Breaking News:

Jurnalisme Warga

Wisata Bahari Ujong Batee di Era ‘New Normal’

SEKOTAK nasi kuning hangat, serantang tuna asam manis suir-suir, segepok omelet, tak lupa tauco udang, dan kerupuk mulieng sebagai penyemarak

Wisata Bahari Ujong Batee di Era ‘New Normal’
IST
AYU ‘ULYA, Pengurus Bidang SDM Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Aceh dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari Singkil

OLEH AYU ‘ULYA, Blogger, Koordinator Komunitas Perempuan Peduli Leuser (PPL), dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Aceh Besar

SEKOTAK nasi kuning hangat, serantang tuna asam manis suir-suir, segepok omelet, tak lupa tauco udang, dan kerupuk mulieng sebagai penyemarak. Semua makanan sudah siap sedia dikemas dalam sekantong tas kain (goodie bag). Botol-botol minum pun telah terisi air sejak subuh tadi. Persediaan konsumsi untuk Wisata Bahari Era ‘New Normal’ lengkap sudah.

Minggu, pukul 09.00 WIB, mentari bergerak penuh percaya diri menuju posisi sepenggalah. Saya dan keluarga untuk pertama kalinya memberanikan diri menapakkan kaki ke luar rumah untuk menghirup kembali udara segar lautan. Membuang penatnya hari-hari lockdown selama momentum #DiRumahAja. Ingin segera melepas rindu setelah panjangnya waktu ‘puasa wisata’.

Roda-roda motor berputar lincah, seakan mereka ikut bergembira menyapa kembali jalanan panjang perbukitan menuju Pantai Ujong Batee di kawasan Aceh Besar (14/6/2020). Jaraknya yang tak terlalu jauh dari Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam. Biaya masuk yang terhitung bersahabat menjadikan Ujong Batee layak dijuluki Pantai Sejuta Umat.

Waswas, tapi gembira. Itulah hal pertama yang terlintas di pikiran saat memutuskan untuk kembali menikmati kunjungan wisata. Walau pemberitaan zona hijau Covid-19 bagi Aceh sudah menghebohkan jagat maya, tapi tentu kita tak boleh lengah menjaga kesehatan dan keselamatan diri dari potensi ganasnya pandemi Covid-19.

Pukul 09.30 WIB, saat ketiga motor yang kami kendarai berhenti di perbatasan pintu gerbang Pantai Ujong Batee. Penjaga merobek beberapa karcis yang tertera nominal Rp 3.000/orang di setiap lembarnya. Sembari menunggu uang kembalian, mata saya tertuju ke sebuah imbauan berhuruf kapital di selembar spanduk di sisi kanan gerbang, ‘PENGUNJUNG WAJIB PAKAI MASKER’. Beruntung kami pakai masker sehingga diizinkan masuk. Namun, ada juga pengunjung yang tak pakai masker. Anehnya, mereka juga diizinkan masuk.

Melewati gerbang, sayup-sayup silir angin pantai bercampur aroma segar pepohonan pinus menjulang menggerogoti indra penciuman. Rasanya begitu lega. Entah karena udara pagi pesisir yang bersih atau karena efek rindu yang terobati. Tiga bulan tanpa kunjungan wisata bukanlah hal mudah. Terutama bagi saya sekeluarga yang terbiasa rwisata bahari minimal sebulan sekali.

Sekilas pandang saya sadari bahwa ada beberapa hal yang berubah cukup signifikan di area wisata pantai Ujong Batee menjelang era new normal. Salah satunya adalah tata letak gazebo yang sudah semakin elok. Balai beratap tanpa dinding berukuran sekitar 2,5 meter persegi itu kini berjajar rapi dalam satu saf dengan jarak satu meter di setiap selangnya. Kemudian terlihat juga beberapa tong sampah berbahan aluminium yang memberi ruang terpisah bagi sampah organik dan plastik, di sekitar kawasan wisata tersebut.

Namun sayangnya, walau secara keseluruhan lokasi wisata bahari ini terkesan cukup bersih, pemandangan pesisir pantai masih terganggu sampah-sampah kemasan plastik dan bekas popok bayi yang dimuntahkan kembali ke daratan oleh ombak lautan. Seperti yang kita ketahui laut selalu enggan menerima sampah. Dengan keindahan yang diberi dan anugerah isi perutnya yang memberkati kehidupan manusia, lautan memang tak selayaknya dirusak. Jika tak mampu memperindah mahakarya yang telah Allah cipta, minimal kita tidak turut menghancurkannya. Aksi sadar wisata dan kolaborasi penjagaan bahari oleh pemerintah dan masyarakat selalu lebih penting daripada sekadar imbauan indah promosi dan selebrasi. Apalagi jika mengingat ancaman Omnibus Law dan Pencabutan Larangan Cantrang bagi keselamatan masa depan lautan Indonesia, tak terkecuali Aceh. Tentu penjagaan lautan tidak cukup hanya dengan mengandalkan peringatan Hari Laut Sedunia setiap tanggal 8 Juni saja.

Kembali ke pembicaraan prosesi perjalanan wisata bahari Ujong Batee sebelumnya. Walau sejak berangkat dari rumah kami sudah membawa bekal sendiri sebagai antisipasi kalau-kalau tidak ada warung yang buka, ternyata kami salah. Para pedagang di kawasan Ujong Batee nyatanya sudah aktif bekerja kembali selepas Idulfitri 1440 H. Begitu keterangan yang saya dapatkan dari salah satu pemilik warung yang gazebonya kami tempati. Informasi serupa juga saya peroleh dari seorang penjual asongan yang merupakan penduduk di wilayah kawasan wisata ini.

Menurutnya, kawasan wisata Ujong Batee mulai aktif kembali sejak dua pekan lalu, tepatnya akhir Mei 2020. Selama karantina pandemi Covid-19, sejatinya aktivitas wisata kawasan pantai tersebut ditutup, meski masih ditemukan pengunjung yang datang ke pantai secara ilegal.

Pemandangan unik yang saya dapati pada momen perdana wisata bahari Ujong Batee sejak berlakunya new normal  adalah ramainya keluarga yang membawa anak-anak berwisata. Biasanya pengunjung Ujong Batee membeludak dari siang hingga ke sore hari. Namun kali ini, pantai sudah ramai sejak pagi. Anak-anak tampak begitu antusias. Ada yang membangun istana pasir, ada juga yang asyik gali lubang untuk menampung air laut sebanyak mungkin. Ada pula yang mengejar ombak lalu berteriak kegirangan seketika ombak mengejar balik, ada yang berenang sampai lupa diri, dan ada pula yang tetap berada di gazebo sembari menyantap makanan dan menikmati keindahan Pulau Weh dari kejauhan yang terlihat begitu memukau.

Dengan jarak antargazebo yang cukup aman, ditambah dengan kesadaran para keluarga untuk menjaga jarak masing-masing, wisata bahari walau memasuki era new normal  masih terasa melegakan. Setiap keluarga membuat zonasi bermain dan mandi sendiri-sendiri. Semacam momen bersendiri ramai-ramai. Hal tersebut tampaknya dilakukan murni karena kesadaran para pengunjung. Mengingat tidak terdapat protokol khusus terkait kegiatan wisata selama masa pencegahan Covid-19 bagi pengunjung dari pengelola tempat wisata setempat.

Meski terdapat opini pro dan kontra terkait mulai menggeliatnya kembali aktivitas masyarakat di luar rumah menjelang persiapan new normal Covid-19, tampaknya hal terpenting saat ini adalah untuk terus membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga jarak, mempertahankan kesehatan tubuh, dan merawat kebersihan personal serta lingkungan. Mengingat tak semua orang mampu bertahan hidup jika harus terus-menerus dibatasi melakukan aktivitas di rumah saja.

Adapun untuk area wisata bahari Ujong Batee, fasilitas kamar mandi tampaknya belum cukup memadai. Fasilitas wastafel dan sabun untuk mencuci tangan pun belum tersedia. Agaknya untuk menggerakkan kembali pariwisata, pemerintah dan segenap pengelola kawasan wisata juga harus kembali berembuk mempersiapkan kebijakan pariwisata yang sesuai aturan new normal. Sehingga ke depannya masyarakat tetap bisa berwisata dengan aman dan ekonomi masyarakat setempat juga dapat kembali menggeliat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved