Selasa, 2 Juni 2026

Kepatuhan Masyarakat jadi Kunci Sukses Penanganan Corona

Taiwan merupakan daerah paling berisiko terpapar Covid-19 di luar daratan Cina, karena kedekatannya, ikatan, dan hubungan transportasi

Tayang:
Editor: bakri
FOTO KIRIMAN LINA MARLINA
Kantin di National Taiwan University of Science and Technology, Taipei, dilengkapi sekat transparan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Sehingga walau duduk berdekatan, tetap terpisah oleh sekat 

* Mahasiswa Aceh di Taiwan Tetap Kuliah Tatap Muka

Taiwan merupakan daerah paling berisiko terpapar Covid-19 di luar daratan Cina, karena kedekatannya, ikatan, dan hubungan transportasi. Hari ini, Taiwan dipuji banyak negara lain karena kesiapannya merespons wabah tersebut. Sejak pertengahan bulan lalu, Taiwan mengumumkan nol kasus baru. Bagaimana sebenarnya kehidupan masyarakat di sana? Berikut kisah mahasiswi asal Aceh, Lina Marlina.

JARAK antara Taiwan dengan daratan Cina hanya dipisahkan oleh Selat Taiwan atau Selat Formosa sejauh 113 kilometer. Karena kedekatan itu lah, ditambah lagi adanya ikatan dan padatnya arus transportasi di kedua negara ini, Taiwan menjadi salah satu daerah paling berisiko di luar daratan Cina.

Sebuah studi awal yang dilakukan oleh Univeristas John Hopkins pada bulan Januari memperkirakan bahwa Taiwan bisa memiliki kasus terkonfirmasi tertinggi kedua setelah Cina. Namun apa yang terjadi? Taiwan justru berhasil menekan angka kasus penularan. 14 April 2020 lalu, Pemerintah Taiwan mengumumkan nol kasus baru. Hingga kini, negara tersebut hanya memiliki 393 kasus positif Corona dan 6 kematian.

Menurut Lina Marlina, aktivitas masyarakat Taiwan selama pandemi Covid-19 terhitung normal, meski pun dilakukan sejumlah aturan pembatasan dan protokol kesehatan. Para mahasiswa bahkan masih tetap mengikuti kuliah seperti biasa, yakni melakukan pertemuan tatap muka di kampus.

Lina merupakan satu dari 31 mahasiswa Aceh yang kuliah di Negeri Formosa tersebut. Saat ini Lina berkuliah di National Taiwan University of Science and Technology, Taipei. “Proses kuliah masih berjalan seperti biasa, mahasiswa datang ke kelas. Ada juga yang dialihkan ke kuliah online, tapi dengan syarat bila kuota mahasiswa di kelas melebihi 60 orang,” katanya kepada Serambi.

Meski aktivitas perkuliahan mahasiswa tetap berjalan seperti biasa, tetapi setiap mahasiswa yang mengikuti kuliah diwajibkan mengikuti protokol pencegahan Covid-19, mulai dari pemeriksaan suhu tubuh, menggunakan masker, dan menjaga jarak. Mahasiswa juga dilarang berkumpul.

Protokol pencegahan itu juga dilakukan di kantin-kantin kampus. "Kantin di kampus tempat duduknya di sekat agar tidak berdekatan," imbuhnya.

Meski aktivitas masyarakat terbilang normal, namun salah satu kunci keberhasil Taiwan dalam menekan wabah tersebut adalah kepatuhan masyarakatnya dalam menjalankan protokol pencegahan penularan wabah.

“Masyarakat Taiwan sangat patuh terhadap anjuran Pemerintahnya. Umpamanya anjuran penggunaan masker dan jaga jarak, itu sangat dipatuhi oleh warganya,” tutur Lina Marlina.

Bulan Puasa

Selama bulan puasa, para mahasiswa Aceh di Taiwan juga tidak mengalami kesulitan berarti, apalagi negara tersebut masih berada di musim dingin. Hanya saja untuk pelaksanaan ibadah tarawih tidak bisa dilakukan berjamaah karena adanya larangan masyarakat berkumpul.

"Puasa tetap seperti biasa, tapi tarawih kita lakukan di asrama atau tempat tinggal masing-masing," ujar Lina. Puasa di Taiwan lamanya sekitar 14,5 jam, atau berselisih sekitar 1 jam dengan Indonesia.

Demikian juga dengan makanan berbuka. Mahasiswi semester I jurusan Graduate Institute of Electro-Optical Engineering ini mengatakan, di Taiwan tidak sulit mencari makanan Indonesia, sehingga sedikit banyak bisa mengobati kerinduan kepada orang tua dan kampung halamannya. "Ada makanan cateringan Indonesia atau makam di kantin," ungkapnya.

Pertanyakan Bantuan

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved