Senin, 1 Juni 2026

Luar Negeri

Kasus Virus Corona Arab Saudi Terus Meroket, Kematian Capai 1.267 Orang

Kasus virus Corona Arab Saudi terus meroket dalam sepekan terakhir ini, khususnya jumlah kematian mencapai 1.267 orang.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP
Mobil melaju di jalanan pada hari pertama pencabutan jam malam di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, Minggu (21/6//2020). 

SERAMBINEWS.COM, RIYADH - Kasus virus Corona Arab Saudi terus meroket dalam sepekan terakhir ini, khususnya jumlah kematian telah mencapai 1.267 orang.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Arab Saudi, Minggu (21/6/2020) malam mengumumkan korban harian virus Corona.

Dalam laporan itu, tercatat 37 pasien virus Corona Arab Saudi meninggal dunia, sehingga jumlahnya telah mencapai 1.267 orang.

Hari Minggu (21/6/2020) merupakan hari pertama pencabutan jam malam, kecuali Mekkah dan Jeddah.

Dalam laporan disebutkan, sebanyak 3.379 warga Arab positif virus Corona, seiring skrining digencar dilaksanakan.

Dengan demikian jumlah total korban virus Corona Arab Saudi sudah berjumlah 157.612 orang.

Kemenkes Arab Saudi juga mengumumkan 2.213 pasien telah pulih dari virus Corona.

Sehingga jumlah total pemulihan menjadi 101.130 orang atau 64 persen dari total korban virus Corona.

Dari jumlah itu, masih terdapat pasien virus Corona yang dirawat dengan jumlah 56.482 orang.

Dalam konferensi pers Minggu (21/6/2020), Kemenkes Arab saudi mengatakan warga harus tetap berhati-hati atas pencabutan jam malam.

Kasus Virus Corona Arab Saudi Melonjak Jadi 154.233 orang

Arab Saudi Cabut Jam Malam Minggu Pagi, Mekkah dan Jeddah Masih Dibatasi

Arab Saudi Tetapkan Fase Ketiga New Normal, 21 Juni Jam Malam Dicabut, Kecuali Mekkah dan Jeddah

Dia menegaskan harus mempertahankan kebiasaan baru untuk menghadapi virus Corona.

Dikatakan, harus tetap menjaga jarak sosial untuk melawan penyebaran virus.

Kemenkes kembali menegaskan Kerajaan telah menjadi normal, tetapi memperingatkan bahaya belum berlalu.

Sedangkan Kementeria Kesehatan Iran, Minggu (21/6/2020 melaporkan lebih dari 100 kematian baru akibat virus Corona selama tiga hari berturut-turutu.

Dikatakan, wabah belum mencapai puncaknya di negara yang terus dilanda bencana, baik ekonomi atau pun virus Corona.

Iran melaporkan pertama kali pada 19 Februari dan sejak itu berjuang untuk mengatasi wabah itu, yang paling mematikan di Timur Tengah.

Republik Islam itu mencatat jumlah kematian satu hari terendah pada awal Mei, sebelum melihat peningkatan baru dalam beberapa pekan terakhir ini,

Juru bicara kementerian kesehatan Sima Sadat Lari mengatakan, 116 kematian yang dilaporkan pada Minggu (21/6/2020), telah membuat jumlah keseluruhan menjadi 9.623 orang.

Namun Menteri Kesehatan Said Namaki membantah menghadapi gelombang kedua dengan mengatakan
"puncak penyakit belum berlalu.

"Bahkan di provinsi-provinsi di mana kami pikir gelombang pertama ada di belakang kami, kami belum sepenuhnya mengalami gelombang pertama," katanya seperti dikutip oleh kantor berita semi-resmi ISNA.

Otoritas Iran tidak memberlakukan kuncian, tetapi menutup sekolah, membatalkan acara publik dan melarang gerakan di 31 provinsi negara itu pada Maret 2020.

Tetapi telah dicabut bertahap mulai April 2020.

Menurut Lari, empat provinsi - Khuzestan, Hormozgan, Kermanshah dan Azerbaijan Timur - saat ini "merah," tingkat tertinggi pada skala risiko kode virus Corona.

Dia menambahkan 2.368 infeksi baru telah dikonfirmasi, menjadikan 204.952 total kasus.

Masih Ada keraguan di dalam dan luar negeri tentang angka resmi Iran, dengan kekhawatiran jumlah sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.

Sementara, Kementerian Kesehatan Maroko melaporkan 539 kasus virus Corona baru,

Itu menjadi kenaikan harian terbesar, sebagian besar dari di sebuah cluster di utara Ibu Kota Rabat.

Saati ini 9.613 kasus yang dikonfirmasi di Maroko, dengan tingkat kematian 2,2% dan tingkat pemulihan 84,5%, menurut angka resmi.

Pemerintah telah melonggarkan beberapa tindakan penguncian di daerah infeksi rendah.

Tetapi tetap melarang orang meninggalkan rumah tanpa izin di daerah dengan lebih banyak kasus, termasuk beberapa kota besar.

Area di sekitar klasster, sekitar 150 km utara ibukota, dicakup penguncian lebih sulit dilakukan di daerah pedesaan.

Sebagian besar bisnis bekerja lagi, tetapi restoran, kafe, bioskop, dan perusahaan lain di sektor layanan vital tetap tutup bersama bandara.

Bisnis telah diminta untuk menguji semua karyawan mereka, karena negara meningkatkan kapasitas pengujian harian menjadi lebih dari 17.500 tes.

Maroko juga membuka rumah sakit lapangan untuk mempercepat perawatan korban virus Corona.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved