Citizen Reporter
Masker Gratis ala Turki
Hal ini mereka lakukan sejak dinyatakan merebaknya penyakit Covid-19 pada pertengahan Januari lalu di kota Wuhan, Cina.
Hal ini mereka lakukan sejak dinyatakan merebaknya penyakit Covid-19 pada pertengahan Januari lalu di kota Wuhan, Cina.
MUHAMMAD HAYKAL, Mahasiswa Program Master Jurusan Sejarah Islam di Marmara University, melaporkan dari Istanbul, Turki
Pemerintah Turki telah mengambil kebijakan proaktif menghambat penyebaran virus Corona.
Hal ini mereka lakukan sejak dinyatakan merebaknya penyakit Covid-19 pada pertengahan Januari lalu di kota Wuhan, Cina.
Dimulai dari pemasangan termal kamera hingga penyediaan disinfektan di berbagai sudut kota telah dilakukan pemerintah kota Istanbul dan kota-kota besar lainnya.
Bahkan pada awal Maret sebelum terkonfirmasi kasus positif pertama pemerintah telah meliburkan sekolah-sekolah dan menganjurkan social distancing.
Pada 10 Maret lalu, Turki mengumumkan kasus positif pertama.
• Bupati Mursil Apresiasi Kapolda Aceh, Bantu Jaga Kawasan Pesisir Jalur Masuk TKI
• Bireuen Perbolehkan Buka Pasar Hewan, Termasuk Besok, Tapi Ada Syaratnya, Meugang di Tiap Gampong
• Jumlah Positif Corona di Aceh tak Bertambah, PDP Bertambah Satu Orang
Awalnya, setelah pengumuman memang sempat terjadi beberapa fenomena panic buying.
Disenfektan, hand sanitizer, tisu, dan bahan makanan lainnya turut diborong beberapa warga yang sempat panik.
Namun, fenomena ini hanya terjadi di beberapa wilayah, khususnya di kawasan-kawasan elite di Istanbul seperti Kadıköy dan Beşiktaş.
Kemudian, seiring waktu kondisi semakin terkontrol.
Perlahan Pemerintah Turki juga melarang shalat berjamaah dan shalat Jumat di masjid untuk sementara waktu, tapi masjid tetap dibuka untuk umum bagi yang ingin shalat secara individu.
Selain itu, Diyanet İşleri Başkanlığı atau Direktorat Agama (not: Turki tak memiliki Kementerian Agama) telah menginstruksikan kepada seluruh masjid untuk mengumandangkan takbir dan doa menolak bala dari toa-toa masjid tiap malam setelah azan Isya.
Selain dari Presiden Erdoğan, tokoh kunci pada saat krisis kontrol selama pandemi ini adalah Menteri Kesehatan Fahrettin Koca.
Seluruh informasi dan perkembangan terkini terkait virus disampaikan pada waktu malam setiap harinya melalui ciutan akun twitter-nya dan konferensi pers.
Pemerintah selama ini membangun narasi Hiçbir virüs, alacağımız tedbirlerden daha büyük değildir yang artinya ‘’Tak ada virus yang lebih kuat daripada antisipasi yang kita ambil’’.
Ini menandakan pemerintah mengedepankan antisipasi.
Narasi ini dibuktikan dengan fasilitas kesehatannya.
Tiap kota di Turki memiliki bangunan sehir hastanesi atau rumah sakit kota yang rata-rata dibangun pada dua dekade terakhir selama pemerintahan Erdoğan.
Bangunan sehir hastanesi ini sangatlah besar, layaknya kompleks apartemen.
Jumlah tempat tidur yang disediakan di tiap sehir hastanesi bervariasi, mulai dari 1.000 sampai 3.000 unit.
Pascasebaran virus corona, ruang ICU yang ada di rumah sakit biasa 62% persennya telah penuh.
Pemerintah mengatakan akan mengubah kamar-kamar yang ada di sehir hastanesi menjadi ruang ICU apabila kapasitasnya penuh.
Pemerintah juga menyebutkan ketersediaan alat ventilator surplus dua kali lipat dari yang dibutuhkan.
Sekali lagi, ini membuktikan bahwa sistem kesehatan Turki tergolong antisipatif.
Masker gratis
Baru-baru ini Turki lagi-lagi mengambil kebijakan yang tidak biasa di negara lain, yakni pemerintah mengumumkan akan mendistribusikan masker gratis bagi warga yang membutuhkan.
Mekanismenya, setiap warga yang ingin mendapatkan masker akan diminta regristrasi secara daring (online) dengan mencantumkan nomor identitas diri dan alamat rumah.
Untuk setiap nomor Id akan dikirimkan lima masker per minggu.
Kebijakan ini juga dibarengi oleh pelarangan ke luar rumah tanpa menggunakan masker, khususnya ke tempat-tempat umum seperti pasar, supermarket, dan apotek.
Selain pembagian masker gratis, pemerintah juga telah menutup akses ke luar masuk 31 kota di Turki.
Terutama kota-kota besar seperti Ankara, Istanbul, Bursa, dan Izmir. Kecuali untuk akses kebutuhan mendasar.
Anak-anak berumur di bawah 20 tahun dan orang tua di atas 65 tahun dilarang ke luar rumah.
Aparat keamanan seperti polisi juga diinstruksikan untuk membantu warga di atas 65 tahun dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti berbelanja dan lain-lain.
Ringkasnya, Turki hingga saat ini memang terbukti proaktif menangani penyebaran virus corona di negaranya.
Mari kita ambil aspek-aspek positifnya agar dapat diimplementasikan juga di Aceh.
Ayo tetap di rumah dan jagalah selalu kesehatan fisik, juga mental. Stay safe, lawan corona! (muhammadhaykal94@gmail.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/penulis-citizen-reporter-muhammad-haykal.jpg)