Breaking News:

Berita Banda Aceh

GeRAK: Jika DPRA Diam, Mending Berkantor di Warung Kopi Saja Sambil Nikmati APBA

Koordinator GeRAK, Askhalani meminta lembaga DPRA tidak diam atas kebijakan-kebijakan pihak eksekutif yang tidak sesuai

Penulis: Subur Dani | Editor: Nur Nihayati
ASKHALANI, Koordinator GeRAK Aceh 

 Koordinator GeRAK, Askhalani meminta lembaga DPRA tidak diam atas kebijakan-kebijakan pihak eksekutif yang tidak sesuai  

Laporan Subur Dani | Banda Aceh

 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh meminta lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) tetap peka atas kondisi riil publik Aceh saat ini.

Koordinator GeRAK, Askhalani meminta lembaga DPRA beserta para wakil rakyat di dalamnya tidak diam atas kebijakan-kebijakan pihak eksekutif yang tidak sesuai dan cenderung menuai kritikan di masyarakat.

VIDEO - Nagan Raya Hanya Dapat Kartu BPNT 11.655 Lembar

VIDEO - Kedokteran Unsyiah Banda Aceh Gelar Sunat Massal Gratis di Nagan Raya

VIDEO - Haji Uma Bebaskan Bocah Lima Tahun dari Kurungan

"Anggota DPRA yang mayoritas adalah kelompok oposan, seharusnya memainkan peranan yang kuat secara bargaining untuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak sesuai harapan publik.

Bukan hanya diam atau gaya-gayaan semata, seharusnya mereka tampil kritis melebihi kritisnya publik di luar parlemen," kata Askhalani dalam wawancaranya dengan Serambinews.com, Sabtu (21/12/2019) malam.

Sebagai contoh, soal kegagalan peembangunan rumah duafa beberapa waktu lalu, proyek multi years yang diduga melanggar prosedur dan bahkan yang paling fatal adalah soal penganggaran yang menjadi respon publik pun sama sekali tidak dijadikan landasan untuk mengkritisi kebijakan pemerintah Aceh.

Menurut Askhalani, ini menunjukkan ada sikap skiptis ketika sudah berkuasa.

"Kalau hanya sekedar diam ya mendingan anggota DPRA berkantor di warung kopi saja, sambil menikmati hasil dari APBA dan itu lebih hebat dari pada masuk kantor tapi hanya sekedar absen dan tidak melakukan upaya apapun untuk memainkan peranannya dalam mendorong kerja-kerja berkualitas bagi SKPA dan kepala Pemerintah Aceh," kata Askhalani.

Menurut Askhalani, publik sebenarnya yakin dengan sejumlah tokoh muda yang kini duduk di kursi parlemen DPRA.

Apalagi pimpinan DPRA yang kemudian terpilih adalah anak-anak muda hebat.

"Tapi sayang hingga akhir tahun 2019 tidak ada satu kebijakan strategispun yang berani dikoreksi terhadap kebijakan eksekutif yang cenderung tidak menunjukkan perubahan yang baik dalam penyelenggaraan pemerintahan, baik soal layanan publik maupun realisasi anggaran yang memang terlihat tidak baik baik dari perencanaan, realisasi dan bahkan pertanggungjawaban," kata Askhalani.

Menurut GERAK, ini perlu dikritisi karena kalau pimpinan DPRA yang muda tapi tidak memiliki sikap kritis sama dengan menunjukkan bahwa mereka gagal paham dalam memahami kondisi ril publik Aceh saat ini.

Masih menurut Askhalani, saat ini lembaga DPRA terkesan tumpul dan kurang memainkan perannya sebagai wakil rakyat. Kata Askhalani, sejak dilantik sampai saat ini, hanya beberapa orang saja yang masih memiliki kepekaan publik tapi lebih banyak yang diam.

"Dan bahkan hasil temuan kita hanya tujuh orang saja yang selama ini menjadi trading sedangkan yang lain diam dan tidak mengerti tupoksi," pungkas Askhalani. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved