Suara Parlemen

Muslim SHI: Kelangkaan dan Lonjakan Harga Gula, Bukti Tata Kelola dan Tata Niaga Lemah

Dalam periode Januari–Mei 2020, Indonesia sudah mengimpor gula sebanyak 450 ribu ton. Karena itu harga gula seharusnya stabil.

For Serambinews.com
Anggota DPR-RI asal Aceh, Muslim SHI MM. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Wakil rakyat Aceh di Komisi IV DPR RI, Muslim SHI MM menyatakan, kelangkaan gula dan lonjakan harga  bukti lemahnya komunikasi, tata kelola dan tata niaga pergulaan nasional.

Ini disampaikan politisi Demokrat saat menerima laporan kelangkaan dan tingginya harga gula menjelang Idul Fitri, serta temuan penimbunan gula di Malang.

"Menjelang Idul Fitri 1441H ini harga gula pasir, untuk wilayah sekitaran Jakarta saja bisa mencapai Rp. 20.000/kg. Bagaimana dengan daerah luar Jawa, pasti jauh lebih tinggi lagi," kata Muslim.

Padahal sebelumnya, dalam rapat kerja dengan  Menteri Pertanian, Kepala Bulog dan instansi terkait lainnya, Mulim sudah mengingatkan agar mengantisipasi kenaikan dan kelangkaan pangan seperti gula menjelang Idul Fitri.

"Krisis dan lonjakan harga bahan pangan menjelang hari-hari besar seperti Ramadhan dan Idul Fitri ibarat penyakit kambuhan yang terus terjadi sepanjang tahun. Hingga saat ini, belum ada satu resep mujarab pun yang manjur dan ampuh untuk mengatasi krisis dan lonjakan harga pangan tersebut. Salah satu harga pangan yang mengalami lonjakan adalah gula pasir," ujar Muslim yang berasal dari Dapil Aceh 2.

Muslim mengatakan krisis dan lonjakan harga gula adalah bentuk lemahnya komunikasi dan tata kelola pergulaan nasional, mulai dari produsen, distributor, agen dan retail serta pihak regulator. 

“Akibat kinerja dan komunikasi yang lemah ini, lagi-lagi rakyat yang menjadi korban dan menanggung beban. Ibarat pepatah, sudah jatuh ditimpa tangga. Sudahlah pendapatannya turun akibat terdampak Covid-19, rakyat dibebani lagi dengan harga-harga pangan yang melambung,"  ujar Muslim dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Muslim, permasalahan tersebut seyogyanya tidak perlu terjadi, sebab, dalam periode Januari – Mei 2020, Indonesia sudah mengimpor gula sebanyak 450 ribu ton.

Selain itu, pemerintah juga telah memberikan relaksasi aturan terkait bolehnya penggunaan gula rafinasi menjadi gula konsumsi. Seharusnya dengan kondisi itu, harga gula sudah normal, tak ada kelangkaan serta dijual di bawah atau sesuai dengan HET. 

“Ini pasti ada suatu penyimpangan, ada indikasi permainan kotor yang dilakukan sekelompok tertentu untuk mengeruk kepentingan pribadi dan kelompok di atas penderitaan rakyat,” ungkap Muslim.

Indikasi permainan itu terlihat jelas. Izin impor telah diberikan dan pengadaan gula melalui skema impor telah dilakukan, namun kelangkaan stok gula masih tetap terjadi.

“Ini Pasti ada yang bermain, yang menimbun stok, mengedarkan atau mendistrbusikannya secara berjenjang dengan rantai distribusi yang panjang yang menjadikan harga gula mahal di tingkat konsumen.”

Temuan seperti kasus yang terjadi di Kabupaten Malang terkait penimbunan 300 ton gula milik PT PAP bukanlah hal yang mengejutkan.

“Kasus itu baru satu contoh, di luar sana masih banyak kasus sejenis. Karenanya, saya menghendaki agar pemerintah memperkuat pengawasan dan evaluasi tata kelola dan tata niaga pergulaan nasional, serta menindak tegas para pelaku pelanggaran,” pungkas Muslim.(*)

Ini Jadwal Pesawat Wings Air Terbang Kembali ke Bandara Malikussaleh Aceh Utara

Rayakan Idul Fitri, Warga Arab Saudi Hanya Bisa Melalui Video Call

Ajaib, Ayam Milik Peternak Ini Hasilkan Telur Unik, Kuning Telurnya Berwarna Hijau

Traveler Bireuen Bertambah 42 Orang, Diharapkan Patuhi Protokol Kesehatan

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved