Breaking News
Kamis, 16 April 2026

Berita Aceh Barat Daya

Abdya Masuki Panen Raya, Produksi 7,8 Ton GKP Per Hektare

Panen raya dilaksanakan Bupati Abdya, Akmal Ibrahim SH dengan menggunakan mesin panen atau mesin potong padi (combine harvester).

Penulis: Zainun Yusuf | Editor: Nur Nihayati
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Bupati Abdya, Akmal Ibrahim bersama Kapolres AKBP Moh Basori SIK, melakukan panen raya padi unggul Mira-1 menggunakan mesin pemotong (combine harvester) yang dikembangkan kelompok tani dalam acara Temu Lapang Panen Raya Padi MT Gadu 2019 di areal sawah Desa Pisang,Kecamatan Setia, Selasa (10/12/2019). Tingkat produksi padi sementara mencapai 7,8 ton GKP (gabah kering panen) per hektare. 

Panen raya dilaksanakan Bupati Abdya, Akmal Ibrahim SH dengan menggunakan mesin panen atau mesin potong padi (combine harvester).

Laporan Zainun Yusuf | Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Areal tanaman padi MT Gadu 2019 di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) seluas 10.289 hektare (ha), memasuki panen raya.

Kegiatan temu lapang panen raya benih padio unggul Mira-1 itu dipusatkan di areal sawah Desa Pisang, Kecamatan Setia, Selasa (10/12/2019) siang.

Panen raya dilaksanakan Bupati Abdya, Akmal Ibrahim SH dengan menggunakan mesin panen atau mesin potong padi (combine harvester).

Anak-anak Menangis, Gajah Masuki Kampung Negeri Antara

Oarfish Tertangkap Nelayan Sulsel, Benarkah Akan Terjadi Gempa & Tsunami Seperti Pengalaman Jepang?

Rumah Warga Blangkejeren Terbakar Saat Korban Tertidur Lelap, Harta Benda tak Ada yang Selamat

Panen dilakukan Bupati bersama Kapolres AKBP Moh Basori SIK, Kajari Nilawati SH MH,Wakil Bupati Muslizar MT, pejabat mewakili Dandim 0110 Abdya, didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) drh Nasruddin.

Dihadiri, Dekan Fakultas Pertanian Unsyiah diwakili Prof Dr Lukman Hakim MSi, Pejabat dari Batan Bandung, Rasmaidar, para Asisten, sejumlah Pimpinan SKPK, para Camat, Keuchik/Kepala Desa, para Keujruen Chik, Hop Keujruen serta Ketua Kelompok Tani.

Bupati Akmal dalam acara panen raya itu mengatakan, bertani merupakan pekerjaan yang mengikuti Rasulullah. Dan setiap petani adalah pembisnis, dia keluarkan berapa dan  dapat berapa.

Agar pendapat meningkat, maka petani harus memilih varietas mana yang memproduksi gabah lebih banyak dan nilai jual lebih mahal, termasuk ketahanan penyakit lebih tinggi dan waktu panen lebih cepat.

Benih padi unggul yang dikebangkan itu merupakan varietas unggul Mira-1 yang diperkenalkan sejak 2008 atau ketika Akmal menjadi Bupati Abdya Periode 2007-2012. ternyata, setelah hingga sekarang atau sampai Akmal dipercaya menjabat Bupati Abdya Masa Jabatan 2017-2022, varietas Mira-1 masih dibawa oleh p;ara petani di Abdya. “Itu berarti, hasilnya menguntungkan para petani,” kata Akmal. 

Bupati pada kesempatan itu mengaku terkejut ketika Kapolres AKBP Moh Basori SIK membawa bibit padi Sultan dari Sulawesi yang umurnya hanya 75 hari.

“Beliau (kapolres) sudah tanam  di Abdya dan sudah panen. Ini info sangat bangus dalam upaya membantu petani mendapat varietas padi cepat panen,” kata Akmal Ibrahim.

Bupati Abdya itu mengaku sangat senang dengan padi. “Setelah shalat subuh, saya turun ke sawah. Jadi yang pertama saya nikmati itu adalah kopi, kedua adalah sawah, habis ngopi pagi saya langsung ke sawah,” ungkap Akmal.

Padi, kata  Bupati Abdya sangat mengasyikkan dan menimbulkan seribu pertanyaan dan menyangkut hidup jutaan orang. Karena itu harus ada perhatian lebih terhadap padi, dalam artian tidak boleh sembarangan, tapi harus ada perhatian lebih.

Terkait hal ini Bupati Akmal menyampaikan terima kasih kepada Fakultas Pertanian Unsyiah, dimana  telah mengirimkan Dr Efendi M Agric Sc untuk melakukan kerjasama dengan Abdya.

“Kerjasama  melakukan penelitian dan ujicoba berbagai varietas padi dan hasilnya sudah sangat bagus,” kata Bupati Akmal.

Bupati Akmal menambahkan Indonesia adalah negara agraris, tapi kebijakan politik nasional masih menyedihkan terhadap pertanian.

“Amerika itu, negeri industri, tapi anggaran pertanian 20 persen dari APBN. Korea Selatan juga negeri industri, anggaran pertanian 18 persen. Sedangkan Indonesia negeri agraris, namun anggaran pertanian masih jauh di bawah 10 persen dari APBN,” jelas Akmal.         

Sebelumnya Kepala Distanpan Abdya, drh Nasruddin melaporkan Luas Tambah Tanam (LTT) di Abdya telah dicapai seluas 10.289 ha tersebar di sembilan kecamatan sejak Babahrot sampai Lembah Sabil.

Pencapaian LTT ini dikatakan berkat dukungan semua komponen baik unsure pemerintah, penyuluh, mentri tani, pengelola Alsintan, keujruen chik, hop keujruen, kelompok tani dan semua petani di Abdya.

Dari umbinan (sampel produksi) sementara yang diambil dari areal sawah yang memasuki penen raya tingkat produksi mencapai 7,8 ton Gabah Kering Panen (GKP) per ha.

Sedangkan harga gabah sekarang ini menguntung para petani karena pada kisaran harga Rp 5.000 sampai Rp 5.200 per kilogram GKP.

Nasruddin lebih lanjut menjelaskan, pekerjaan rumah yang terus diperjuangkan untuk mencapai Indek Pertanaman (IP) 300 atau lebih dikenal 3 kali tanam dalam setahun menjadi agenda penting untuk meningkatkan Indek Pertanaman yang dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.

Selain itu Pemkab Abdya terus berupaya melakukan inovasi-inovasi  untuk bisa menurunkan biaya produksi sehingga margin keuntungan yang diperoleh petani menjadi lebih besar.

Salah satu cara adalah menambah penyediaan menetapkan ongkos pengelolaan Alsintan termurah, menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, khususnya, Fakultas Pertanian Unsyiah dalam hal memuliakan dan mencari benih padi yang tahan pada kondisi unsur hara yang minim, padi umur genjah dan produksi tinggi.

“Sekarang, Bupati juga sedang mencari pupuk organik yang ramah lingkungan dan murah sebagai upaya untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk kimia di masa mendatang,” papar Nasruddin.(*)     

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved