Rabu, 3 Juni 2026

Uptade Corona di Subulussalam

Satu PDP Positif Versi Rapid Test, Dokter dan Tim Medis RSUD Subulussalam Jalani Tes

Menurut dr Diana Dewi semua dokter dan tim medis yang selama ini kontak dengan PDP nomor 3 akan menjalani tes rapid.

Tayang:
Penulis: Khalidin | Editor: Mursal Ismail
SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN
dr Diana Dewi, Humas Satgas Covid-19 RSUD Kota Subulussalam 

Masalahnya untuk pemeriksaan dengan PCR ini membutuhkan waktu lebih lama karena harus dikirim ke Jakarta.

Lamanya pemeriksaan dengan PCR, kata Risdianty akibat jarak yang sangat jauh.

Sebab, alat terkait belum ada di Aceh.

Seandainya alat tersedia di daerah maka hanya butuh waktu beberapa jam mendeteksi seseorang apakah terpapar covid atau tidak.

Untuk alat yang digunakan di RSUD Kota Subulussalam ini bernama wondfo.

Rapid test kata dia, bisa menimbulkan hasil negatif palsu jika orang yang dites berada dalam window periode infeksi.

Pasalnya, ketika masih belum bergejala (asimptomatik) atau masih dalam periode inkubasi, IgM atau IgG belum dapat dideteksi oleh rapid test.

Sedikit bekal , kata Risdianty, sebagaimana dijelskan Dr. Alida R H, PhD, SpPK Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDSPatKLIn) cabang Jakarta menjelaskan penggunaan test cepat antibodi IgM/IgG SARS CoV-2 (COVID 19).

Test ini bertujuan untuk mendeteksi zat anti (antibodi) baik kelas igM maupun IgG terhadap SARS-CoV-2 (virus penyebab Covid19).

Zat anti tersebut terbentuk saat seseorang terpapar dg SARS-Cov-2 tapi perlu waktu beberapa hari setelah paparan.

IgM muncul lebih dulu diikuti IgG beberapa hari kemudian.

Artinya apa? Pada saat seseorang sudah "mengandung" virus SARS-Cov-2 di tenggorokannya bisa jadi IgM dan atau IgGnya belum terdeteksi oleh test kit serologi ini.

Jadi kalau hasil test negatif jangan lega dulu.

Tetap jaga jarak 1-2 meter dan hindari ke tempat umum, serta cuci tangan, karena hasil negatif dapat berarti 2 kemungkinan: pertama yang bersangkutan  betul-betul bersih tidak terpapar, tapi juga tidak kebal.

Kedua, yang bersangkutan  sudah infeksius tapi belum membentuk IgM atau IgG anti SARS-CoV2, sehingga berpotensi menularkan pada orang lain.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved