Guru SMP Pante Bidari Mengajar Sambil Gendong Bayi  

Guru SMP 4 Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur harus menggendong bayi saat mengajar di dalam ruang kelas

Guru SMP Pante Bidari Mengajar Sambil Gendong Bayi   
Foto Kiriman Kepsek SMP4 Pante B
Khusnul Khatimah guru PNS SMP4 Pante Bidari mengajar sambil menggendong bayinya seusai melewati jalan berlumpur di Gampong Blang Senong, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur. 

IDI - Guru SMP 4 Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur harus menggendong bayi saat mengajar di dalam ruang kelas. Fotonya berjalan kaki di jalan berlumpur menuju sekolah di pedalaman Aceh Timur, viral di media social Facebook. Guru itu berjalan kaki sambil menggendong bayinya, seusai turun dari sepeda motor yang dikendarai suaminya, karena licin dan berlumpur di Gampong Blang Senong, Pante Bidari.

“Foto itu saat ujian semester 2019. Guru Khusnul Khatimah Arif bersama suaminya dan dua anaknya menggunakan sepmor menuju sekolah di Dusun Sijuk, Gampong Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur,” ungkap Kepala SMP 4 Pante Bidari, Islahuddin SPdi, MPd, kepada Serambi, Jumat (14/2).

Islahuddin, mengatakan Khusnul Khatimah Arif Guru Garis Depan (GGD) untuk daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) asal Meulaboh, Aceh Barat. Di Aceh Timur, dia tinggal di Kuta Binjei, Kecamatan Julok, Aceh Timur.

“Kita terus mendukung para guru bahwa guru GGD di daerah 3 T memang harus menempuh perjuangan seperti itu, khususnya saat musim hujan. Kalau musim kering tidak ada masalah,” jelas Islahuddin.

Dikatakan, akses menuju SMP 4 Pante Bidari, berjarak 25 km dari jalan nasional, atau sekitar 2,5 jam perjalanan darat menggunakan sepmor, karena jalan rusak. SMP 4 Pante Bidari, merupakan sekolah paling ujung di bagian barat Aceh Timur, yang berbatasan dengan Samar Kilang, Bener Meriah, dan Tanah Merah, Aceh Utara.

Saat ini, sekolah memiliki 52 pelajar dari Gampong Sijudo, dan Sarah Gala dengan 11 guru PNS, dan sejumlah guru kontrak, serta memiliki 5 ruang kelas, ruang laboratorium, dan perpustakaan. Dikatakan, karena tempat tinggal guru jauh, maka naik ke sekolah maka para guru nginap di sekolah. Salah satu ruang laboratorium di sekolah itu disekat dan dijadikan kamar untuk para guru.

“Kalau sudah ke sekolah, guru harus menginap 3-5 hari dan sepulang jam sekolah, para guru juga membuat ekstrakurikuler,” jelas guru SMPN4 asal Simpang Ulim ini. Dia mengatakan para guru memiliki semangat tinggi mengajar, karena para pelajar SMP di daerah pedalaman itu sangat antusias mengikuti proses belajar mengajar.

Mayoritas anak-anak dari suku Gayo, yang umumnya para orang tua siswa di daerah ini berprofesi sebagai petani. “Para guru tidak mau dipindahkan, karena anak-anak sangat patuh, dan memiliki minat belajar tinggi, sehingga para guru sangat kagum," ungkap Islahuddin, yang sudah 5 tahun menjabat sebagai Kepala SMPN 4, seraya menambahkan pihaknya membutuhkan komputer dan jaringan internet.

Dia mengatakan akses warga daerah pedalaman ini lebih dekat ke Lokop, dan Tanah Merah, Aceh Utara, melalui jalur sungai menggunakan boat.  Disebutkan, pada Maret 2018, SMP 4 menjadi pusat kegiatan program mengedukasi anak negeri (MeAN) yang digelar oleh masyarakat SM3T bekerjasama dengan Guru Garis Depan.(c49)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved