintah Belanda Di Kota Singkil pun melakukan persiapan yang lebih matang, persenjataan yang lebih lengkap dan jumlah pasukan yang lebih banyak. Kerajaan Binanga direncanakan sebagai pangkalan untuk menyerang Batu-batu lewat darat.

Setelah menelusuri jalan setapak sampailah serdadu Belanda di dekat benteng batu-batu. Pertempuran pun berlansung dengan sengit. Sayangnya meriam Batu-batu hanya bisa menembak ke satu arah, tidak bisa digeser ke arah lain.

Mengetahui kelemahan itu pasukan marsose Belanda segera memanjat benteng dan melemparkan obor ke atap rumah-rumah yang terbuat dari ijuk. Kebakaran besar pun terjadi di dalam benteng.

Melihat kondisi yang tidak menguntungkan itu panglima perang Batu-batu Siti Ambiya (adik kandung Sultan Daulat) memerintahkan segera membuka pintu darurat. Pertempuran jarak dekat pun berkecamuk.

Dentingan suara pedang bercampur baur dengan suara jeritan anak-anak dan kaum wanita. Satu demi satu korban berjatuhan, darah para suhada membasahi bumi pertiwi.

Panglima Saman Tinambunan salah seorang panglima yang yang diandalkan kerajaan Batu-batu setelah membunuh sekian banyak serdadu Belanda, karena keletihan akhirnya dapat ditangkap dan dibunuh dengan cara dineknekken (dibenamkan di sungai) lalu dimakamkan di muara Lae Batu-batu. Siti Ambiya juga syahid bersama panglima lainnya, tetapi Sultan Daulat Sambo lolos dari sergapan Belanda.

Setelah perlawanan dapat dilumpuhkan, pasukan Belanda pun membumihanguskan kerajaan Batu-batu.

Perbuatan itu ternyata melanggar aturan. Kapten Koler komandan pasukan Belanda di Dairi tiba pada sore harinya sempat melihat bagaimana benteng dan rumah-rumah dibakar sedemikian rupa, mengajukan protes ke mahkamah meliter di Kutaraja.

Setelah disidangkan beberapa kali akhirnya pengadilan menjatuhkan hukuman gantung kepada komandan pasukan Belanda yang memimpin penyerangan ke Kerajaan Batu-batu dan membumihanguskannya.

Bergerilya dan berdamai

Dengan sisa-sisa laskar yang masih selamat dalam perang Batu-Batu, Sultan Daulat Sambo di dampingi oleh Panglima Said dan Panglima Cimpa terus melakukan perjuangan dengan cara bergerilya.

Selama empat tahun yakni tahun 1902-1906 Sultan Daulat bergerilya dari hutan ke hutan, membuat kekacauan dan melakukan penghadangan terhadap pasukan patroli Belanda.

Pemerintah Belanda merasa kewalahan menghadapi pasukan gerilya Sultan Daulat Sambo. Berbagai macam cara dilakukan agar dapat menagkap Raja Batu-batu namun tidak membuahkan hasil. Akhirnya Pemerintah Belanda mengajak Sultan yang pantang menyerah itu berdamai.

Tawaran itu tidak serta merta diterima oleh Sang Sultan. Berbagai upaya dilakukan untuk membujuk, akhirnya hati Sultan luluh juga. Maka pada tahun 1907 dilakukanlah penandatanganan perjanjian damai antara Pemerintah Belanda dengan Sultan Daulat Sambo di Kutaraja.

Isi perdamaian itu adalah bahwa Sultan daulat Sambo dan seluruh laskar perangnya bersedia keluar dari hutan dan menghentikan perlawanan bila Pemerintah Belanda bersedia memenuhi persyaratan yang diajukan. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh Belanda adalah:

1.    Pemerintah Belanda membangun rumah mirip istana raja Batu-batu yang telah dimusnahkan pada perang Batu-batu lengkap dengan perabotnya.

2.    Pemerintah Belanda juga membangun mesjid di dekat istana itu,

3.    Pemerintah Belanda akan membebaskan seluruh anggota laskar Batu-batu yang ditawan.

Hampir tiga tahun lamanya Sultan Daulat sambo bersabar menunggu perjanjian itu terealisasi, namun tak kunjung juga kecuali poin yang ketiga. Akhirnya sang “Singa” itu kembali masuk hutan.

Pemerintah Belanda kembali merayu agar Sultan keluar hutan dan berjanji sesegera mungkin mewujudkan isi perjanjian yang belum dipenuhi. Kali ini Sultan Daulat tak mau terkecoh lagi. Dia merasa bahwa perjanjian damai itu hanyalah tipu muslihat belaka.

Pada tahun 1912 semua isi perjanjian itu akhirnya dipenuhi juga, tetapi Sultan Batu-batu itu sudah kadung tersinggung dan merasa terhina sehingga perjuangan gerilya terus dilanjutkan.

Dengan segala upaya Pemerintah Belanda terus merayu Sultan Daulat melalui rekan-rekannya raja-raja tetangga, ditambah lagi tubuh yang sudah mulai lemah dimakan usia, akhirnya Sultan “Singa Tanoh Singkil” itu pun kembali ke rumahnya.

Pada tahun 1915 pemerintah Belanda melantik Teuku Kamaruddin Sambo menggantikan ayahnya sebagai raja Batu-batu.

Kemudian pada tahun 1929 Sultan Daulat Sambo, pahlawan kusuma bangsa itu dipanggil menghadap Tuhan dan dimakamkan di pinggir Lae Batu-batu.

Sebagai penghormatan kepada Sultan Daulat Sambo yang telah berjuang demi tanah airnya tercinta, walikota Subulussalam mengangkat beliau sebagai Pahlawan Daerah.

“Kita berharap agar Pemerintah Aceh mengakui belaiu sebagai Pahlawan Aceh dan mengusulkan kepada presiden RI agar beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional sebagaimana sahabatnya Raja Sisingamangaraja XII. Karena sebagaimana kata bijak Soekarno, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya,” ujar Sabaruddin.(*)

Jadwal Pendaftaran CPNS Lhokseumawe belum Ada Kepastian, Ini Kata BKPSDM

Dibuka Besok, Begini Tips dan Trik Memilih Instansi dan Formasi Jabatan saat Pendaftaran CPNS 2019

Kementerian Pertanian Buka CPNS 2019 untuk Jalur SMK, D-III dan S-1, Berikut Rincian Lengkap

Sekjen dan Dirjen KKP Diperiksa hingga Malam, Terkait Dugaan Korupsi Keramba Jaring Apung di Sabang

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved