Senin, 1 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Meredupnya Pamor Giok di Nagan Raya

GIOK adalah salah satu jenis batu permata berwarna hijau yang di dalamnya terkandung banyak unsur mineral

Tayang:
Editor: bakri
IST
SALCIA ATYSA PUTRI, Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Nagan Raya 

OLEH SALCIA ATYSA PUTRI, Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Nagan Raya

GIOK adalah salah satu jenis batu permata berwarna hijau yang di dalamnya terkandung banyak unsur mineral. Batu giok identik dengan Negeri Tirai Bambu. Hal ini dikarenakan batu giok sejak dulu banyak digunakan oleh kerajaan-kerajaan di Cina. Giok banyak digunakan sebagai perhiasan, tapi juga dimanfaatkan sebagai senjata, perkakas, dan perabotan rumah.

Selain untuk kegunaan di atas, giok juga bermanfaat untuk kesehatan. Giok dipercaya dapat mempercepat penyembuhan penyakit serta mencegah penuaan sel-sel tubuh.

Selain di Cina, giok juga banyak ditemukan di Indonesia. Salah satunya di Aceh, khususnya di daerah tercinta Nagan Raya. Mulai tahun 2014, 2015, 2016, dan 2017 batu giok seakan menjadi primadona di Aceh. Banyak orang yang berasal dari luar Nagan Raya datang untuk berburu batu giok. Tak bisa dipungkiri, banyak yang rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk mendapatkan batu giok yang tinggi kualitasnya.

Biasanya pegiat batu giok memiliki senter yang dibawa ke mana-mana. Senter tersebut digunakan untuk menyenter batu. Apabila batu yang disenter berwarna terang dan tembus cahaya itu pertanda kualitasnya baik.

Di Nagan Raya batu giok banyak ditemukan di Beutong Ateuh dan sekitarnya. Pada musim giok para penambang berada pada masa kejayaan dikarenakan banyak orang yang rela membayar tinggi untuk mendapatkan giok yang tinggi kualitasnya.

Kehebohan makin menjadi-jadi setelah adanya penemuan batu giok seberat 20 ton di Hutan Lindung Beutong Ateuh, Nagan Raya yang ternyata lebih banyak kandungan koralnya dibandingkan kandungan gioknya. Penemuan ini menggegerkan banyak warga Nagan Raya karena tidak pernah ditemukan batu giok yang kabarnya berkualitas tinggi dengan jumlah sebanyak itu.

Pada masa itu banyak orang berbondong-bondong datang ke Nagan Raya, khususnya Beutong Ateuh, hanya untuk melihat “penemuan besar” ini. Saya melihat banyak pemilik toko di Nagan Raya, khusunya di Keudee Jeuram yang menyediakan sebuah lemari kecil di depan toko mereka untuk menjajakan aneka produk dari batu giok. Mulai dari cincin, gelang, liontion, hingga batu cincin berukuran besar.

Setiap malam banyak peminat giok, mulai dari yang muda hingga yang berusia lanjut, mengerumuni toko-toko tersebut. Mereka  sibuk menyenter batu-batu yang ada di depan mereka. Bahkan tidak hanya orang dewasa yang meminati giok, tetapi juga banyak anak-anak yang di jarinya sudah terlingkar minimal sebuah cincin yang bermatakan giok. Tidak hanya pria, kaum hawa pun suka. Banyak wanita dewasa yang memakai produk giok, mulai dari cincin giok, gelang giok, hingga kalung yang seluruh bahannya terbuat dari batu giok.

Namun, tak lama kemudian pamor giok tampaknya mulai meredup. Entah apa sebabnya, tiba-tiba  saja tak banyak lagi bapak-bapak yang tiap malam mengerumuni toko yang menjual giok di depan tokonya. Bahkan sekarang sudah tidak saya jumpai lagi giok-giok yang biasanya bersinar di dalam lemari yang dihiasi lampu yang pernah menjadi primadona masyarakat Nagan Raya.

Namun, di balik cerita meredupnya eksistensi giok ini, ada sebuah rencana luar biasa yang dicanangkan oleh Pemkab Nagan Raya, yaitu pembangunan Masjid Giok di ibu kota Kabupaten Nagan Raya, yaitu di Suka Makmue. Pembangunan masjid ini bisa saja mengangkat kembali pamor giok di Nagan Raya. Tidak hanya di mata masyarakat Nagan, tetapi juga di mata masyarakat Aceh. Mengapa demikian?

Karena, Masjid Giok di Nagan ini akan menjadi Masjid Giok pertama di dunia. Masjid ini bernama Masjid Agung Baitul A’la yang insyaallah akan menjadi primadona sekaligus maskot Nagan Raya. Pembangunan masjid ini tidak hanya wacana, melainkan hampir rampung pembangunannya. Saya sebagai warga Nagan ikut bangga dengan progres pembangunan masjid ini.

Masjid Agung Baitul A’la atau yang lebih dikenal dengan Masjid Giok dibangun di atas lahan seluas 5 hektare. Masjid ini dibangun dengan menggunakan batu giok jenis nefrite. Tidak hanya jenis nefrite, tapi jenis black jade juga akan dipasang di bagian tangga. Ini akan menambah keindahan dari Masjid Giok pertama di dunia ini.

Pemkab Nagan Raya juga menyiapkan 7.000 m2 batu giok untuk dipasang pada sejumlah sisi bangunan Masjid Baitul A’lai. Menurut berita yang saya baca, pemasangan batu giok sudah dimulai pada Oktober 2019. Artinya, sudah dua bulan berjalan proses pemasangan batu giok pada masjid yang akan menjadi landmark  Nagan Raya itu. Masjid ini terdiri atas dua lantai. Lantai satu luasnya mencapai 3.000 m2 yang nantinya akan dilapisi giok sebanyak 3.196 m2. Sedangkan lantai dua luasnya 2.000 m2 yang nantinya juga akan dilapisi giok sebanyak 2.060 m2.  Masjid ini dapat menampung jamaah sebanyak 5.000 orang.

Menurut pengamatan saya, Masjid Giok sudah dalam tahap perampungan. Sudah mulai tampak keindahan dan kemegahannya saat pengguna jalan melewati jalan di kompleks perkantoran atau di jalan sekitar Masjid Giok dibangun.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved