Senin, 4 Mei 2026

Berita Banda Aceh

Mahasiswa Doktoral Asal Aceh Tuai Pujian dan Raih Summa Cum Laude di Al-Azhar Mesir

Edi Saputra Lc. MA berhasil mempertahankan disertasinya dalam bidang bahasa Arab jurusan Lughawiyyat dengan nilai akhir summa cum laude di...

Tayang:
Penulis: Subur Dani | Editor: Jalimin
For Serambinews.com
Edi Saputra Lc MA, mahasiswa asal Aceh, sedang mengikuti sidang munaqasyah untuk meraih gelar doktor di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. 

 

Laporan Subur Dani | Banda Aceh

 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Edi Saputra Lc MA berhasil mempertahankan disertasinya dalam bidang bahasa Arab jurusan Lughawiyyat dengan nilai akhir summa cum laude di Universitas Al-Azhar Mesir pada Minggu (26/4/2020).

Edi Saputra merupakan mahasiswa Aceh asal Bireun kedatangan tahun 2000. Alumni Bustanul Ulum Langsa ini resmi menyandang gelar doktor setelah melewati sidang yang berlangsung kurang lebih selama dua jam.

Dengan bimbing Prof Dr Hamdi Abdul Fattah Musthafa dan Prof Dr Muhammad Said sidang disertasi yang diadakan di aula Syeikh Ibrahim Mahrusy berjalan cukup khidmad.

Disertasi ini berjudul “Mawaqif ibnu Abi Maryam fi (al-mawadhih) wa Sakhawi fi (Fath al-Wasid) min intiqadatil nahati a’la qiraati quranniyah” atau “Pandangan Ibnu Abi Maryam dalam al-Muwaddhah dan as-Sakhawi dalam Fath al-Washid tentang kritik Ahli Nahwu terhadap Qiraat Al-Quran”.

Dengan judul ini, Edi Saputra yang pernah menjadi dosen luar biasa di Fakultas Adab UIN Ar-Raniry ini, banyak mendapatkan pujian dari kedua pengujinya yaitu prof Dr Muhammad Abdul Wahab dan Prof Dr Ibrahim Hamid.

“Ini merupakan karya yang fenomental dan sangat layak menjadi rujukan, karena mencakup kritikan qiraat ‘asyarah dan munaqasyah-munaqasyahnya,” tegas prof Dr Ibrahim Hamid selaku penguji disertasi.

Disertasi ini mengkaji dua kitab fenomental yaitu kitab al-Mawadhih dan Fath al- Jawad yang mencakup didalamnya kritikan ulama nahwu terdahulu terhadap qiraah a’syarah.

Pesawat Susi Air Resmi Hentikan Penerbangan ke Abdya, Ini Penyebabnya

Polisi Bubarkan Balapan Liar di Tiga Kecamatan Aceh Utara, Begini Aksinya

1.115 Orang Kaya di Pidie Dihapus dari Penerima PKH, Gugur Dengan Dua Katagori

 Sebagaimana diketahui bahwa ulama nahwu terdahulu jika menemukan qiraah yang kurang cocok dari segi nahwu mereka akan mengkritik dan memilih qiraah yang lebih tepat.

Ibnu Abi Maryam memiliki dua pandangan yang pertama beliau condong kepada ulama nahwu yang mengkritik qiraah dan yang kedua beliau membantah kritikan tersebut.

Sedangkan Imam Sakhawi pada kitab Fath al-Jawad tidak pernah mendukung kritikan ulama nahwu terhadap qiraah ‘asyarah, dikarenakan qiraah ‘asyarah datang secara mutawatir dari rasulullah menurut lahjah suku Arab masing masing.

Sedangkan ilmu nahwu terbentuk kurang lebih 30 tahun setelah turunnya Al-Qur’an. Kemudian kaidah-kaidah ilmu nahwu bersumber dari Al-Qur’an, bagaimana bisa untuk mengkritik suatu sumber dari ilmu tersebut.

Dikarenakan situasi pendemi, sidang ini sempat tertunda selama dua bulan sebelum akhirnya diputuskan untuk digelar tertutup tanpa undangan umum. Namun, panitia menyiarkan langsung melalui akun Facebook Keluarga Mahasiawa Aceh (KMA) Mesir.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved