Amalan, Alumni UIN Ar-Raniry yang Memilih Mengabdi untuk Anak-anak Mualaf di Pedalaman Aceh Tengah
Di dusun tersebut, tercatat dihuni sebanyak 87 kepala keluarga. Mayoritas di antaranya merupakan petani kebun serta pengungsi dari Sumatera Utara
Di Dusun Kala Wih Ilang, sebut Amalan, tak semua penduduknya beragama Islam. Ada sekitar 14 kepala keluarga masih berstatus nonmuslim.
“Makanya yang sudah mualaf benar-benar saya jaga agar tak kembali ke agama semula,” ungkapnya.
Beruntung kabar tentang Dusun Kala Wih Ilang sampai ke jajaran Kemenag Aceh pada 2017 lalu. Jajaran itupun kemudian turut ke lokasi untuk melihat kondisi di sana.
“Selain saya, di sana ada juga ibu Sulastri yang mengajar di MIS Wih Ilang. Kondisi MIS masih jauh dari kata layak. Jadi kondisinya komplet,” ujar pria muda itu.
Berkat perjuangan Amalan dan beberapa guru lainnya di MIS Wih Ilang, sebanyak 5 anak di sekolah tersebut, termasuk di antaranya anak mualaf, mendapat beasiswa dari Kemenag Aceh untuk dapat melanjutkan pendidikan ke salah satu sekolah modern hafalan Alquran di Banda Aceh.
“Tiga dari lima anak itu adalah mualaf. Ini yang membuat saya sangat senang. Mereka memperoleh beasiswa hingga selesai Aliyah. Mudah-mudahan suatu saat bisa pulang ke Wih Ilang dan membumikan Alquran,” harap Amalan.
Jalan yang terjal dan jauh, sarana pendidikan yang minim, dan ekonomi masyarakat yang rata-rata di bawah kemiskinan menjadi tanggung jawab dari Amalan Shalihan serta beberapa guru yang mengabdi di Wih Ilang. Belum lagi kondisi fasilitas kesehatan yang masih minim.
“Saya harus bertahan demi keluarga mualaf di sana. Doakan saya sehat dan dapat terus mengabdi,” ujar pria yang berstatus ayah dari satu anak ini.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/amalan-bersama-anak-anak-mualaf.jpg)