Breaking News:

Heboh Aplikasi Kitab Suci Aceh

Plt Gubernur Aceh Laporkan Pengelola Aplikasi "Kitab Suci Aceh" ke Mabes Polri

Aplikasi ini dirilis oleh Faith Comes By Hearing di Google Play Store sejak 7 Agustus 2019 dengan updating terakhir pada 18 September 2019.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Taufik Hidayat
Dok BPPA Jakarta
Pemerintah Aceh laporkan pengelola Aplikasi "Kitab Suci Aceh" ke Polri, Selasa (2/6/2020). Surat laporan diantarkan ke Mabes Polri oleh T Safrizal (kanan) dari BPPA Jakarta. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah melaporkan keberadaan aplikasi "Kitab Suci Aceh" yang muncul di Google Play Store ke Polri karena dinilai menimbulkan keresahan di masyarakat.

Tim Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) Jakarta, yang dipimpin Kasubbid Hubungan Antar Lembaga BPPA Drs Teuku Syafrizal M.Si, mengantar langsung surat laporan tersebut ke Sekretariat Umum Mabes Polri, Jakarta Pusat, Selasa (02/06/2020).

Sebelumnya surat yang sama sudah dikirimkan via email.

Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh, Almuniza Kamal S.S.TP, MS.i melalui Kasubbid Hubungan Antar Lembaga BPPA Drs Teuku Syafrizal M.Si. berharap, dengan diserahkan secara langsung surat tersebut, pihak kepolisian bisa menindaklanjuti kasus itu.

"Sehingga dengan adanya laporan ini aparat kepolisian bisa menindaklanjuti kasus tersebut, untuk mencari pelakunya," kata Teuku Syafrizal.

Dalam surat laporan bernomor 450/7807 yang ditandatangani Plt Gubernur Aceh H Ir Nova Iriansyah MT, berisikan sejumlah poin keberatan dari Pemerintah Aceh atas keberadaan aplikasi "Kitab Suci Aceh" tersebut.

"Kami atas nama Pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh menyatakan keberatan dan protes keras terhadap aplikasi tersebut," kata Plt Gubernur Aceh.

Aplikasi tersebut, kata Nova tidak lazim secara bahasa lantaran menggunakan istilah "Kitab Suci Aceh" menunjukkan hanya milik masyarakat Aceh. Padahal lazimnya kitab suci itu milik umat beragama tanpa batas teritorial.

"Sehingga seolah-olah menggambarkan mayoritas masyarakat Aceh adalah penganut kitab suci yang ada di aplikasi itu. Padahal kitab suci mayoritas masyarakat Aceh adalah Al-Quran," kata Plt Gubernur dalam surat tersebut.

Pemuka Katolik di Aceh: Aplikasi “Kitab Suci Aceh” Tidak Sesuai Konten dan Konteks

Tata Bahasa dalam Kitab Suci Aceh Sangat Orisinil, Kolektor Naskah Kuno Curiga: Jangan-jangan

Plt Gubernur Aceh menambahkan, aplikasi "Kitab Suci" berbahasa Aceh selain Al-Quran pada Google Play Store iti dapat dipahami sebagai upaya mendiskreditkan Aceh, pendangkalan aqidah dan penyebaran agama selain Islam kepada masyarakat Aceh.

Hal ini dinilai bertentangan dengan pasal 28E ayat (1) dan (2) UUD 1945, pasal 45A ayat (2) UU nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, pasal 21 qanun Aceh nomor 4 Tahun 2016 tentang pedoman kerukunan umat beragama dan pendirian tempat ibadah serta pasal 3 dan 6 qanun Aceh nomor 8 Tahun 2015 tentang pembinaan dan perlindungan aqidah.

Kemudian, pada poin berikutnya, Plt Gubernur menyebutkan aplikasi tersebut sudah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Aceh yang berdampak pada kekacauan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan dapat menimbulkan konflik horizontal.

"Kami meminta kepada pihak Google segera menutup aplikasi tersebut secara permanen," harapnya.

Sebelumnya, media sosial (medsos) dihebohkan dengan munculnya aplikasi "Kitab Suci Aceh" di Google Play Store.
Aplikasi kontroversial ini dirilis oleh Faith Comes By Hearing di Google Play Store sejak 7 Agustus 2019 dengan updating terakhir pada 18 September 2019.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved