Kamis, 9 April 2026

Berita Aceh Tengah

Ketua AEKI Aceh : Harga Kopi Dunia Masih Stabil, Harga Lokal Turun

Di tengah badai virus corona (Covid-19), permintaan kopi dunia melemah lantaran sebagian besar negara pengimport kopi menghentikan pasokan....

Penulis: Mahyadi | Editor: Jalimin
For Serambinews.com
Ketua AEKI Aceh, Armia. 

Laporan Mahyadi | Aceh Tengah

SERAMBINEWS.COM, TAKENGON – Di tengah badai virus corona (Covid-19), permintaan kopi dunia melemah lantaran sebagian besar negara pengimport kopi menghentikan pasokan komiditi kopi arabika lantaran banyaknya usaha cafe tutup serta roaster berhenti beroperasi. Hal ini, menyebabkan eskpor kopi dunia melambat.

Dampaknya, pengiriman kopi arabika menjadi berkurang, sehingga terjadi over stok di tingkat lokal membuat harga kopi menjadi turun. Sementara, harga kopi bursa new york masih tetap stabil sekitar 115 hingga 118 per pound USD atau setara dengan Rp 40 ribu/kgnya.

Hal itu, dikemukakan oleh Ketua Asosiasi Eksportir Indonesia (AEKI) Aceh, Armia kepada Serambinews.com, Senin (20/4/2020).

Menurut Armia, permintaan kopi dunia bukan anjlok tetapi melambat karena adanya dampak penyebaran virus corona.

“Jadi, dengan tutupnya cafe-cafe serta roaster, membuat gudang importer kopi Gayo penuh, sehingga mereka menunda sementara proses pengiriman dari negara negara produsen. Termasuk dari Indonesia, khususnya Provinsi Aceh,” katanya.

Dampak lain, lanjut Armia, tertundanya proses pengiriman membuat stok kopi arabika Gayo di tingkatan lokal menjadi menumpuk. Sementara, para pedagang, koperasi serta eksportir memiliki keterbatasan dana untuk menampung seluruh hasil produksi kopi petani.

ODP di Langsa Sudah Tidak Ada Lagi, Namun P2DT Naik Jadi 106 Orang

Satu Lagi ODP di Aceh Utara Dibawa ke Shelter, Tak Melapor Setelah Pulang dari Malaysia

“Nah, inilah yang membuat harga kopi di lokal jadi turun karena daya beli lokal sangat terbatas,” lanjutnya.

Armia menambahkan, justru harga internasional tetap stabil, atau masih bertahan di kisaran Rp 40 ribu/kgnya untuk jenis green bean ready ekspor. Sedangkan untuk kopi arabika Gayo, ada tambahan harga specialty cent 60 hingga 80 per pound.

“Jika berpatokan pada harga bursa New York masih stabil. Hanya ekspornya melambat,” tambahnya.

Ketika disinggung tentang beredarnya informasi kopi asal Brazil justru permintaan meningkat di tengah penyebaran virus corona, Armia enggan berkomentar banyak. Alasanya, sumber informasi tersebut, tidak jelas.

“Apalagi saat ini, hampir sebagian besar negara pengimport kopi, asal beberapa negara menghentikan pengiriman. Makanya, agak aneh kalau kopi permintaan kopi Brazil justru meningkat di tengah wabah virus corona,” jelas Armia.

Disisi lain, Armia membantah tudingan adanya permainan harga di kalangan pedagang maupun koperasi. Pasalnya, peranan koperasi di Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, hanya sekitar 5 persen dalam mata rantai perdagangan kopi.

“Jadi koperasi yang ada, tidak sanggup untuk membeli semua hasil produksi. Jadi tidak benar, jika turunya harga karena adanya permainan,” tutur Armia.

Kondisi saat ini, katanya, Dataran Tinggi Gayo sedang berada pada puncak panen kopi sehingga produksi menumpuk. Sementara eksportir, tidak bisa mengirim dan pedagang juga tidak bisa membeli kopi karena tidak cukup uang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved