Berita Aceh Tengah
Harga Anjlok, Kelompok Tani Simpan Kopi Arabika di Resi Gudang
Turunya harga kopi Arabika Gayo serta terbatasnya ekspor komoditi unggulan asal Dataran Tinggi Gayo (DTG) tersebut, membuat para petani kebingungan...
Penulis: Mahyadi | Editor: Jalimin
Laporan Mahyadi | Aceh Tengah
SERAMBINEWS.COM, TAKENGON – Turunya harga kopi Arabika Gayo serta terbatasnya ekspor komoditi unggulan asal Dataran Tinggi Gayo (DTG) tersebut, membuat para petani kebingungan untuk menjual hasil kebunnya. Ironisnya lagi, daya beli kopi arabika seakan terjun bebas sejak adanya wabah virus corona (Covid-19) melanda dunia.
Sampai dengan saat ini, harga kopi Arabika Gayo tak terkendali, bahkan untuk sementara banyak pembeli yang berhenti membeli karena tidak tahu harus menjual kemana. Alhasil, sebagian kelompok tani berinisiatif menyimpan kopi Arabika ya di resi gudang.
Pengelola Resi Gudang Kopi Arabika, Rahmah kepada Serambinews.com, Sabtu (11/4/2020) menyebutkan, sudah ada sekitar 10 kelompok tani yang menyimpan kopi Arabika di Resi Gudang Takengon.
“Jumlah kopi arabika yang ada di resi gudang, sebanyak 140 ton, milik 10 kelompok tani,” kata Rahmah.
Menurut Rahmah, keberadaan Resi Gudang, bisa menjadi alternatif bagi kelompok tani untuk menyimpan kopi kopi arabikanya di tengah kondisi anjloknya harga kopi karena adanya virus Corona. “Tentu untuk menyimpan kopi di Resi Gudang, ada ketentuan serta mekanisme yang mengatur. Intinya, untuk kopi Arabika Gayo, tidak kita persulit sepanjang memenuhi syarat," kata Rahmah.
Terkait persyaratan, sebutnya, bukan pengelola yang membuat aturan tetapi UU Perbankan serta aturan dari kementerian.
• Lapas di Manado Terbakar, Napi Teriak Lempar dan Serbu, Satu Orang Terkena Tembakan Petugas
• Di Tengah Wabah Covid-19, Petani Pidie Jaya Tetap Geluti Aktivitas Ini
• Cegah Pendemi Covid-19, Begini Pemko Lhokseumawe Ajak Masyarakat Gunakan Masker
“Soal syarat, silahkan ajukan ke kementerian, serta kepada pihak Bank, siapa tahu dalam situasi sekarang ini, ada kemudahan. Dan kita berharap, agar masalah wabah virus Corona ini, bisa segera berakhir, agar ekonomi masyarakat bisa membaik,” harapnya.
Dia menuturkan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sesuai dengan peraturan perundang-perundangan yang ada. Salah satunya, harus melalui kelompok tani.
“Kopi yang masuk ke resi gudang, juga harus yang ready ekspor atau memang sudah benar benar kering karena akan disimpan dalam waktu lama,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Rahmah, kopi Arabika yang disimpan di Resi Gudang, juga harus melewati tes cupping (uji rasa) untuk memastikan kopi yang disimpan memang benar-benar berkualitas ekspor.
“Pihak Bank juga, akan memastikan kopi yang disimpan, selain kadar airnya sudah kering, serta kualitasnya baik. Itu, sudah aturan baku. Jadi tidak semua kopi bisa masuk,” lanjut Rahmah.
Dia menyebutkan, cenderung para petani menjual kopi gelondong atau biji merah kepada para pedagang pengumpul. Hampir bisa dipastikan, pemilik stok biji ijo atau ready ekspor, adanya di kalangan pedagang pengumpul.
“Apalagi sekarang, sebagian daerah sudah di penghujung masa panen. Tentu, sudah tidak banyak lagi petani yang menjual,” pungkasnya.
Seperti diketahui, sebelumnya sejumlah petani kopi serta pedagang mendatangi gedung DPRK untuk mengadukan turunya harga kopi Arabika serta sulitnya pembeli kopi. Melihat kondisi itu, Pemkab Aceh Tengah, telah menjadwalkan pertemuan dengan sejumlah stakeholder untuk membahas nasib kopi Arabika Gayo.(*)
• Jang-Ko Minta Penggunaan Dana Pencegahan Covid-19 Harus Transparan
• Dampak Corona, Ekonomi Semakin Sulit Akibat Hasil Tangkapan Ikan Kurang Laku, Ini Keluhan Nelayan
• Guru SMK Arongan Lambalek Mengajar ke Rumah-rumah Siswa, Ini Penyebabnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rahmah-ketua-koperasi-ketiara-kopi-arabika-gayo-mengandung-racun-rumput.jpg)