Selasa, 28 April 2026

Berita Abdya

Harga TBS Sawit di Abdya Anjlok dari Harga Ditetapka Pemerintah, DPRK Abdya Datangi Distanbun Aceh

"Rp 700 per kilo itu sudah paling mahal, tapi kisarannya sekarang Rp 650 per kilogram," ujar Muffid, seorang petani di Babahrot, Abdya.

Penulis: Rahmat Saputra | Editor: Mursal Ismail
For Serambinews.com
Wakil Ketua DPRK Abdya, Hendra Fadli (baju batik) menyerahkan dokumen harga TBS kepada kepala Distanbun Aceh, A Hanan SP MM saat anggota DPRK Abdya, mendatangi Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Jumat (19/6/2020). 

"Jadi, kedatangan kami ingin mempertanyakan, apa sebab harga sawit di Abdya, begitu anjlok, sementara pemerintah Aceh, sudah menetapkan harga TBS," ujar wakil ketua DPRK Abdya, Hendra Fadli SH.

Untuk itu, ia meminta tim turun provinsi dan melakukan sidak ke sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS), mengingat persoalan TBS ini terjadi hampir seluruh kabupaten.

"Pengakuan Pak Kadis dalam pertemuan itu, bahwa mereka dalam menetapkan harga selalu mengundang perwakilan kabupaten kota.

Kita berharap, pihak dinas kabupaten setiap pertemuan harus pro-aktif memperjuangkan nasib petani sawit," kata politisi Partai Aceh itu.

Selain itu, katanya, solusi lain adalah, Pemkab Abdya harus mendorong seluruh petani sawit menjalin kemitraan dengan Pabrik Kelapa Sawit.

"Mungkin solusi terakhir harus ada kerja sama dengan PKS atau harus memiliki PKS sendiri, adalah solusi sangat tepat, karena lebih mudah mengawasi, kalau mereka tak mematuhi, bisa kita cabut izinnya," terangnya.

Meski begitu, ia juga memimta Distanbun Aceh juga serius, mengawasi harga yang telah ditetapkan.

"Kalau tidak diawasi terkesan seperti macan ompong, tanpa ada makna dan manfaat bagi petani," tegasnya.

Bahkan, Ia berharap pemerintah Aceh harus memberikan sanksi, bagi perusahan sawit yang belum menampung TBS sesuai yang ditetapkan pemerintah.

Sanksi yang harus diberikan kepada perusahaan yang melanggar, bisa berupa stop produksi selama sebulan, atau cabut izinnya.

"Langkah tegas seperti ini patut dilakukan, sebagai efek jera bagi perusahaan, sehingga mereka tidak semena-mena kepada petani," pungkasnya. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved