Opini
Sejarah Tgk. Chik Pante Geulima
Pasang surut semangat juang para pejuang Aceh mencuat, karena menghadapi perang besar dan terlama dengan Belanda
Oleh Dr. Murni, S.Pd,I. M.Pd, Pemerhati Sejarah
Pasang surut semangat juang para pejuang Aceh mencuat, karena menghadapi perang besar dan terlama dengan Belanda yang dimulai pada 26 Maret 1873-1904. Seakan-akan Belanda sudah di ambang kemenangan, tetapi pertempuran-pertempuran masih terus berlangsung hingga 1914. Hal ini menjadi perhatian para ulama yang ada di Aceh, salah satunya adalah ulama besar, Tgk. Chiek Pante Geulima. Lalu siapa Tgk. Chiek Pante Geulima dan bagaimana perannya dalam mempertahankan kedaulatan Kerajaan Aceh Darussalam?
Teungku Chik Pante Geulima adalah seorang ulama besar, panglima perang dan sastrawan. Nama aslinya adalah Tgk. Syekh H. Ismail dengan lakab Tgk. Chik Pante Geulima, lahir di Gampong Blang Meureudu pada 1839 M. Beliau merupakan anak dari Teungku Chik Pante Ya`kub, pendiri Pusat Pendidikan Islam "Dayah Tinggi Pante Geulima Meureudu bersama T. Chik H. Nyak Ngat pada 1801 M." Menurut Prof. Ali Hasjmy, jika ditelusuri garis keturunannya ternyata bermuara kepada Sultan Kerajaan Aceh Darussalam yang ke-10 yaitu Sultan Sayyidil Mukamil.
Silsilahnya adalah sebagai berikut: Tgk. H. Syekh Ismail bin Teungku Chik Pante Yak'ub bin Teungku di Bale Abdurrahman bin Teungku Muhammad Said bin Teungku Darah Puteh bin Teungku Tok Setia bin Teungku Yakub bin Meurah Puteh bin Meurah Abdullah bin Sayyiddil Mukammil. Sultan Sayyidil Mukamil (1589-1604) adalah kakek Sultan Alaiddin Iskandar Muda (April 1607 M-27 Desember 1636 M) yang makamnya berada di belakang toko grosir sembako di Gampong Merduati, Banda Aceh. Saat saya belanja di toko itu Oktober 2019, saya menyempatkan diri berziarah ke makam Sultan Sayyidil Mukamil yang dikenal sebagai seorang taat agama, tawadhu, arif serta bijaksana dalam memutuskan suatu perkara. Pada masa beliaulah Raja Aceh menjadi kiblat raja dan sultan dunia.
Riwayat pendidikan Tgk. Chik Pante Geulima seperti biasanya anak-anak di Aceh, belajar masalah-masalah agama. Walaupun ia putra kandung dari Teungku Chik Pante Ya'kub, namun Tgk. Ismail bin Ya'kub harus belajar terlebih dahulu pada Teungku di Rangkang yang merupakan asisten ayahnya. Setelah mendapat pengetahuan dasar tentang Islam dan bahasa Arab, barulah dia belajar pada ayahnya. Dari ayahnya, ia belajar banyak dan mendalam, sehingga amat menguasai bahasa Arab dan pegetahuan Islam lainnya, seperti fikih, tauhid, ilmu kalam, tafsir, hadits, filsafat, tasawuf dan tarikh.
Menurut Alm. Tgk. Hasan Sufi ketika saya mengunjungi beliau ke rumahnya pada 2007 silam, Tgk. Chik Pante Geulima belajar hingga ke Dayah Tanoh Abee dan Dayah Geulumpang Minyeuk. Selain belajar, beliau juga turut mengajar di kedua dayah tersebut. Tak sampai hanya di situ, pendidikan militer pun digelutinya pada pusat Pendidikan Laskar Aceh Makhad Baitul Makdis.
Tgk. Ismail termasuk murid yang cerdas, sehingga dipercaya mengajar dan menjadi salah seorang asisten syekh di Masjidil Haram. Setelah mendapat gelar Syekh pada tahun 1863, Tgk. Ismail kembali ke kampung halamannya. Kepulangannya membawa berkah kepada Dayah Pante Geulima karena pada saat itu dayah ini membutuhkan seorang teungku Chik. Tgk. Syekh H. Ismail akhirnya diangkat menjadi teungku chik di dayah tersebut. Di bawah kepemimpinannya, Dayah Pante Geulima mengalami kemajuan yang cukup pesat. Para muridnya tidak hanya datang dari Aceh, tetapi juga berasal dari berbagai daerah di nusantara, seperti Minangkabau, Deli Serdang, Siak lndrapura, Semenanjung Melayu, Patani, dan sebagainya.
Suasana di Dayah Pante Geulima berubah dalam sekejab. Sebelumnya damai dan tenteram, setelah pemberlakuan tersebut, dayah ramai dengan latihan-latihan perang. Pada 26 Maret 1873, Belanda mengumumkan perang terhadap Kerajaan Aceh, jika Sultan Alaiddin Mahmud Syah tidak mengakui kedaulatan Belanda atas Kerajaan Aceh. Ultimatum itu ditolak sultan dengan tekad mempertahankan kedaulatan Aceh sampai akhir hayat. Tekad dari sultan tersebut disambut seluruh lapisan masyarakat, termasuk Tgk. Chik Pante Geulima.
Ancaman penyerangan terhadap Kerajaan Aceh dibuktikan dengan mendaratkan pasukan Belanda di Pante Ceuremen, Banda Aceh. Pertempuran dahsyat tidak bisa dihindari lagi. Pada agresi pertama ini, pasukan Belanda dipimpin Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler. Agresi pertama Belanda terhadap Kerajaan Aceh harus dibayar mahal oleh Belanda. Pimpinan perang Belanda, Kohler, tewas tertembak di depan Mesjid Raya Baiturrahman.
Pertengahan 1873, Tgk. Chik Pante Geulima dilantik menjadi panglima perang, mempersiapkan pasukannnya yang akan dibawa ke Banda Aceh. Tgk. Chik Pante Geulima memperkirakan Belanda akan menyerang lagi pada agresi militer Belanda kedua. Beliau beserta pasukannya membangun sebuah Kuta Reuntang dengan tujuh kubu yang saling menyambung di daerah Krueng Daroy. Tgk. Chik Pante Geulima bermarkas di Kuta Bu dengan korban yang cukup besar, Belanda memasuki dan merebut dalam (istana). Pasukan Aceh akhirnya menyingkir dari dalam dan meninggalkan Banda Aceh. Pada 1876, Tgk. Chik Pante Geulima kembali ke Meureudu.
Pada 1877, ia mendapat mandat dari Sultan ke Tanah Batak dan Karo untuk membantu Sisingamangaraja XII. Pasukan yang berjumlah 400 askar Aceh itu terdapat ulama, juru dakwah, dan ahli peperangan. "Misi Tgk. Chik Pante Geulima di Tanah Batak dan Karo ada dua, yaitu pertama menganjurkan para pemimpin dan rakyat di kedua daerah itu untuk bertempur bersama Aceh melawan kolonialis Belanda, dan kedua melaksanakan dakwah islamiyah," (Ali Hasjmy: Ulama Aceh, Mujahid Pejuang Kemerdekaan dan Pembangun Tamaddun Bangsa).
Balik ke Dayah Pante Geulima, beliau ingin mengobarkan semangat juang rakyat Aceh yang mulai kendur dalam perang. Maka Tgk. Chik Pante Geulima mengarang sebuah hikayat yang diberi nama Hikayat Maleem Dagang. Hikayat ini selesai dikarang pada 1889 M.
Pertempuran terakhir Tgk. Chik Pante Geulima adalah mempertahankan Benteng terkuat Kerajaan Aceh, yaitu Kuta Batee Iliek di Samalanga. Belanda memang ingin menguasai Aceh secara menyeluruh termasuk Benteng Batee Iliek yang merupakan benteng terakhir kerajaan Aceh Darussalam. Usaha Belanda merebut ini mengalami kegagalan hingga tiga kali. Namun pihak kompeni sama sekali tidak menyerah dan melakukan serangan lanjutan selama dua kali berturut-turut, di bawah kepemimpinan Jenderal van Der Heijden pada 1878.
Jenderal van Der Heijden yang memimpin serangan secara langsung menderita luka-luka. Matanya buta terkena pelor senjata pasukan Aceh yang melepaskan tembakan dari Benteng Batee Iliek. Kegagalan ini membuat van Der Heijden dibangkupanjangkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Tongkat kepemimpinan Belanda selanjutnya diserahkan kepada Jenderal J.B van Heutsz yang telah diangkat menjadi Gubernur Militer atau Panglima Tentara Pendudukan di Aceh.
Pada penyerbuan yang ketiga Jenderal van Heutsz gagal di tahun 1901. Barulah, pada 3 Februari 1904, Jum'at sore, benteng terkuat di Aceh tersebut berhasil direbut Belanda. Teungku Chik Pante Geulima sebagai penglima perang syahid. Beliau dimakamkan di Gampong Meurandeh Alue, Bandar Dua, Pidie Jaya.
Kita sangat berharap kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat agar mengangkat Tgk. Chik Pante Geulima sebagai pahlawan nasional. Mengingat peran dan jasanya yang begitu besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan Aceh. Semoga! murni166@yahoo.co.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-murni-mpd-anggota-ikatan-sarjana-alumni-dayah-aceh-isad-aceh.jpg)