Luar Negeri
Venezuela Buru Perencana Pembunuh Presiden Nicolas Maduro
Tentara Venezuela terus memburu para pelaku dan perencana pembunuhan terhadap Presiden Nicolas Maduro.Dalam perkembangan terbaru, sebanyak 11 anggota
SERAMBINEWS.COM, CARACAS – Tentara Venezuela terus memburu para pelaku dan perencana pembunuhan terhadap Presiden Nicolas Maduro.
Dalam perkembangan terbaru, sebanyak 11 anggota perencana itu yang disebut ‘teroris’ ditangkap pada Minggu (10/5/2020) di dua lokasi terpisah.
Invasi maritim dengan senjata berat, melibatkan tentara bayaran AS berhasil digagalkan oleh tentara dan polisi khusus Venezuela pada awal bulan ini.
Dilansir AFP, Senin (11/5/2020), pihak berwenang menyebutkan total tersangka yang telah ditangkap sudah sebanyak 45 orang.
"Pada 10 Mei 2020, tiga tentara bayaran teroris lainnya ditangkap di Colonia Tovar, sekitar satu jam dari Caracas,” kata Kepala Angkatan Bersenjata Venezuela, Laksamana Remigio Ceballos, Minggu (10/5/2020).
Beberapa jam kemudian, televisi pemerintah melaporkan personil militer juga telah menangkap delapan teroris tambahan di negara bagian Vargas, pesisir utara.
Penangkapan terjadi setelah tiga orang yang diduga tentara bayaran AS ditangkap pada Sabtu (9/5), menurut Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
"Kami telah dengan cermat mencari semua yang terlibat dan kami akan menangkap semuanya," kata Maduro dalam pidato di televisi.
Upaya invasi yang gagal, membandingkan Maduro dengan insiden Teluk Babi tahun 1961, membuat orang-orang mendarat pada awal Mei 2020 di perairan Macuto, kurang satu jam dari Caracas.
• Trump Menyangkal Peran AS Dalam Invasi Laut ke Venezuela
• Venezuela Tangkap Dua Tentara AS, Rencanakan Pembunuhan Presiden Nicolas Maduro
• Venezuela Gagalkan Serangan Tentara Bayaran AS, Targetkan Presiden Nicolas Maduro
Delapan penyerang dilaporkan tewas dalam insiden itu dan di antara yang ditangkap adalah dua mantan tentara AS, Luke Denman (34) dan Airan Berry (41).
Keduanya telah dipenjara dan didakwa dengan terorisme, konspirasi, perdagangan gelap senjata perang dan kriminal dengan ancaman hukuman antara 25 hingga 30 tahun penjara.
Pemerintah sayap kiri Maduro mengklaim ada rencana untuk mencopotnya dari kekuasaan.
Sehingga, memungkinkan pemimpin oposisi Juan Guaido yang diakui sebagai presiden sementara oleh Amerika Serikat dan 50 negara lainnya untuk mengambil kendali.
Maduro merasa yakin Presiden AS Donald Trump terlibat dalam operasi itu, dengan Guaido sebagai kaki tangannya.
Trump membantah keras tuduhan itu.
Terlepas dari tuduhan Maduro terhadapnya, Guaido belum didakwa dengan tuduhan melakukan kejahatan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tentara-bayaran-as-ditangkap.jpg)