Mahasiswa ISBI: Tari Kontemporer Tetap Punya Ruang di Aceh
Walau masih terbatas, tari kontemporer mulai diterima di Aceh. Dibanding daerah lain, Aceh memang tergolong terlambat mendapat perkembangan...
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Walau masih terbatas, tari kontemporer mulai diterima di Aceh. Dibanding daerah lain, Aceh memang tergolong terlambat mendapat perkembangan kontemporer di bidang tari.
Pendapat ini disampaikan dua seniman tari kontemporer Aceh, Fadhlan dan Safrizal dalam “Bincang Tari Aceh” secara virtual, Kamis (19/6/2020). Pembicara lain Nana Noviana, Ulfa Khaliqa, Fendi Buana. Bincang-bincang itu dipandu Murtala, seniman Aceh di Australia.
Safrizal, mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, mulai tertarik tari kontemporer saat kuliah di ISBI.
Ia mengakui pengetahuan tari kontemporer di Aceh masih sangat kurang. Ia mengaku baru paham kontemporer setelah semester III ISBI.
“Sampai semester III saya masih buta kontemporer. Apa itu dan belum lihat pertunjukan kontemporer di Aceh. Hanya tahu teori dari kampus. Tertarik kontemporer saat 2016, dan mulai belajar,” cerita Safrizal.
Suatu waktu ia berangkat ke Kalimantan Timur mengikuti forum tari kontemporer. Safrizal menyadari, bahwa karya yang ia tampilkan di forum itu, masih di bawah standar. Karena itu ia terus menggali dan belajar.
Sebetulnya menurut Safrizal, Aceh selain kuat dengan tari tradisi, juga punya tokoh-tokoh tari kreasi, seperti almarhum Yusrizal. Salah satu tari kreasi Aceh adalah “Merusare-sare” yang pernah dapat juara 1 nasional.
“Tapi sejak itu kita tidak pernah dengar lagi ada karya kontemporer di tingkat nasional dari Aceh,” ujar Safrizal.
Seperti Safrizal, pengalaman serupa dialami Fadhlan, juga mahasiswa ISBI Aceh. Ia juga mulai menaruh minat kontemporer sejak kuliah di ISBI.
“Di kampus kita apresiasi karya-karya dosen dan beberapa kali ikut forum tari kontemporer di luar Aceh,” ujar Fadhlan.
Menurutnya, meski terlambat, tari kontemporer tetap punya ruang di Aceh. Beberapa kali menggelar tari kontemporer, peminatnya selalu ada. “Meski di sisi lain banyak juga yang tidak berminat,” ujar Fadhlan.
Fadhlan dan Safrizal optimis bahwa tari kontemporer akan tetap berkembang di Aceh, walau tidak sesemarak tari tradisi.
“Tari kontemporer sudah diterima. Asalkan tidak terlalu vulgar terutama kostum. Aceh harus punya pemahaman dengan ranah kontemporer ini,” kata Safrizal.(*)
• Iran Uji Coba Rudal Jarak Jauh, Menhan: Musuh-musuh Semakin Takut Kepada Kami
• Sering Dianggap Sehat, Ternyata Konsumsi Telur Ayam Setiap Hari Dapat Sebabkan Penyakit Mematikan
• Indra Sjafri Mengaku Diusir Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae Yong, Begini Kejadiannya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/jalannya-bincang-bincang-tari-aceh-secara-virtual.jpg)