Bus Sekolah

Bus Sekolah Bertambah, Anggota DPRK Abdya Minta Pemkab Perhatikan Siswa Desa Terpencil

Selain di Rukoen Dame, lanjutnya, contoh lainnya adalah Sekolah Dasar Negeri 12 Babahrot yang mayoritas atau hampir 70 persen siswanya berdomisili di

Penulis: Rahmat Saputra | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Dari 13 bus sekolah dikelola Dinas Perhubungan Abdya, 5 unit diantaranya mengalami rusak berat dan 8 unit rusak ringan sehingga sangat terganggu dalam pelayanan antara jemput siswa. Foto kondisi fisik bagian bus dan foto kursi bagian dalam bus, Senin (8/4/2019). 

Laporan Saputra I Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Anggota DPRK Aceh Barat Daya (Abdya), Anton Sumarno meminta Dinas Perhubungan setempat menyediakan bus sekolah untuk daerah terpencil.

Hal tersebut disampaikan menanggapi adanya pembelian dua unit bus sekolah baru oleh Pemkab Abdya.

"Alhamdulillah, dengan adanya penambahan dua unit bus sekolah ini, bisa mempermudah siswa yang terpencil pergi ke sekolah," ujarnya.

Karena, sambungnya, banyak siswa yang tinggal di daerah pedalaman, harus berjalan kaki menuju sekolah, khususnya di Kecamatan Kuala Batee dan Babahrot.

"Dengan adanya penambahan dua unit bus sekolah ini, maka sudah sepatutnya dinas perhubungan menyediakan untuk daerah terpencil," katanya.

Salah satu contoh, katanya, di kawasan Rukoen Damee. Dulu para siswa pergi sekolah menggunakan minibus labi-labi, namun sejak dua tahun terakhir, labi-labi tak masuk lagi ke kawasan tersebut, dan sejumlah kawasan pedalaman lainnya.

"Sehingga, para siswa dari keluarga yang kurang mampu, maka mereka harus berjalan kami pergi dan pulang sekolah," terangnya.

Awalnya Khawatir, Kini Warga yang Tersambung Jargas Sumringah

Al-Farlaky Besuk Cantoi, Mantan GAM Wilayah Peureulak

Kebutuhan Dana Tercukupi, Ibu dan Empat Anak yang Telantar di Malaysia Akhirnya Kembali ke Aceh

Menurutnya, sangat mustahil mutu pendidikan siswa bisa ditingkatkan apabila siswanya saja masih ada yang terlambat sampai ke sekolah karena jarak domisili yang jauh dari sekokah.

Selain di Rukoen Dame, lanjutnya, contoh lainnya adalah Sekolah Dasar Negeri 12 Babahrot yang mayoritas atau hampir 70 persen siswanya berdomisili di Desa Ie Merah, dan kawasan perumahan Katd 40.

"Di kawasan ini, setiap hari ada ratusan siswa berjalan kaki hingga 6 kilometer pergi ke sekolah, sehingga mereka sering terlambat sampai di sekolah, makanya tahun depan kita berharap persoalan ini tidak terjadi lagi," pungkas Sekjend PNA Abdya tersebut.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved