Breaking News:

Berita Luar Negeri

Amerika Borong Remdesivir untuk Obat Covid-19, Tiap Paket Dibandrol Rp 45 Juta

Oleh pihak berwenang di AS, obat produksi Gilead Sciences itu merupakan obat pertama yang diperbolehkan untuk dipakai merawat pasien Covid-19.

SHUTTERSTOCK/felipe caparros
Ilustrasi remdesivir yang awalnya dikembangkan untuk obat antivirus ebola, kembali menunjukkan hasil uji klinis positif dalam penggunaannya untuk mengobati infeksi virus corona baru pada pasien Covid-19.(SHUTTERSTOCK/felipe caparros) 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON- Pemerintah Amerika Serikat telah memborong hampir semua pasokan obat remdesivir untuk pasar global.

Oleh pihak berwenang di AS, obat produksi Gilead Sciences itu merupakan obat pertama yang diperbolehkan untuk dipakai merawat pasien Covid-19.

"Presiden Trump telah membuat kesepakatan menakjubkan guna memastikan warga Amerika punya akses pada obat pertama yang diotorisasi untuk Covid-19," kata Menteri Kesehatan AS, Alex Azar, dalam laman resmi Departemen Kesehatan (Depkes) AS, Selasa (30/6/2020).

Obat Corona Dijual Bebas Bulan Agustus

Obat Remdesivir Diklaim Efektif Obati Pasien Covid-19 dan Mulai Dijual, Berapa Harganya?

Ilmuwan Australia Temukan Obat Corona, Ivermectin Bisa Hentikan Pertumbuhan Virus dalam 48 Jam

Disebutkan laman tersebut, Depkes AS telah mengamankan 500 ribu paket obat remdesivir untuk rumah sakit di AS sampai September mendatang.

Jumlah itu mencakup 100 persen produksi Gilead pada Juli, 90 persen produksi Agustus, dan 90 persen produksi pada September.

Sebagai gambaran, satu paket obat remdesivir rata-rata meliputi 6,25 ampul. Gilead Sciences mengumumkan harga remdesivir, pada Senin (29/6). Untuk negara-negara kaya, satu paket obat tersebut dibanderol 2.340 dolar AS atau hampir Rp 39 juta.

Bagi pasien di AS yang menggunakan asuransi komersial, Gilead menghargai 3.120 dolar per paket atau sekitar Rp 45 juta.

Itu artinya satu ampul dibanderol 520 dolar alias Rp7,5 juta. Dalam surat terbukanya, Direktur Eksekutif Gilead, Daniel O'Day, mengatakan harga tersebut jauh di bawah manfaat yang diberikan remdesivir mengingat seorang pasien dapat memperpendek rawat inap di rumah sakit AS sehingga bisa menghemat 12 ribu dolar atau Rp 173,6 juta.

Iran Umumkan Telah Uji Obat Corona Buatan Dalam Negeri, Begini Kondisi Pasien Dalam 48 Jam

Tumbuh Subur di Jabar, Tanaman Kina Berpotensi Jadi Obat Corona, Kandungannya Mirip Penawar di Wuhan

Vaksin Ebola Dicoba ke Pasien Covid-19

Namun sebagian kalangan berkeras biaya remdesivir seharusnya bisa lebih rendah karena obat itu dikembangkan dengan sokongan keuangan dari pemerintah AS.

Lloyd Dogget, anggota DPR AS dari Partai Demokrat yang mewakili Negara Bagian Texas, mengatakan, "Harganya keterlaluan untuk obat yang sangat sederhana dan yang diselamatkan dari tumpukan kegagalan, menggunakan pendanaan dari uang rakyat."

Halaman
12
Editor: Said Kamaruzzaman
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved