Kamis, 11 Juni 2026

Luar Negeri

China Adili Dua Pria Kanada, Dituduh Sebagai Spionase

China telah mulai menuntut dua pria Kanada yang ditahan sejak 2018 atas tuduhan mata-mata.Langkah itu akan meningkatkan ketegangan antara Beijing

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/Jason Redmond
Warga Vancouver, Turnisa Matsedik-Qira menggelar demo menentang penangkapan dua pria Kanada oleh China, Michael Spavor (kiri) dan Michael Kovrig pada 8 Mei 2019. 

SERAMBINEWS.COM, BEIJING - China telah mulai menuntut dua pria Kanada yang ditahan sejak 2018 atas tuduhan mata-mata.

Langkah itu akan meningkatkan ketegangan antara Beijing dan Ottawa.

Kejaksaan Agung Rakyat China, Jumat (19/6/2020) mengatakan:

"Mantan diplomat Michael Kovrig dan pengusaha Michael Spavor dicurigai sebagai spionase asing dan membocorkan rahasia negara."

Penangkapan mereka terjadi setelah otoritas Kanada menangkap kepala keuangan Huawei Technologies, Meng Wanzhou, di Vancouver dengan surat perintah AS.

Pendukung kedua orang Kanada itu menuduh Beijing menggunakan mereka sebagai sandera diplomatik .

Mr Kovrig, seorang pekerja LSM hak asasi manusia dan mantan diplomat dan Mr Spavor konsultan Korea Utara ditahan 10 Desember 2018.

Pada saat itu, Beijing dituduh ingin membalas dendam atas penangkapan Meng di Kanada, yang bekerja untuk perusahaan komunikasi China, Huawei.

Jaksa penuntut AS ingin Meng diekstradisi dari Vancouver, di mana dia dengan jaminan, sehingga bisa menghadapi tuduhan penipuan.

Pada Desember 2019, Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan telah mengakhiri penyelidikan terhadap kedua pria itu.

Tetapi, kasusnya telah diserahkan kepada jaksa penuntut umum.

China Bangun Bendungan Raksasa, Tutup Aliran Sungai Galwan ke India

India Putuskan Hubungan dengan Perusahaan Kereta Api dan Telekomunikasi China

China Ubah Zona Perang, Dari Darat ke Cyber, Serang Situs Pemerintah dan Perbankan India

Kasus Mr Kovrig sedang ditangani oleh jaksa penuntut di Beijing, dan Mr Spavor di Provinsi Liaoning .

Kanada menyebut penangkapan itu "sewenang-wenang".

Bulan lalu, Meng kehilangan upaya hukum untuk menghindari ekstradisi ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan penipuan bank.

Hal itu memupus harapan untuk mengakhiri tahanan rumahnya di Vancouver.

Dia baru-baru ini mengajukan argumen baru di pengadilan Kanada untuk melawan ekstradisi.

Pada Januari 2020, ruang sidang Vancouver menjadi medan pertempuran yang tidak mungkin untuk meningkatkan ketegangan antara Tiongkok dan Barat.

Ketika seorang hakim Kanada mulai mendengarkan bukti tentang apakah akan mengekstradisi Meng.

Pihak berwenang Kanada menangkap Meng, putri tertua pendiri Huawei, pada akhir 2018 ketika transit di bandara Vancouver, atas permintaan ekstradisi dari AS.

Pihak berwenang Amerika menuduh "puteri Huawei" itu melakukan penipuan atas tindakan yang diduga melanggar sanksi AS terhadap Iran.

Sejak itu, badai diplomatik telah melibatkan China, Kanada, dan AS .

Beijing sangat marah dengan penangkapan Meng dan menuntut pembebasannya.

China yakin kasusnya bermula dari motivasi politik untuk menahan kebangkitan Tiongkok.

Tidak lama setelah penangkapannya, pihak berwenang Tiongkok, menahan dua orang Kanada yang tinggal di Tiongkok dan menuduh mereka melakukan spionase.

Hubungan diplomatik antara Kanada dan China mencapai titik terendah seusai penangkapan tersebut, merusak perdagangan antara kedua negara.

Kunjungan konsuler bulanan untuk Kovrig dan Spavor telah ditangguhkan sejak wabah virus Corona dimulai di China.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan pada April, di tengah kekhawatiran akan kesehatan mereka yang terus memburuk.

Tetapi Kementerian Luar Negeri China bersikeras keduanya dalam keadaan sehat, bahwa fasilitas penahanan tidak terpengaruh oleh Covid-19.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved