Corona Serang Dunia

Imbauan Ulama Saudi Pengaruhi Dunia Muslim

Namun, seruan oleh ulama Saudi untuk tetap tinggal di rumah telah mempengaruhi Muslim di seluruh dunia.

Editor: M Nur Pakar
AFP/AHMAD AL-RUBAYE
Jalanan di Ibu Kota Bahdad Irak dipenuhi kendaraan, seusai pemerintah melonggarkan jam malam untuk mencegah penyebaran virus Corona, Selasa (21/4/2020). 

SERAMBINEWS.COM, ISLAMABAD - Ulama terkenal Pakistan, Mullah Abdul Aziz dari Masjid Merah di ibu kota, Islamabad, memaksa pemerintah membiarkan masjid terbuka sepanjang bulan Ramadhan.

Dia memerintahkan pengikutnya untuk tetap shalat Jumat berjamaah, termasuk selama bulan suci Ramadhan.

Namun, seruan oleh ulama Saudi untuk tetap tinggal di rumah telah mempengaruhi Muslim di seluruh dunia.

"Kami mendengar di TV apa yang dikatakan para imam besar," kata Zaheer Abbas, seorang warga Islamabad yang tetap shalat di rumah, seperti dilansir AFP, Selasa (21/4/2020).

Sambut Ramadhan, Pakistan Cabut Pembatasan Shalat Berjemaah di Masjid

“Shalat adalah berdoa dan Allah SWT tidak hanya ada di masjid,” tambahnya.

Di Somalia, orang-orang meratapi hilangnya tradisi komunitas.

Seorang warga Mogadishu, Osman Yusuf berusaha mencari optimisme dari pembatasan baru membuat lebih dekat dengan orang yang dicintai.

Tidak semua tradisi Ramadhan berakar pada agama.

Ulama Al-Azhar Mesir Keluarkan Fatwa Bolehkan Shalat di Rumah untuk Cegah Virus Corona

Mesir terkenal dengan komedi TV dan serial drama yang diputar selama bulan itu.

Disiarkan antara berbuka puasa dan sebelum matahari terbit dan sudah diproduksi.

Sedangkan rakyat Irak harus meninggalkan tradisi Ramadhan yang unik: turnamen pertandingan yang disebut "Mheibes."

Dalam permainan, tim yang terdiri dari beberapa lusin orang, masing-masing berbaris dan satu anggota menyembunyikan cincin di tangannya.

Seorang anggota tim lain harus menebak siapa yang memiliki cincin itu, biasanya dengan naik turun garis, mencoba membaca mimik wajah.

Awal Ramadhan Diperkirakan Jatuh 24 April, Lokasi Pemantauan Hilal Tidak Terbuka Untuk Umum

Turnamen panjang itu disertai dengan permen, teh, dan nyanyian.

Otoritas kesehatan meminta kepada Jassim al-Aswad, juara lama Mheibes dan penyelenggara turnamen, untuk membatalkan demi keselamatan publik.

Al-Aswad yang berusia 65 tahun mengalah.

"Aku merasa sangat sedih," katanya.

"Ramadhan akan tanpa ritual populer ini tahun ini ... Tuhan membalas dendam pada korona, yang membuat kami kehilangan hobi terindah kami,” katanya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved