Kamis, 23 April 2026

Luar Negeri

Benarkah Bendera Merah Pertama Kali Berkibar di Iran dan Isyarat Perang atas Terbunuhnya Soleimani?

Tak lama setelah itu, Iran mengibarkan sebuah bendera merah di Masjid Jamkaran, Kota Suci Syiah, Qom.

Editor: Faisal Zamzami
The Sun
Bendera merah telah berkibar di Iran. 

SERAMBINEWS.COM - Pada Jumat, 3 Januari 2020 lalu, Pimpinan Tertinggi Pasukan Al Quds, Jenderal Qasem Soleimani meninggal dalam serangan udara oleh Amerika Serikat.

Tak lama setelah itu, Iran mengibarkan sebuah bendera merah di Masjid Jamkaran, Kota Suci Syiah, Qom.

Pemberitaan yang beredar secara masif menyebutkan, bendera itu pertama kali dikibarkan di Masjid Jamkaran untuk seruan balas dendam setelah kematian Soleimani.

Akan tetapi, bendera ini sebenarnya telah beberapa kali berkibar di masjid tersebut.

Verifikasi AFP

Beragam akun Twitter serta jaringan media besar di dunia, seperti Daily Mail, Times of India, dan Daily Express menarasikan bahwa pengibaran itu merupakan yang pertama kalinya dan sebagai simbol akan adanya balas dendam.

Akan tetapi, kantor berita AFP mengkonfirmasi pengibaran bendera merah setelah kematian Soleimani, bukanlah yang pertama kalinya di Masjid Iran.

Informasi ini disampaikan melalui artikel yang tayang pada Senin (6/1/2020).

Disebutkan, bendera merah ini pernah berkibar di atas Masjid Jamkaran seperti di seluruh wilayah Muslim Syiah.

Hal ini disebutkan langsung oleh salah satu pengurus masjid yang membidangi budaya, Yassine Hossein Abadi.

Menurutnya, bendera merah dikibarkan di masjid di Iran, selama bulan Muharam.

Bendera itu dikibarkan selama 10 hari di bulan Muharam, memperingati kematian Hussein Ibn Ali yang merupakan keturunan Nabi Muhammad.

Bendera yang sama juga banyak ditemui di jalanan Teheran pada hari Senin sebagai penghormatan terhadap kematian Soleimani.

Hossein menjelaskan, keberadaan bendera merah di Masjid Jamkaran baru sekitar 3 tahun terakhir.

Untuk pengibaran kali ini yang dilakukan di luar bulan Muharam, itu dimaksudkan untuk menghormati kesyahidan Jenderal Qasem Soleimani dan rekan-rekan yang meninggal di Baghdad.

"Karena kesyahidan (...) Jenderal Qasem Soleimani dan rekannya (...) kami mengibarkan bendera ini sehingga semua penganut (Syiah) di dunia dan semua pejuang kemerdekaan berkumpul di bendera ini untuk membalas darah Qasem Soleimani yang ditumpahkan secara tidak adil," kata Abadi kepada AFP.

Bendera tersebut menggunakan tulisan Arab yang berbunyi "Ya la-Tharat al-Hussein" yang artinya "O kamu pembalas Hussein".

Sebagai cucu Muhammad, Hussein adalah salah satu tokoh Islam Syiah yang paling dihormati karena sifatnya yang adil.

Hussein terbunuh pada tahun 680 saat pertempuran Karbala, Irak, oleh pasukan khalifah Yazid.

Kesimpulan

Bendera merah beberapa kali dikibarkan selama 10 hari di Bulan Muharam, atau bulan berkabung sebagai sebuah prosesi keagamaan.

Meskipun ini dikibarkan di luar Bulan Muharam, tetapi bendera ini bukan pertama kalinya berkibar di Iran.

Arti pengibaran bendera merah

Melansir dari The Times of India, bendera merah Iran ini berarti panggilan untuk melakukan pembalasan terhadap kematian Soleimani yang tewas karena serangan Amerika Serikat di Baghdad.

Bendera merah dalam tradisi Syiah melambangkan darah yang tumpah secara tidak adil dan sebagai panggilan untuk membalas seseorang yang terbunuh.

Bendera merah, konon dikibarkan di tempat suci Imam Hussain di Karbala setelah kematiannya dalam Pertempuran Karbala (680 M).

Bendera tersebut belum diturunkan sampai sekarang.

Sejalan dengan tradisi Syiah, bendera itu hanya akan diturunkan begitu kematian Imam Hussain dibalas.

Sementara saat ini, pengibaran bendera merah menggarisbawahi keseriusan seruan Iran untuk membalas kematian Kepala Pasukan Elit Quds, Qasem Soleimani.

Pejabat Iran: Tanggapannya adalah Militer

Dalam wawancara dengan CNN, penasihat militer Khamenei, Brigadir Jenderal Hossein Dehghan mengusulkan respons atas serangan AS.

"Tanggapan yang paling tepat adalah militer, dan tentu saja menyasar target militer," ujar Dehghan dilansir AFiP Minggu (5/1/2020).

Di Masjid Jamkaran, Kota Suci Qom, Iran mengibarkan bendera merah yang kemudian disiarkan oleh stasiun televisi lokal.

Dalam tradisi Syiah, bendera merah melambangkan darah yang tumpah secara tidak adil dan panggilan untuk membalas kematian seseorang.

Konon, peristiwa serupa pernah terjadi ketika tokoh Syiah, Imam Hussain, tewas dalam Pertempuran Karbala, 680 Masehi.

Saat itu, bendera tersebut tidak diturunkan hingga kematian Imam Hussain dibalaskan, sesuai dengan tradisi yang mereka anut.

Dalam konferensi pers, juru bicara luar negeri Abbas Mousavi menyebut Iran tidak berniat untuk memulai peperangan.

"Namun kami siap dalam situasi apa pun," tegasnya menambahkan, keputusan sikap mereka tergantung kepada para pimpinan.

Namun dalam wawancaranya dengan CNN, Dehghan menuturkan bahwa adalah AS yang sudah menyulut peperangan dengan membunuh Qasem Soleimani.

"Karena itu, mereka harus menerima balasan yang sesuai dengan tindakan mereka," ujar mantan menteri pertahanan itu.

"Satu-satunya cara untuk menghentikan ini adalah AS menerima dampak seperti yang sudah kami rasakan sebelumnya," ancamnya.

Kematian Soleimani begitu mengejutkan.

Pasalnya di Iran, dia dianggap pahlawan dan digadang sebagai penerus Khamenei.

Irak menyikapi serangan tersebut dengan parlemennya mengeluarkan resolusi yang berisi seruan agar pasukan AS keluar dari negara mereka.

Presiden Donald Trump merespons seruan tersebut dengan ancaman bakal menjatuhkan sanksi yang "membuat hukuman Iran seolah recehan".

DPRK Minta Pemprov Tangani Jembatan Peuribu Aceh Barat, Begini Tingkat Kerusakannya

Petani di Abdya Bergembira, Harga Sawit Naik Menjadi Rp 1500 Per Kilo

Zuraida Hanum Istri Muda Hakim Jamaluddin Suruh 2 Orang Bunuh Suami, Sang Anak Kenny Akbari Histeris

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Soleimani Terbunuh oleh Serangan AS, Benarkah Bendera Merah Pertama Kali Berkibar di Iran?"

Penulis : Luthfia Ayu Azanella

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved