Masjid Lautze
Sejarah Masjid Lautze serta Persahabatan Abdul Karim, Soekarno, dan Buya Hamka
Di lantai 3 Masjid Lautze, tepatnya di ruang sekretariat terpampang foto Abdul Karim bersama Buya Hamka dan Soekarno.
Di lantai 3 Masjid Lautze, tepatnya di ruang sekretariat terpampang foto Abdul Karim bersama Buya Hamka dan Soekarno.
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Masjid Lautze menyisakan sejarah panjang.
Pendirinya Abdul Karim Oei Tjeng Hien merupakan sahabat dekat Presiden Pertama Indonesia Soekarno dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama Buya Hamka.
Abdul Karim Oei adalah pendiri organisasi warga etnis Tionghoa Indonesia Islam yang disebut Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).
Masjid Lautze didirikan oleh Yayasan Haji Karim Oei, yang kini diketuai oleh anak bungsu Abdul Karim Oei, yakni Ali Karim Oei (65 tahun).
• Warga Jambo Labu Resah, Minta Gugus Tugas Covid-19 Periksa Pekerja asal Sumut di Koperasi Sinar Maju
• Viral, Seorang Nenek Khusyuk Mengaji tanpa Kacamata Bikin Terenyuh Warganet
"Beliau (Abdul Karim) orang Indonesia etnis Tionghoa. Tahun 1930an masuk Islam jadi mualaf," kata Ali kepada Tribun Network.
Masjid Lautze berlokasi di Jalan Lautze 87-89, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Masjid didirikan di daerah pecinan.
Di masjid ini warga etnis Tionghoa dibantu dan dibimbing jika akan memeluk atau memahami agama Islam, belajar shalat, dan membaca Alquran.
• Makam Didi Kempot di Samping Anak Pertamanya, Sang Istri Pingsan
• Pencuri Medan Bawa Kabur Beras Pedagang Langsa Timur Ini Sudah Dua Kali Beraksi di Tempat Lainnya
"Di sini juga sebagai pusat informasi, sekaligus menjadi tempat pembelajaran tentang Islam bagi warga etnis Tionghoa," tutur Ali.
Semangat Abdul Karim Oei memperkenalkan Islam kepada warga etnis Tionghoa ini yang kemudian diteruskan.
Sejak 1997-2019 Masjid Lautze telah memberikan pelayanan kepada masyarakat yang ingin memeluk agama Islam.
Bahkan hingga kini jumlahnya sudah 1.531 orang, yang mayoritas dari etnis Tionghoa.
"Kita bikin Masjid Lautze kita kasih lihat banyak juga Islam itu yang bawa orang Tionghoa.
Karena kita mendakwah untuk orang-orang tionghoa. Sudah ribuan kita mengislamkan," katanya.
Ali mengatakan Islam itu Rahmatan Lil Alamin, rahmat untuk semesta alam.
• Putra Amien Rais, Hanafi Rais Mundur dari DPR dan Pengurus PAN, Kongres V Mencoreng Wajah Partai
• Jumlah Perantau dan Traveler yang Kembali ke Aceh Timur 2.020 Orang
Tak membedakan suku.
"Karena itu kita dakwah di lingkungan Tionghoa," sambungnya.
Di lantai 3 Masjid Lautze, tepatnya di ruang sekretariat terpampang foto Abdul Karim bersama Buya Hamka dan Soekarno.
Bertiga mengenakan jas dalam foto hitam putih tersebut.
• Dirlantas Polda Aceh Sumbang Buah-buahan untuk Mahasiswa Luar Negeri dan Luar Daerah di Unsyiah
• Tidur Usai Makan Sahur, ABK KM Supra Baru di Aceh Timur Meninggal saat Melaut
Jika diperhatikan dari dekat, sosok Buya Hamka terlihat mengenakan sarung dengan setelan jas yang terlihat kebesaran atau tidak sesuai dengan proporsional badan.
"Bung Karno sesi foto syaratnya harus pakai jas. Terpaksa (Buya Hamka) minjem baju dan jasnya kedodoran bawahnya sarung.
Ini foto resmi di studio," kata Ali seraya memperlihatkan foto tersebut.
Sosok Oei, merupakan tokoh nasional yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bersama dengan Soekarno dan Buya Hamka.
Meski memiliki paham yang berbeda, kata Ali, ketiganya tetap berteman.
Jika Buya Hamka dan Abdul Karim Masyumi, sementara Soekarno adalah Nasakom.
"Politik berbeda tapi tetap berteman," tutur Ali Karim.
Ali menceritakan persahabatan ketiganya erat ketika Soekarno dibuang ke Bengkulu.
• Bank Aceh Beri Relaksasi Rp 207 M
• Tak Terima Orangtuanya Ditikam, Seorang Siswa di Maluku Tengah Nekat Bacok Gurunya
Bahkan Soekarno pernah bekerja di perusahaan meubel milik Oei.
"Sampai dia yang mengawinkan Soekarno dan Fatmawati," tuturnya.
Sampai Soekarno menjadi presiden, mereka tetap bersahabat. Bahkan Oei kerap dipanggil ke Istana Merdeka.
"Bapak saya selalu dipanggil ke Istana.
• Malik Mahmud Harapkan Meuligoe Wali Nanggroe Jadi Tempat Ratas Kabinet Jokowi
• Heboh Obat Herbal Diklaim Dapat Menyembuhkan Virus Corona, Begini Klarifikasi Badan POM
Makan siang di Istana, ngobrol soal negara.
Dia ditawarkan oleh Soekarno macam-macam tapi tidak mau," ujarnya.(tribun network/denis)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/masjid-lautze.jpg)