Senin, 13 April 2026

Perang Minyak

Analis: Arab Saudi Kalah dalam Perang Minyak dan Terancam Kehilangan Dua Sekutu Sekaligus

Dari perspektif Rusia, ketika Saudi memutuskan untuk melakukan perang minyak, dia menembak dirinya sendiri dan juga teman Amerikanya.

Editor: Taufik Hidayat

SERAMBINEWS.COM, ISTANBUL - Seorang Analis hubungan internasional dan penasihat politik, Dr Ali Hussein Bakeer mengatakan, selama beberapa tahun terakhir, Rusia dan Arab Saudi telah mengintensifkan upaya rekonsiliasi mereka dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS) mengunjungi Rusia pada Mei 2017 membuka jalan bagi Raja Salman untuk bertemu Putin di Moskow pada Oktober tahun yang sama.

Kunjungan itu, yang pertama dilakukan oleh raja Saudi yang sedang bertakhta ke Rusia, kemudian dielu-elukan sebagai pertemuan bersejarah di media Rusia dan Saudi.

Moskow menggelar karpet merah untuk Raja Salman.

Banyak ahli berharap bahwa kunjungan itu akan membuka babak baru bersejarah dalam hubungan antara kedua negara.

Karena Riyadh sebelumnya berjanji untuk berinvestasi miliaran dolar di Rusia, termasuk USD10 miliar dalam investasi langsung Rusia.

Persepsi tersebut kemudian mendapat perhatian pada November 2018 setelah tos yang menghebohkan yang dilakukan antara putra mahkota Saudi dan Presiden Rusia Putin saat pertemuan G-20 di tengah isolasi internasional terhadap MBS setelah membantai jurnalis kawakan Jamal Khashoggi.

Kunjungan Putin ke Kerajaan Saudi pada Oktober 2019 dan kesepakatan minyak pada Desember tahun yang sama memberi kesan bahwa hubungan Saudi-Rusia sedang dalam kondisi terbaiknya.

Tetapi setelah itu, Rusia mulai menyadari bahwa Saudi banyak berjanji tetapi sedikit menepati.

Aliansi suci demi minyak antara MBS dan Putin yang membantu kedua belah pihak meningkatkan pendapatan sektor energi mereka dan menciptakan ikatan antara keduanya telah bubar.

Sejak 2016, minyak telah menjadi inti dari hubungan Saudi-Rusia yang semakin dalam.

Riyadh dan Moskow telah bekerja sama di bawah payung OPEC+ untuk menstabilkan pasar minyak dunia dan menjaga harga komoditas tersebut pada tingkat yang menguntungkan.

Pada bulan Desember 2019, menteri perminyakan Saudi membayangkan bahwa kesepakatan OPEC untuk mengekang produksi minyak dengan sekutu non-OPEC, termasuk Rusia, akan bertahan lama, dan tetap teguh "sampai kematian memisahkan mereka".

Tiga bulan kemudian, Riyadh dan Moskow melakukan perang minyak yang mengakibatkan penurunan harga minyak paling tajam dalam sekitar dua dekade.

Pekan lalu, kedua negara adikuasa minyak itu saling tuduh tentang siapa yang bertanggung jawab atas situasi saat ini.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved