Pandemi Corona Pukul Usaha Bubuk Kopi dan Roasting Kopi Gayo
Hal itu disampaikan Bahrul Effendi, akrab dipanggil Baron, pengelola usaha roasting kopi dan bubuk Kopi Aroma Gayo, Takengon, Selasa (21/4/2020).
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Mursal Ismail
Hal itu disampaikan Bahrul Effendi, akrab dipanggil Baron, pengelola usaha roasting kopi dan bubuk Kopi Aroma Gayo, Takengon, Selasa (21/4/2020).
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Pandemi Corona telah memukul langsung usaha roasting kopi di Aceh Tengah.
Hal itu disampaikan Bahrul Effendi, akrab dipanggil Baron, pengelola usaha roasting kopi dan bubuk Kopi Aroma Gayo, Takengon, Selasa (21/4/2020).
"Sangat terasa dampaknya. Penjualan langsung anjlok 50 persen sampai 75 persen," kata Bahrul Effendi.
Selama ini Baron banyak mengirim kopi roasting dan bubuk kopi ke sejumlah kedai kopi di beberapa kota besar di Indonesia, terutama Jakarta.
Akibat pandemi Corona, pesanan turun drastis.
• Adamas Belva Devara Mundur dari Staf Khusus Milenial Presiden Jokowi, Begini Tanggapan Istana
• VIDEO - Harga Daging Meugang Stabil. Pedagang Buka Layanan Online dan Pesan Antar
• Imbauan Ulama Saudi Pengaruhi Dunia Muslim
"Pesanan dari Jakarta bahkan sudah tidak ada sejak pandemi Corona.
Kedai kopi banyak yang tutup. Saya hanya mengirim ke pelanggan pribadi, itu pun kecil sekali jumlahnya," kata Baron.
Tapi pesanan dari kota-kota seperti Banda Aceh dan Medan masih ada, namun juga mengalami penurunan.
Bahrul Efendi mengelola usaha roasting dan bubuk kopi Aroma Gayo sejak sembilan tahun silam.
Pelaku usaha kopi lainnya di Aceh Tengah, Zam Zam Mubarak juga menyampaikan kondisi serupa.
Ia mengatakan, para pedagang dan eksportir mulai berhenti membeli kopi dan ini berimbas langsung kepada petani kopi.
Zam Zam mendesak pemerintah segera mengambil langkah cepat mengatasi kondisi sulit ini.
"Satu titik kesimpulan saya, semoga salah, dari beberapa persoalan Kopi Gayo hari ini maka 1-2 bulan ke depan kopi Arabika Gayo mengalami 'lockdown'.
Gejalanya sudah kelihatan di permukaan, yakni koperasi dan toke kehabisan modal, dan melakukan aksi tunda beli.
Tidak adanya kepastian negara importir membeli kopi dan pemerintah belum melakukan aksi cepat mengatasi persoalan Kopi Gayo ini.
"Keadaannya seperti itu, makanya harus ada langkah cepat menyelamatkan petani kopi dan pelaku usaha kopi gayo," demikian Zam Zam Mubarak. (*)