Breaking News:

Jurnalisme Warga

Blang Padang, Sarana Olahraga dan Belajar

DI sela-sela kesibukan sehari-hari dalam bekerja, saya sempatkan diri untuk selalu berolahraga setiap hari dengan mendayung sepeda

Editor: bakri
Blang Padang, Sarana Olahraga dan Belajar
IST
DR. MURNI, S.Pd.I., M.Pd., Dosen, Warga Punge Jurong, melaporkan dari Kota Banda Aceh

OLEH DR. MURNI, S.Pd.I., M.Pd., Dosen, Warga Punge Jurong, melaporkan dari Kota Banda Aceh

DI sela-sela kesibukan sehari-hari dalam bekerja, saya sempatkan diri untuk selalu berolahraga setiap hari dengan mendayung sepeda. Selain dapat menyehatkan badan, perasaan senang di hati, akan didapat pada saat mendayung sepeda.

Saat melakukan traveling (perjalanan) dengan sepeda memberi kesan yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari saya. Banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi di sekitar Banda Aceh. Salah satunya adalah Lapangan Blang Padang yang letaknya tepat di jantung Kota Banda Aceh.

Berangkat dari rumah ke Lapangan Blang Padang memerlukan waktu sekitar lima menit saja. Cuaca di sore hari ternyata cukup cerah. Dengan memakai masker hijau yang fungsinya untuk mencegah debu yang beterbangan dan asap mengandung racun yang keluar dari knalpot sepeda motor, becak, mobil, atau kendaraan lainnya, saya melaju dengan perlahan melewati rumah-rumah penduduk serta sekolah yang berada tak jauh dari tempat saya tinggal.

Sebelum tiba di pintu gerbang utama, di bagian trotoar, sudah terlihat ada beberapa pelajar dengan penuh canda ria berjalan beriringan belok ke kanan dan memasuki pintu gerbang. Juga terlihat sekelompok warga kota yang bergegas berlari-lari kecil memasuki gerbang utama. Saya yang berada di belakang mereka tak ketinggalan menuntun sepeda memasuki pintu gerbang yang sama. Setiba di dalam Lapangan Blang Padang yang luasnya lebih kurang 8 hektare (ha), saya melihat cukup ramai warga serta kerumunan pelajar yang sedang melakukan berbagai aktivitas. Ada yang jogging, bersepeda, sepak bola, bermain basket, anak-anak bermain skuter, ibu-ibu dan bapak-bapak berlari santai di lintasan yang berwarna agak kemerah-merahan dengan ukuran kurang lebih 400 meter satu kali keliling.

Di sini juga kita bisa menyaksikan sebagian orang memilih jogging  atau jalan-jalan santai di  track atau lintasan yang lebih panjang dan jauh yang terbuat dari semen. Bahkan banyak juga yang sekadar duduk santai di atas rumput berkumpul bersama keluarga.

Jika  kita pergi ke Lapangan Blang Padang pada hari Minggu ada senam rutin jantung sehat cabang Provinsi Aceh. Senam jantung sehat dibimbing oleh instruktur yang cukup profesional dan menghibur, yakni Pirak Sibayak Ketaren. Seluruh kegiatan olahraga sangat bermanfaat bagi masyarakat yang beraktivitas di lapangan luas ini.

Sebelum terjadinya gempa dan tsunami, Lapangan Blang Padang  kerap dimanfaatkan oleh warga sebagai sarana wisata dan olahraga. Selain itu, lapangan ini juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk memperingati hari-hari besar nasional, baik oleh TNI, Polri, PNS,  dari berbagai instansi, pameran, latihan prajurit, latihan pencak silat, pentas seni,  konser-konser band, expo, hingga aneka perlombaan lainnya.

Duduk santai menikmati segarnya udara di Lapangan Blang Padang ibarat menatap luasnya sejarah Aceh yang tak mampu ditelusuri seluruhnya. Lapangan seluas 8 ha ini tidak hanya menjadi saksi perjuangan masyarakat Aceh tempo dulu, melainkan juga saksi betapa dahsyatnya gempa diiringi terjangan tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004.  Pada saat terjadinya tsunami, Lapangan Blang Padang sedang ramai dikunjungi warga Banda Aceh. Apalagi saat itu ada event besar olahraga digelar di sana yang disebut Maraton Banda Aceh 10 K, sehingga banyak yang menjadi korban meninggal akibat gempa dan tsunami . Setelah bencana alam tersebut, sontak segala aktivitas yang telah disebutkan di atas menjadi hilang sama sekali. Kota Banda Aceh menjadi kota mati suri. Setelah 15 tahun pascagempa dan tsunami Lapangan Blang Padang menjelma menjadi destinasi wisata yang indah, asri, penuh sejarah, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang mendengar apalagi yang ada kesempatan pergi langsung ke sana.

Sebagai bentuk ucapan terima kasih Pemerintah dan masyarakat Aceh atas kehadiran sekitar 600 Non-Governmental Organizations (NGO) dari 34 negara yang membantu Aceh pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami, maka Pemerintah Aceh membangun tugu ‘Thanks to the World’. Tugu tersebut ditulis dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan bahasa masing-masing negara. Didedikasikan kepada negara-negara yang tidak hanya telah membantu memperbaiki dan membangun kembali Aceh yang porak-poranda dalam bentuk materi (seperti bangunan dan fasilitas umum), tetapi juga terhadap psikologi para korban yang telah kehilangan anggota keluarga dan harta benda.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved