Rabu, 27 Mei 2026

Mengenang 24 Tahun Karamnya Kapal Gurita

Tragedi Kelam Sehari Jelang Meugang Puasa

Jumat 19 Januari 1996, merupakan peristiwa penting yang dalam sejarah Aceh. Pada tanggal itu, Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Gurita

Tayang:
Editor: hasyim
DOK /Muhibbudin alias Ucok Sibreh
Muhibbudin alias Ucok Sibreh ( tiga kiri), korban selamat KMP Gurita berfoto bersama Adi (dua kiri), mantan ABK yang juga korban selamat kapal KMP Gurita serta keluarganya di Medan, Sumatera Utara. Foto diambil dua pekan lalu. DOK /Muhibbudin alias Ucok Sibreh 

Tanpa disadari bahwa itu percakapan terkahir mereka. Sebab tak lama setelah itu, petaka terjadi. Kapal Gurita masuk air. Suasana panik. Kapal oleng sangat kuat. Ombak pun terlihat deras. Gema istiqfar menggema di tengah kepanikan penumpang.

Teriakan tangis memecahkan kesunyian malam itu. Pangilan ayah, ibu, dan anak terdengar dimana-mana. Bahkan ada satu keluarga bersama anaknya terlihat panik, loncat ke laut atau tenggelam bersama kapal. Bagian depan kapal mulai ditelan air. Perjalanan masih setengah jam lagi untuk sampai ke Pelabuhan Sabang.

Dalam gelap gulita, sebagian penumpang memilih loncat ke laut ketika setengah badan kapal sudah dipenuhi air. Sementara kebanyakan penumpang lainnya terjebak dalam deck kapal. Di dalam air, orang-orang berteriak minta pertolongan. Semua saling menyelamatkan diri.

                                                                        ***

Biasanya kapal sudah merapat ke Pelabuhan Balohan sekitar pukul 20.00 WIB jika berangkat sore, atau paling lama terlambat satu jam. Tapi sudah pukul 22.00 WIB, kapal juga belum merapat. Fitri Juliana dan keluarganya kala itu tidak merasa cemas, karena saudaranya sudah janji pulang keesokannya.

“Karena kami masih anak-anak, pukul 10.00 tidur. Keluarga tidak merasa cemas karena kakak dan abang sudah duluan memberitahu akan pulang hari Sabtu. Kakak kuliah di Banda Aceh sedangkan si abang masih SMA di Banda Aceh,” kata Fitri kepada Serambi yang kini bekerja sebagai wartawan di Banda Aceh.

Fitri mengaku baru mengetahui kapal Gurita benar-benar tenggelam sekitar pukul 24.00 WIB. Kabar tenggelamnya kapal itu sampai ke Sabang setelah salah seorang penumpang kapal Gurita berhasil berenang hingga ke tepi pantai. Kabar itu dengan cepat tersebar dari mulut ke mulut.

Saat itu, ayah Fitri, Idris Latif, langsung memastikan apakah kedua anaknya berada di kapal itu atau tidak. Ayah Fitri yang saat itu seorang tentara menelpon anggotanya yang berada di Banda Aceh untuk mengecek anaknya di rumah kos. Ternyata tidak ada. Informasi yang diterima, kakak dan abang Fitri ikut pulang malam itu.

Sejak malam itu, semua warga Sabang berkumpul di Pelabuhan Balohan. Masing-masing keluarga sudah menyiapkan kain batik panjang. Setiap mayat yang ditemukan langsung diserbu oleh warga untuk memastikan apakah keluarganya atau bukan. Suasana duka menyelimuti Sabang malam itu.

Hingga pencarian dihentikan, hanya 54 mayat yang ditemukan. Kakak dan abang Fitri tidak pernah ditemukan. Diyakini, jasadnya terkubur bersama kapal ke dasar laut. Sudah 24 tahun musibah itu berlalu. Hanya untaian doa yang selalu dikirim keluarga untuk para korban kapal Gurita.(masrizal bin zairi)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved