Selasa, 28 April 2026

Perang Minyak

Analis: Arab Saudi Kalah dalam Perang Minyak dan Terancam Kehilangan Dua Sekutu Sekaligus

Dari perspektif Rusia, ketika Saudi memutuskan untuk melakukan perang minyak, dia menembak dirinya sendiri dan juga teman Amerikanya.

Editor: Taufik Hidayat

Presiden Rusia Putin menuduh Arab Saudi menarik diri dari kesepakatan OPEC + dan mendorong harga lebih rendah dari USD40 per barel untuk menghancurkan para pesaing perusahaan minyak sempalan.

Arab Saudi merespons dengan dua pernyataan dari Menteri Luar Negeri Faisal bin Farhan dan Menteri Perminyakan Pangeran Abdul Aziz bin Salman, yang keduanya membantah tuduhan Rusia, menegaskan justru Moskow telah menarik diri dari kesepakatan OPEC + saat Saudi dan 22 negara lainnya sedang berupaya untuk memangkas produksi.

Perang harga minyak mengemuka dengan latar belakang permintaan Saudi untuk OPEC + agar melakukan pengurangan lebih banyak sebesar 1,5 juta barel per hari di tengah pandemi virus korona.

Rusia tidak menyetujui permintaan pemangkasan produksi minyak yang mengakibatkan kegagalan perjanjian sebelumnya antara kedua belah pihak dan membanjirnya pasar minyak dengan minyak Saudi.

Saudi memaksa Moskow untuk menyetujui permintaan pemangkasan produsi tersebut di bawah tekanan harga rendah.

Dalam situasi seperti itu, orang mungkin bertanya-tanya mengapa perselisihan seperti itu memicu perang minyak antara kedua sahabat yang dianggapnya paling dekat.

Seperti yang dikatakan juru bicara perusahaan minyak Rusia Rosneft, Mikhail Leontiev, “Jika Anda selalu menyerah pada mitra, Anda bukan lagi mitra."

Ketika Saudi meminta Rusia untuk berkontribusi pada pemangkasan produksi minyak yang lebih besar, Moskow menganggap bahwa Riyadh melakukan kebaikan kepada AS atas biaya Rusia.

Karena pemangkasan yang lebih besar akan mempersulit posisinya berhadapan dengan beberapa pemain ketika datang ke pasar saham dan hanya akan memberdayakan perusahaan-perusahaan minyak AS.

Pemangkasan tersebut membawa lebih banyak manfaat kepada AS, yang lagi-lagi dengan mengorbankan Moskow.

Karena itulah ketika Saudi memutuskan membanjiri pasar dengan komoditasnya, Rusia tampaknya tidak terlalu mempermasalahkan permainan Saudi.

Saudi berpikir bahwa mereka dapat keluar dari perang minyak dengan kemenangan karena mereka dapat memanfaatkan dua juta barel per hari ekstra dibandingkan dengan kapasitas Rusia beberapa ratus ribu barel per hari.

Namun, Rusia tahu bahwa Riyadh tidak dapat menggunakan ‘leverage’ ini untuk waktu yang lama karena kapasitas penyimpanan dunia akan mencapai batasnya dan ketika ini terjadi, maka akan memaksa Riyadh untuk mengurangi produksi tanpa mampu memaksa Moskow untuk menyetujui kemauannya.

Dari perspektif Rusia, ketika Saudi memutuskan untuk melakukan perang minyak, dia menembak dirinya sendiri dan juga teman Amerikanya.

Jika mereka menghentikan perang pada saat ini, maka tidak ada salahnya membiarkan Arab Saudi menggelontorkan minyak dan perusahaan-perusahaan minyak AS akan kehilangan keuntungan dan pangsa pasar.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved