Usaha Kreatif
Parfum "That Mangat Bee" di Pedalaman Aceh Utara Mulai Merambah Pasar Nasional
Kini ia kembali membuat inovasi, dengan memanfatkan hasil nilam masyarakat, berupa pembuatan parfum dan pewangi mobil.
Penulis: Saiful Bahri | Editor: Ansari Hasyim
"Minyak nilam dasarnya dibutuhkan di sini untuk membuat wanginya awet," katanya.
Selanjutnya, setelah diaduk sekitar 15 menit, maka cairan yang sudah bercampur tersebut didiamkan dalam botol selama 24 jam.
Setelah itu baru dimasukan ke dalam botol untuk dipasarkan.
Sedangkan untuk saat ini pihaknya baru memproduksi empat varian untuk parfum, yakni For Man, For Women, Aroma Seulanga, dan Kopi.
Sedangkan untuk pewangi mobil baru dua varian, yakni Arima Seulanga dan Kopi.
Untuk kemasan dan harga, parfum dengan ukuran 50 mili dijual dengan harga Rp 95 ribu dan pewangi mobil ukuran 20 mili dengan harga Rp 25 ribu.
Untuk pemasaran produksi tersebut, sudah dimulai sejak 18 November 2019.
Melalui media sosial ataupun adanya event UMKM.
"Untuk event UMKM, kita pernah pamerkan di Jakarta sebanyak dua kali," katanya.
Untuk peminat, menurutnya sejauh ini sudah lumanyan, dimana omzet penjualan tiap bulannya sudah mulai Rp 3 juta.
"Pastinya kita akan terus mengembangkan usaha ini, termasuk sudah mendatangkan tim BBPOM Aceh untuk proses izin. Dengan harapan nantinya akan menjadi produk yang diminati masyarakat," demikian Mahyeddin.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/minyak-wangi-7787.jpg)