Salam

Human Trafficking Itu Kejahatan Yang Rapi  

Nurdin Abdullah (70) menangis terisak kala melaporkan ke Polda Aceh tentang putrinya, Syafridawati (27), yang hilang setelah berangkat

Human Trafficking Itu Kejahatan Yang Rapi   
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Nurdin (70) ayah Syafridawati, gadis asal Gampong Krueng Lingka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara yang hilang di Malaysia saat membuat laporan di Polda Aceh, Senin (13/1/2020). 

Nurdin Abdullah (70) menangis terisak kala melaporkan ke Polda Aceh tentang putrinya, Syafridawati (27), yang hilang setelah berangkat ke Malaysia untuk bekerja sejak 2015. Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin SH dan tim yang mendampingi Nurdin, menduga gadis asal Krueng Lingka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara itu menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking).

Kepada polisi Nurdin melaporkan seorang wanita bernama Mutia, warga sekampung dengannya. Mutia lah yang mengajak dan membawa putri bungsunya ke Malaysia pada 18 Agustus 2015. 

Awalnya Nurdin tak setuju anaknya dibawa ke negeri jiran itu. Namun, karena berkali-kali Mutia dan suaminya membujuk dengan mengimingi gaji Rp 3 juta dan uang kiriman Rp 500.000 setiap bulan, akhirnya hati Nurdin luluh dan mengizinkan Syafridawati dibawa untuk bekerja di Malaysia.

Menurut Nurdian, setiba di Malaysia, Syafridawati sempat menghubungi dirinya menginformasikan bahwa ia sudah sampai. Namun setelah itu, lama anaknya berkabar. Tahun 2016 pernah telepon sekali, kemudian 2017 sekali. Dia nangis, katanya mau pulang tapi tidak ada uang. Cuma itu dia hubungi setelahnya tak pernah lagi.

Kini Nurdin berharap putrinya Syafridawati segera bisa pulang ke Aceh agar bisa berkumpul bersama lagi. Nurdin mengaku cukup rindu kepada sang putri yang dikhawatirkan telah mengalami nasib buruk di perantauan.

Sama seperti Nurdin, kita juga berharap Syafridawati bisa segera kembali berkumpul dengan keluarganya. Namun, kita juga ingin mengingatkan bahwa sejak beberapa tahun terakhir sudah banyak sekali wanita-wanita muda dari Aceh yang diindikasikan menjadi korban perdagangan manusia. Belasan tahun sudah, Aceh termasuk yang menjadi daerah asal korban perdagangan orang ke luar negeri dengan tujuan Malaysia, Singapura, Brunei, Taiwan, Jepang, Hongkong, dan Timur Tengah.

Berkali-kali pula kita sudah mengingatkan para orang tua agar berhati-hati melepaskan anaknya merantau ke luar negeri atau ke luar daerah tanpa kepastian alamat orang dan perusahaan yang membawanya sekaligus tempat pasti si anak akan bekerja di luar daerah atau luar negeri.

Kita berharap Syafridawati tidak menjadi korban dari sindikat perdagangan manusia. Namun, kita ingin menyampaikan kepada masyarakat, bahwa perdagangan orang merupakan bentuk perbudakan secara modern, terjadi baik dalam tingkat nasional maupun internasional.

Kemudian, menurut para pemerhati, dengan berkembangnya teknologi informasi, komunikasi dan transformasi, modus kejahatan perdagangan manusia semakin canggih. Perdagangan orang bukan kejahatan biasa, terorganisasi, dan lintas negara. Tindak pidana perdagangan orang dirasakan sebagai ancaman bagi masyarakat, bangsa dan negara, serta terhadap norma-norma kehidupan yang dilandasi penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Penyebab utama maraknya kejahatan ini karena faktor ekonomi dan tak tersedianya lapangan kerja, tingkat pendidikan yang rendah, tingkat keamanan yang rendah, dan kurangnya rasa peduli pemerintah sehingga peluang-peluang itu dimanfaatkan sindikat human trafficking. Makanya. Sebagian besar wanita yang menjadi korban perdagangan manusia berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi. “Anehnya, bos besar perdagangan manusiatak pernah tertangkap di Indonesia maupun di luar negeri, padahal sudah banyak korban,” tulis seorang pengamat.

Permasalahan perdagangan manusia seperti fenomena gunung es. Semakin lama, korbannya semakin banyak. Semakin lama, modus kejahatannya semakin canggih. Dan, semakin lama pula, kita semakin prihatin bahkan takut pada aktvitas sindikat perdagangan manusia.

Sekali lagi, kita berharap pemerintah di Aceh bersama jajaran terkait hendaknya memberi pemahaman secara serius kepada masyarakat agar tidak menjadi korban kejahatan perdagangan manusia dan perdagangan anak. Ini penting, karena Aceh memiliki banyak orang miskin dan berpendidikan rendah. Itu adalah sasaran empuk para sindikat kejahatan tersebut.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved