Citizen Reporter
Kisah‘Lockdown’ di Maroko, ke Luar Rumah Harus Ada Surat Izin
Pemerintah Maroko telah secara bertahap melakukan tindakan penyebaran hingga memberlakukan karantina wilayah secara nasional.
Langkah ini lebih maju dibanding sebelumnya yang hanya dilakukan pembatasan seluruh aktivitas luar rumah dengan memberlakukan jam malam terhitung sejak pukul 6 sore hingga pukul 6 pagi.
Untuk membantu kelancaran usaha mereka dalam membatasi penyebaran Covid-19 ini, Pemerintah Maroko telah mengumumkan bahwa mereka akan memberlakukan hukuman keras terhadap siapa saja yang tertangkap melanggar ketentuan yang telah berlaku efektif ini.
Hukuman yang berlaku berupa denda 300-1300 MAD (sekitar Rp500.000 hingga Rp1.700.000) atau penjara selama 1-3 bulan.
Kebijakan karantina wilayah ini tentu diikuti dengan penutupan seluruh fasilitas yang memungkinkan warga untuk berkumpul.
Mulai dari pembatasan akses tempat bisnis seperti restoran, kafetaria, pusat perbelanjaan, hingga fasilitas belajar-mengajar seperti sekolah dan universitas negeri yang sudah diliburkan sejak 13 Maret 2020 hingga waktu yang tidak ditentukan.
Selain itu, kuttab (tempat belajar mengaji dan ilmu agama tradisional di Maroko berupa kelompok duduk atau halakah) dan masjid pun tidak lagi beroperasi dan dibuka untuk pemakaian regular.
Keputusan yang diambil Pemerintah Maroko tersebut–berupa penutupan masjid dan pembatasan akses luar rumah--tentu akan membuat Ramadhan tahun ini terasa berbeda.
Biasanya, pada setiap tahunnya bulan Ramadhan di Maroko selalu dipenuhi dengan kelas-kelas belajar agama gratis dan dibuka untuk umum di berbagai masjid dan tempat pembelajaran lainnya.
Praktik serupa tentunya akan sulit untuk dilanjutkan pada Ramadhan tahun ini.
Pemerintah Maroko melalui Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Islam (Wizarat al-Awqaf wa asy-Syuun al-Islamiyah) dan Dewan Pendidikan Tinggi setempat akhir-akhir ini giat mengampanyekan agar masyarakat tetap berada di rumah selagi terus menjalankan ibadah selama Ramadhan, termasuk shalat Tarawih di rumah masing-masing bersama keluarga.
Sejauh ini, respons masyarakat Kerajaan Maroko terhadap kebijakan yang diambil pemerinTah terbilang sangat positif.
Mereka tergolong sangat patuh dan kooperatif dalam membantu pemerintah mengatasi penyebaran virus corona ini.
Walaupun hingga kini grafik pasien yang positif terpapar Covid-19 ini masih terus naik, namun pemberlakuan lockdown di Kerajaan Maroko diakui sangat berhasil.
Perdana Menteri Maroko, Saadeddine Othmani baru-baru ini menyampaikan kepada media bahwa Kerajaan Maroko sejauh ini telah berhasil menghindari skenario terburuk berkaitan dengan coronavirus ini.
Ia menyampaikan bahwa Maroko saat ini bisa saja berada di angka 37.000 pasien yang terpapar positif dengan 5.700 pasien kritis dan 2.500 meninggal dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/penulis-citizen-asyraf-muntazhar.jpg)