Luar Negeri

Presiden Chechnya Ancam Bunuh Wartawati Rusia

Orang kuat Chechnya, Ramzan Kadyrov mengeluarkan ancaman bunuh terhadap para pelanggar karantina.

Editor: M Nur Pakar
AFP / PAUL J. RICHARDS
Elena Milashina (tengah) berpose bersama Ibu Negara AS, Michelle Obama dan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry seusai menerima penghargaan Women of Courage Award 2013. 

SERAMBINEWS.COM, GROZNY - Orang kuat Chechnya, Ramzan Kadyrov mengeluarkan ancaman bunuh terhadap para pelanggar karantina.

Hal itu juga diterima wartawan Rusia, Elena Milashina yang  merupakan penerima penghargaan sebagai Wanita Pemberani 2013.

Dia menerima ancaman pembunuhan, tetapi tidak langsung atau.

Pemimpin Chechnya yang mengepalkan tangan besi di Rusia selatan, tidak senang dengan jurnalismenya tentang virus Corona.

Dia mengeluarkan ancaman terhadap wartawan tersebut di media sosial bulan ini.

“Ramzan Kadyrov secara langsung mengatakan apa yang akan dia lakukan dengan saya dan ini adalah pertama kalinya dia mengatakannya demikian, dengan sangat konkret," kata Milashina (42) kepada AFP, Jumat (24/4/2020).

"Jika ancaman itu nyata ... aku tidak akan bisa mengamankan hidupku dengan mengambil tindakan apapun. Itu tidak mungkin,” tambahnya.

Tanggapan Kadyrov terhadap pandemi virus Corona sebagai orang kuat yang tidak toleran terhadap perbedaan pendapat atau kritik sangat tampak di lapangan.

Seperti, intimidasi polisi terhadap warga dan sensor pers yang muncul dari wilayah kekuasaannya yang terisolasi.

"Begitu dia memahami keseriusan virus, dia memutuskan melawannya dengan kekuatan berlebihan, seperti menggunakan tindakan keras dan intimidasi," kata Ekaterina Sokirianskaia, Direktur Pusat Analisis dan Pencegahan Konflik dan Pengamat Chechnya.

"Ini sesuatu yang dia tahu dan dia sukai,” tambahnya.

Kadyrov muncul sebagai orang nomor satu Chechnya yang tak terbantahkan setelah pembunuhan ayahnya Akhmad dalam serangan bom 2004 di ibukota Chechnya, Grozny.

UPDATE Corona Seluruh Dunia 24 April 2020: Rusia Jadi Negara dengan Tambahan Kasus Terbanyak

Dokter Ingatkan Potensi Serangan Corona Fase II  

Kremlin memuji pria berusia 43 tahun itu dengan membawa stabilitas wilayah tersebut setelah pemberontakan Islam yang mengikuti dua perang pasca-Soviet.

Tetapi kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan dia melakukan pelanggaran mengerikan termasuk pembunuhan di luar hukum dan penculikan.

Ketika pandemi menghantam Rusia, video beredar di media social, dimana polisi Chechnya berpatroli di jalan-jalan dan memaksakan jam malam dengan pentungan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved