Wawancara Eksklusif
Aceh tak Kiamat tanpa Dana Otsus
Dalam rapat kerja Komisi X DPR RI dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaaan (Mendikbud) dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf)
Aceh tidak boleh terpaku dengan dana Otsus. Seolah-olah dunia Aceh kiamat tanpa Otsus. Dana Otsus oke sebagai pemantik atau pendorong percepatan pembangunan Aceh, karena Aceh dalam konflik. Tapi kalau kemudian dana Otsus dijadikan sandaran utama dan seolah-olah Aceh berhenti membangun, setelah dana Otsus habis, ini saya kira harus diubah cara berfikirnya. Dana Otsus memang penting, tapi bukan segala-galanya. Masih banyak sumber-sumber lain yang bisa dikreasikan sebagai biaya pembangunan.
Bisa dicontohkan, apa saja itu?
Salah satunya adalah dimasukannya Aceh dalam skala prioritas nasional pembangunan berbagai sektor. Contoh pariwisata, potensinya sangat besar di Aceh. Tapi Aceh ternyata tidak masuk dalam destinasi prioritas. Sekarang Pusat sedang menggerakkan konsep ‘New Bali’. Aceh seharusnya juga ada konsep ‘Wisata Syariah, Wisata Halal’ dan sebagainya dijalankan di Serambi Mekkah. Bikin konsep, bikin kreasi, sehingga, umpamanya, Aceh selalu menjadi tuan rumah pertemuan pemuka-pemuka Islam seluruh dunia, mengkampanyekan Aceh di kawasan-kawasan Timur Tengah dan sebagainya. Hal-hal begini kan bisa digarap. Tour wisata Syariah, cagar budaya hidup lagi, museum juga begitu, bisa dioptimalkan, dan sebagainya. Tentu Aceh tak bisa jalan sendiri, maka gandeng Pemerintah Pusat. Banyak lagi yang mungkin dikerjakan untuk membangun Aceh di luar Dana Otsus.
Menurut Anda, apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan semua itu?
Konsep. Butuh konsep yang jelas, mau diapakan Aceh itu. Pariwisatanya, industrinya, budayanya, alamnya, dan sebagainya. Konsep ini dijalankan seluruh daerah, seperti yang saya singgung di awal. Berikutnya, jaringan nasional. Perluas jaringan tingkat nasional, sehingga Aceh tidak kesulitan di tingkat nasonal saat memperjuangkan sesuatu. Kita tahu jaringan internasional Aceh hebat. Tapi di tingkat nasional sepertinya harus digerakkan lagi. Diperluas lagi.
Sebagai pengusaha, Anda tumbuh dan besar di Lampung. Apa yang bisa dibandingkan dengan Aceh?
Pertama, kami di Lampung tidak punya Dana Otsus. APBD kami kecil. Kami di Lampung tidak punya tokoh penyumbang emas Monas. Kami Lampung bukan bergelar daerah modal seperti Aceh. Tapi pertumbuhan ekonomi kami di Lampung di atas rata-rata nasional. Kenapa bisa? Karena kami bekerja sama sangat baik. Antara Pemerintah dan dunia usaha bagus dan saling mendukung. Ketika muncul gagasan Tol Trans Sumatera, kami anggap itu peluang. Lalu kami bersama-sama bertekad bahwa Lampung harus jadi provinsi pertama di Sumatera penerima manfaat Tol Trans Sumatera. Berhasil kan? Lampung paling awal menyelesaikan proyek jalan tol itu. Kami lobi Pusat. Saya bahkan sampai kirimkan petisi ke Presiden. Di Aceh saya dengar pembangunan tolnya malah ditolak. Saya tidak mengerti apa alasannya. Lihat Lampung sekarang, mudah dicapai dengan pesawat, kapal cepat, fery penyeberangan. Orang ke Lampung seperti ke Bogor saja. Ekonomi kami tumbuh pesat.
Sebagai putra Aceh, tentu Anda tidak bisa lepas dari Aceh. Apa bisa Anda kontribusikan ke Aceh?
Saya orang Aceh siap bantu apa yang saya bisa. Saya masuk anggota Forbes DPR RI asal Aceh. Saya siap kerja sama apa saja. Seperti kami di Lampung, selalu koordinasi dengan Gubernur Lampung. Apa yang bisa saya usahakan di DPR, itu saya lakukan. Begitu juga dengan Aceh. Saya siap. Saya juga dulu beri kuliah umum di Aceh, memompa semangat ini. Beberapa waktu lalu datang rektor sebuah perguruan tinggi dari Aceh. Kita diskusi dan saling dukung. Saya duduk di Komisi X membidangi pendidikan, kebudayaan, pemuda dan olahraga, pariwisata dan ekonomi kreatif. Ayo kita kolaborasi.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-muhammad-kadafi-mh-anggota-dpr-ri.jpg)