Ruko Terbakar di Aceh Timur
Kisah Ayah yang Menerobos Api Selamatkan Istri & 4 Anaknya dari Kebakaran di Sungai Raya Aceh Timur
"Jika saya terlambat bangun sekitar 15 menit saja mungkin kami semua sudah jadi abu".
Penulis: Seni Hendri | Editor: Nur Nihayati
"Jika saya terlambat bangun sekitar 15 menit saja mungkin kami semua sudah jadi abu".
Laporan Seni Hendri l Aceh Timur
SERAMBINEWS.COM, IDI - "Jika saya terlambat bangun sekitar 15 menit saja mungkin kami semua sudah jadi abu".
Itulah diungkapkan seorag korban kebakaran delapan ruko di Sungai Raya, Aceh Timur.
Korban itu bernama Dedek (38) dengan mata berkaca-kaca mengisahkan peristiwa memilukan itu dengan suara datar.
Saat itu ia menceritakan perjuangannya menyelamatkan Nora (30) istri dan empat anaknya dari kobaran api yang membakar rumahnya dan juga tujuh ruko lainnya.
Lokasi kebakaran itu persisnya di Desa Labuhan Keude, Kecamatan Sungai Raya, Aceh Timur, Kamis (2/4/2020) pukul 04.00 WIB.
• Tak Dimakamkan, Korea Utara Jadikan Mayat Manusia untuk Pupuk Tanaman
• Bupati Aceh Singkil Antar Minuman Sehat ke Pos Corona Perbatasan
• Stok APD dan Masker di RSUD SIM Nagan Raya Minim, Cuma Tersedia untuk 10 Hari ke Depan
"Tak ada yang paling berharga selain anak dan istri saya. Alhamdulillah istri dan anak semuanya selamat, sedangkan barang semuanya ludes terbakar," ungkap Dedek sambil memangku anak bungsunya Aqila (1,5 tahun).
Dua hari sebelum musibah kebakaran ini, ungkap Dedek, ia mengalami firasat tidak enak dan gelisah.
Tepat malam sebelum kebakaran, ungkap Dedek, ia juga gelisah kemudian ia bangun dan memasak air untuk minum Nescafe.
Sekitar pukul 02.00 WIB, ia tidur bersama istri dan anak di kamar.
Tak lama kemudian, ungkap Dedek, ia terbangun dan melihat cahaya terang yang masuk melalui ventilasi kamar.
"Terang itu saya pikir sudah pagi. Tapi kok cepat sekali pagi pikir saya, karena saya baru tidur, lalu saya merasakan panas, dan keluar kamar ternyata dinding rumah saya sudah terbakar api membumbung tinggi," ungkap Dedek.
Saat itu, ungkap Dedek ia panik, dan membangunkan istrinya Nora dan meminta menyelamatkan anak-anak.
"Saya lebih dulu menyelamatkan anak tertua Zaira (12) ke luar rumah. Kemudian saya masuk lagi melihat istri membawa tiga anak Aini (4), Zirna (9), dan Aidil (2).
Sedangkan anak terkecil saya tertinggal di dalam kamar," ungkap Dedek.
Tanpa berpikir panjang, ungkap Dedek, ia langsung menerobosnya api menyelamatkan anaknya Aqila.
"Tidak ada yang paling berharga selain nyawa anakku Aqila," ungkap Dedek.
Saat itu, ungkap Dedek, mereka tak bisa keluar lagi dari pintu depan karena api sudah membesar.
Lalu ia bersama istri dan empat anaknya keluar lewat pintu belakang.
"Padahal pintu belakang sudah saya tutup mati dengan papan, dan seng. Tapi atas kuasa Allah SWT begitu mudah saya membuka pintu tersebut dan menerobos api, akhirnya kami selamat semua," ungkap buruh kebun ini.
Akibat perjuangan menyelamatkan anak tersebut Dedek terlihat agak susah berjalan karena tapak kakinya melepuh terbakar. Istrinya juga terkena beling pada bagian telapak.
"Saat itu, saya tidak ingat apapun selain untuk menyelamatkan istri dan anak saya. Jika saya terlambat bangun mungkin kami sudah jadi abu," ungkap Dedek.
Rumah Dedek bersebelahan langsung dengan gudang penyimpanan teratak pelaminan yang diduga sumber kebakaran.
Siapapun di dunia ini, ungkap Dedek, tidak ada menginginkan musibah.
Karena itu, sebagai rakyat kecil dan masyarakat miskin ia berharap belas kasihan pemerintah untuk membantu ia dan warga korban kebakaran lainnya.
"Siapapun tidak ada yang menginginkan musibah. Karena itu kami harapkan bantuan sebagai masyarakat miskin, terutama kami membutuhkan rumah karena memiliki tanggung jawab istri dan anak," harap Dedek
Amatan Serambinews.com, Dedek beserta istri dan anaknya menumpang di rumah tetangga.
Warga tampak turut berdukacita, dan memberikan support dan semangat bagi Dedek istri dan anak-anaknya. (*)