Jurnalisme Warga
Menerka Dalil Belanda Tanam Asam Jawa
Sebenarnya jalan Garot-Reubee ini bisa dijadikan sebagai alternatif oleh pengendara sepeda motor jika berpergian melewati Caleu-Padang Tiji,
OLEH MUHAMMAD AFNIZAL, S.Sos., Guru Ilmu Pengetahuan Sosial di MTsN 8 Pidie, melaporkan dari Sigli
That jai inoe bak mee (Sangat banyak di sini pohon asam jawa). Begitulah ibu saya berseru dengan girang dalam bahasa Aceh ketika suatu sore saya ajak beliau “mencari angin” dengan sepeda motor menelusuri jalan Garot-Reubee, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie. Ini adalah kali pertama beliau mengunjungi saya selama saya ditempatkan untuk bekerja di sini sebagai abdi negara.
Sebenarnya jalan Garot-Reubee ini bisa dijadikan sebagai alternatif oleh pengendara sepeda motor jika berpergian melewati Caleu-Padang Tiji, karena jalan ini menghubungkan antara Simpang Caleu dan Padang Tiji. Setidaknya ada dua alasan mengapa harus dari jalan ini, yaitu waktu tempuh yang lebih efektif, karena lebih dekat dan perjalanan akan ditemani oleh pemandangan yang asri dan minim polusi.
Ibu saya juga bertanya iseng kepada saya mengapa sepanjang jalan ini ditanami pohon yang bernama Latin Tamarindus indica tersebut. Tentu beliau bertanya sekadar iseng sebagai bahan obrolan selama dalam perjalanan. Namun, pertanyaan beliau berhasil membius saya untuk selalu penasaran tatkala melihat pohon asam nan rindang yang berjejer rapi dan menjulang tinggi tersebut.
Rasa penasaran membuat saya bertanya kepada beberapa lansia penduduk asli daerah Garot, siapa yang menanam dan mengapa pohon yang memiliki rasa kecut ini yang ditanam. Semua narasumber yang saya tanya menjawab bahwa yang menanam bak mee tersebut adalah kaphee Beulanda. Kakek dan nenek yang saya tanyai mengaku bahwa informasi tersebut mereka dengar dari kakek dan nenek mereka, karena ketika mereka kecil pohon asam jawa ini sudah demikian adanya.
Hal tersebut bisa benar, seperti pengakuan K. Heyne, penulis buku “De Nuttige Planten van Ned”, dia menceritakan dalam bukunya, “The Batavia heb ik een laan van 30 a 40 oude tamarindeboomen zien rooien voor het verbreeden van den weg”, yang berarti bahwa dia pernah melihat di Batavia (wilayah Jakarta) pohon asam jawa yang sudah tua berjejer sekitar 30-40 pohon. Ini menjelaskan bahwa sebelum dia menulis buku yang terbit tahun 1916 itu sudah ada pohon asam jawa yang ditanam. Namun sayangnya, tidak ada jawaban pasti dari kakek dan nenek yang saya tanyakan mengapa pohon ini ditanam di kampung mereka.
Rasa penasaran saya yang membara membuat saya menelusuri dunia maya untuk mencari jawabannya. Namun sayangnya pun tidak saya temukan ulasan mengapa para penjajah tersebut menanam pohon asam jawa di Aceh. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah buku yang telah saya sebutkan di atas, ditulis dalam bahasa Belanda dan diberi judul “De Nuttige Planten van Ned” terbitan tahun 1916. Di halaman 232-235 buku itu saya temukan beberapa penjelasan tentang pohon asam jawa.
Lalu saya coba menerka beberapa alasan yang dijadikan Belanda untuk menanam pohon ini. Alasan pertama adalah pohon ini (seperti disebutkan Heyne) bersifat welbekende (terkenal) dan fraaie (indah) sehingga sangat cocok dijadikan sebagai “hiasan” jalanan. Sepertinya memang demikian karena pohon ini rata-rata saya temui ditanam di pinggiran jalan (jika memang benar) oleh Belanda, seperti di Aceh Besar, Kota Banda Aceh, dan Kota Sabang.
Alasan kedua, pohon ini cocok dijadikan sebagai peneduh di jalan karena daunnya yang lebat, tapi berukuran kecil-kecil sehingga tidak membuat “semak” jalanan. Sungguh tidak lucu dan bisa dibayangkan kalau Belanda menanam pohon ketapang yang daunnya besar-besar tentu akan sangat membuat semak dan malah membuat para marsose sibuk “menyapu” jalanan, bukannya berperang, hehehe. Siapa tahu juga Belanda berpikir jika daunnya yang kecil akan membuat pejuang Aceh sulit bersembunyi di dedaunan pohon untuk menyergap Belanda dan menyerang dari “udara”. Ya, mungkin begitulah alasan penjajah yang bengis itu.
Alasan ketiga, pohon ini memiliki batang berkambium dan sangat kuat. Kokohnya batang dan dahan dari asam jawa sangat terkenal. Umur pohon ini yang sangat panjang sepertinya adalah alasan yang tepat mengapa Belanda menanam pohon ini di Aceh dan di tempat lain yang ingin dan yang sudah mereka kuasai. Begitulah Belanda, yang mareka targetkan adalah hasil yang “kuat”dan “tahan lama”, bukan cepat tumbuhnya, tapi cepat pula matinya asalkan bertahan lima tahunan, setelah “terpilih” nanti buat program untuk tanam lagi. Yang penting, dana terkuras untuk penghijauan dan pencitraan lancar jaya.
Apa pedulinya Belanda dengan “pencitraan” kala itu, toh mareka tidak ada niat mengadakan pemilu dengan pribumi, masalah dana pun tidak jadi soal, karena pekerja rodi harus siap melayani mereka kapan pun dan di mana pun itu. Masalah bibit pun tinggal suruh saja anak-anak para pribumi untuk menyemainya, Belanda mau buat program tanam seribu, sejuta, sepuluh juta, sampai semiliar pohon pun tidak jadi soal. Paling-paling nenek moyang (endatu) kita yang sengsara. Namun, jika benar alasan ini yang membuat Belanda memilih pohon asam jawa untuk ditanami, sepertinya membuat mereka lebih beradab. Kelakuan mereka sebagai penjajah jauh membuat mereka lebih berotak daripada “penjajah” yang lain di negeri ini.
Alasan keempat ditananmnya asam jawa sepertinya karena Belanda tahu betul bahwa Tamarindus indica adalah pohon yang cocok hidup di iklim tropis, karena jika iklim Indonesia sama dengan iklim di Belanda tentu tidak akan dipilih pohon asam jawa ini.
Alasan selanjutnya adalah bahwa pohon asam jawa ini juga memiliki fungsi sebagai sumber makanan dan pengobatan, buahnya yang dapat dikonsumsi, terlebih buahnya termasuk dalam salah satu bahan rempah. Sebagaimana kita tahu bahwa alasan utama Belanda bertandang ke negeri kita adalah masalah rempah, tentu sayang jika melewatkan rempah yang satu ini.
Saya sangat yakin bahwa alasan inilah sebagai alasan utama Belanda menanam pohon asam jawa ini, sebagaimana penjelasan rinci dari K. Heyne dalam bukunya bahwa telah terjadi kegiatan pengiriman asam jawa dari Bali ke Singapura, selanjutnya Madura, dan Timor pernah mengirimkan 344 ton terutama ke Sulawesi.
Lebih lanjut dia jelaskan bahwa “worden in Bangkalan groote voordeden getrokken van de boomen, die daar langs den postweg en eenige binnenwegen zijn aangeplant” yang berarti bahwa hasil panen tersebut diambil dari pohon-pohon (asam jawa) yang tumbuh di jalan “pos” dan dari pohon yang telah ditanam di jalan darat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/muhammad-afnizal-ssos-guru-ilmu-pengetahuan-sosial-di-mtsn-8-pidie-melaporkan-dari-sigli.jpg)