Banjir Banda Aceh dan Aceh Besar
Penyebab Banjir di Banda Aceh dan Aceh Besar Dipastikan Terkait Tata Kelola Lingkungan
“Sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan di tengah pandemi Covid-19 dan kekhusyukan umat Islam menjalankan ibadah puasa.”
Penulis: Nasir Nurdin | Editor: Nasir Nurdin
“Sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan di tengah pandemi Covid-19 dan kekhusyukan umat Islam menjalankan ibadah puasa.”
Laporan Nasir Nurdin | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Hujan yang mengguyur Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar selama dua hari berturut-turut yang berimbas terjadinya banjir luapan di kedua daerah tersebut telah mengagetkan banyak pihak.
“Banjir yang terjadi di Banda Aceh dan di sejumlah lokasi Aceh Besar kali ini bisa jadi memiliki penyebab berbeda, namun hampir bisa dipastikan bahwa persoalan tata kelola lingkungan menjadi salah satu faktor yang mestinya diperbincangkan secara serius,” kata Dosen Teknik Lingkungan Universitas Serambi Mekkah (USM) Aceh, Ir TM Zulfikar MP dalam siaran pers-nya yang diterima Serambinews.com, Jumat (8/5/2020).
Koordinator Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Aceh tersebut mengatakan, hujan yang turun tanpa henti dengan intensitas sedang hingga lebat bukan hanya menyebabkan banjir tapi juga longsor di berbagai lokasi.
Menurut catatannya, hingga Jumat (8/5/2020) sore, hampir semua dari sembilan kecamatan di Kota Banda terendam.
Hasil pemantauan langsung dan laporan dari kawan-kawan, menurut Zulfikar, hampir semua desa dalam sembilan kecamatan di Kota Banda Aceh terendam. Bahkan, air yang merendam sejumlah ruas jalan masuk ke dalam rumah, pertokoan, dan perkantoran.
“Sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan di tengah pandemi Covid-19 dan kekhusyukan umat Islam menjalankan ibadah puasa,” kata TM Zulfikar yang juga Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (Forum PRB) Aceh.
• Aminullah Tinjau Sejumlah Lokasi Banjir di Banda Aceh dan Minta Warga Selalu Waspada
• Sedang Tertidur Pulas, Iran Diguncang Gempa Kuat
• 1.156 Perantau Abdya Selesai Jalani Isolasi Mandiri, Status PDP Kosong dan ODP Tinggal Satu Lagi
Sementara di Kabupaten Aceh Besar juga tak kalah memprihatinkan. Desa-desa di Kecamatan Darul Imarah dan Peukan Bada, seperti Lampasie Engking, Garot, Ajuen, Rima Keuneurum dan sejumlah desa lainnya mengalami banjir dengan tingkatan yang sangat parah.
Bahkan, lanjut TM Zulfikar, kolam pemandian Mata Ie tak mampu menampung air dari pegunungan hingga melimpah ke permukiman pada sepanjang aliran Krueng Daroy dan cabang-cabangnya.
Di Kecamatan Leupung dan Lhoong, air dari pegunungan juga menyebabkan bendungan irigasi Brayeun dan air terjun Suhom ‘memuntahkan’ luapan ke beberapa kawasan di kecamatan tersebut. “Dampak langsungnya, ya masyarakat,” tandas aktivis lingkungan yang juga sebagai Plt Ketua DPW Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Aceh.
Tata Kelola Lingkungan
Banjir di Banda Aceh dan di sejumlah lokasi di Aceh Besar kali ini, menurut TM Zulfikar bisa jadi memiliki penyebab berbeda, namun bisa dipastikan bahwa persoalan tata kelola lingkungan menjadi salah satu faktor yang mestinya diperbincangkan secara serius.
Menjelang akhir 2019, sejumlah daerah di Aceh juga dikepung banjir. Tentu fenomena ini bukanlah hal baru, apalagi ketika musim hujan.
“Bencana banjir yang sudah menjadi rutinitas tentunya perlu dilihat kembali apa sebenarnya yang sudah terjadi. Berbagai bentuk pengelolaan sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan sepertinya perlu diperhitungkan, termasuk berbagai kerusakan hutan dan lingkungan yang terjadi saat ini,” katanya.
• VIDEO - Banjir Kepung Panti RSAN Dinsos Aceh di Gue Gajah, Puluhan Anak Dievakuasi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tata-kelola-lingkungan.jpg)