Sabtu, 16 Mei 2026

Luar Negeri

Anti-China Meluas di India, Boikot Barang China Menggema di Seluruh Negeri

Bentrokan di pegunungan Himalaya telah menyebabkan terjadinya sentimen anti-China di India.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/Jewel SAMAD
Para demonstran mengambil bagian dalam demo anti-China di pintu gerbang New Delhi, India, Rabu (17/6/2020). 

SERAMBINEWS.COM, NEW DELHI - Bentrokan di pegunungan Himalaya telah menyebabkan terjadinya sentimen anti-China di India.

Boikot yang lebih luas dapat menjadi bumerang bagi India.

Jika China memilih membalas dengan melarang ekspor ke India bahan baku industri farmasi India.

Namun, Pemimpin Partai BJP, Ram Madhav, Kamis (18/6/2020) menegaskan India harus mengurangi impor dari Tiongkok.

Dia menegaskan India memiliki potensi untuk memproduksi bahan kimia, ponsel dan lainnya,.

"Kami mengimpor bahan kimia, komponen ponsel dan tombol."

"Apakah mereka sangat penting untuk diimpor?

"Barang itu dapat diproduksi di India."

"Kita harus mengurangi impor dari negara lain tetapi khusus dari China," kata Madhav saat berbicara kepada kantor berita India, ANI, Kamis (18/6/2020).

Pemimpin BJP itu mengatakan jika orang ingin boikot produk China maka sentimen itu harus dihormati.

Kolonel Santosh Babu Terbukti Dipukul dengan Besi Bertabur Paku di Kepala

Tentara China Biadab, Batang Besi Bertabur Paku Serang Leher Tentara India

Bentrok Adu Jotos dan Lemparan Batu dengan Militer China, 20 Tentara India Tewas

Responsnya datang di latar belakang bentrokan di lembah Galwan, Ladakh yang merenggut nyawa sedikitnya 20 personil Angkatan Darat India.

Mengomentari situasi saat ini, Madhav mengatakan prioritas pertama pemerintah menjaga perbatasan.

Bahkan, dengan kewaspadaan tinggi dan kekuatan terbaik untuk memastikan tidak ada kekerasan lebih lanjut dan korban jiwa di perbatasan dengan China.

"Prioritas pertama kami menjaga perbatasan dengan kewaspadaan dan kekuatan penuh." ujarnya.

"Juga untuk memastikan tidak ada kekerasan lebih lanjut dan korban jiwa di perbatasan."

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved